periskop.id – Ketua DPR RI, Puan Maharani meminta pemerintah perlu bergerak cepat dalam menghadapi keberadaan Hantavirus.
Termasuk dalam memberikan informasi yang tepat mengenai Hantavirus yang kini memicu kekhawatiran publik.
Langkah tersebut krusial guna memastikan masyarakat tetap tenang, sekaligus menjamin kesiapan infrastruktur kesehatan guna mengantisipasi penyebaran.
“Pemerintah harus hadir lebih cepat dalam memberikan kepastian informasi dan perlindungan masyarakat dalam menghadapi ancaman Hantavirus. Termasuk ketepatan informasi agar masyarakat tenang dan tidak panik dengan munculnya kasus virus ini,” kata Puan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (11/5).
Puan menilai negara wajib menjaga kepercayaan publik melalui langkah antisipasi terukur. Sosialisasi yang jelas menjadi kunci agar warga tidak terjebak dalam spekulasi yang membingungkan.
“Tantangan terbesar dalam menghadapi munculnya ancaman penyakit yang belum umum perlu dilakukan dari berbagai aspek,” jelas perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI tersebut.
Menurutnya, penanganan tidak boleh hanya berfokus pada sisi medis semata. Kemampuan negara memberikan perlindungan yang nyata sangat dinantikan oleh masyarakat saat ini.
“Bukan hanya pada aspek medis saja, tetapi juga pada kemampuan Negara menjaga kepercayaan masyarakat melalui informasi yang jelas,” imbuh Puan.
Isu Hantavirus mencuat secara global setelah menyerang penumpang kapal pesiar mewah MV Hondius di Samudera Atlantik. Peristiwa yang menelan tiga korban jiwa tersebut memicu kewaspadaan dunia karena varian Andes virus dapat menular antarmanusia.
Hantavirus sendiri merupakan kelompok virus dari genus Orthohantavirus yang dibawa hewan pengerat. Penyakit zoonosis ini berpindah dari hewan seperti tikus dan celurut ke manusia.
Indonesia ternyata sudah mengidentifikasi keberadaan virus ini di dalam negeri. Kementerian Kesehatan mengungkapkan terdapat 23 kasus yang tersebar di sembilan provinsi berbeda.
Meskipun tercatat ada tiga kematian dalam tiga tahun terakhir, jenis virus di tanah air berbeda dengan wabah di MV Hondius. Puan meminta penanganan di Indonesia dilakukan dengan pendekatan terbuka.
“Negara perlu memastikan setiap informasi mengenai penyakit menular disampaikan secara transparan dan bertanggung jawab agar tidak memunculkan ketakutan maupun kebingungan,” pesan Puan.
Puan meminta pemerintah segera memetakan pola penularan dan menentukan kelompok paling rentan. Pemahaman utuh bagi masyarakat akan mempermudah langkah pencegahan secara mandiri.
“Bagaimana pola penularannya, siapa kelompok yang paling rentan, bagaimana langkah pencegahannya, dan sejauh mana tingkat risikonya bagi masyarakat umum,” ungkapnya.
Puan menegaskan, keterbukaan informasi merupakan bagian dari perlindungan publik. Tanpa penjelasan memadai, disinformasi akan berkembang lebih cepat daripada penanganan medis.
Sosialisasi kesehatan harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam. Komunikasi publik tidak boleh hanya berisi istilah teknis yang sulit diakses.
“Penting agar Pemerintah memperkuat komunikasi publik kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat dan mudah dipahami. Sosialisasi harus menyentuh langsung akar rumput,” papar Puan.
Tinggalkan Komentar
Komentar