Kisah Hakim, Mahasiswa UIN Bandung yang Kuliah Sambil Bekerja Jadi Badut
Hakim, mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kuliah sambil bekerja sebagai badut hingga lulus dengan IPK 3,50 dan bercita-cita jadi PNS.

Periskop.id - Ada pemandangan berbeda dalam momen wisuda Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Hakim, salah satu wisudawan, hadir mengenakan toga lengkap dengan riasan badut yang selama ini menjadi bagian dari perjuangannya membiayai dan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
Di balik penampilannya yang mencuri perhatian, Hakim menyimpan cerita tentang perjuangan membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan. Selama menempuh pendidikan, ia tetap bekerja sebagai badut hingga akhirnya berhasil menyelesaikan studi dan meraih gelar sarjana.
Hakim merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab. Setelah melewati proses perkuliahan hingga pengerjaan skripsi, ia berhasil lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,50.
Menjalani dua aktivitas sekaligus tentu bukan perkara mudah. Hakim mengaku harus benar-benar memanfaatkan waktu kosong agar pekerjaan sebagai badut tidak menghambat penyelesaian studinya.
"Cari waktu luang dan luangkan waktu, meskipun berat, dan lawan rasa malas," ujar Hakim kepada Periskop.id pada Rabu (16/9).
Prinsip sederhana tersebut menjadi salah satu cara Hakim menyelesaikan tanggung jawab akademiknya di tengah kesibukan bekerja. Ia tetap menjalani profesinya sembari mengerjakan skripsi hingga akhirnya bisa berdiri sebagai wisudawan.
Riasan badut yang dikenakannya saat wisuda pun seakan menjadi simbol perjalanan panjang tersebut. Profesi yang selama kuliah menjadi bagian dari kehidupannya tidak ingin begitu saja ditinggalkan setelah menyandang gelar sarjana.
Meski demikian, Hakim telah memiliki cita-cita lain untuk karier utamanya. Ia berharap suatu hari dapat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).
"Impian pingin jadi PNS, namun tidak melupakan profesi badut. Badut bisa jadi side job," ungkapnya.
Keinginan tersebut menunjukkan bahwa bagi Hakim, menyelesaikan pendidikan bukan berarti harus meninggalkan pekerjaan yang telah menemaninya selama kuliah. Profesi badut masih ingin dipertahankan sebagai pekerjaan sampingan, sementara gelar sarjana yang kini dimilikinya menjadi bekal untuk mengejar impian berikutnya.
Perjalanan Hakim menjadi gambaran bahwa proses meraih gelar sarjana dapat datang dengan cerita yang berbeda-beda. Baginya, toga dan riasan badut dalam satu momen wisuda menjadi penanda dua perjalanan yang selama ini berjalan beriringan, yakni pendidikan dan pekerjaan.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Pekerjaan dengan mengeklik tautan.

Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.