Pengungsi Gempa NTT Tembus 40.040 Jiwa, Kemensos Jamin Tak Ada yang Kelaparan
Pengungsi gempa NTT mencapai 40.040 jiwa. Kemensos mengerahkan bantuan lebih dari Rp14 miliar, 48 ton beras dan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan warga

Periskop.id- Kementerian Sosial (Kemensos) memperkuat pasokan pangan dan kebutuhan dasar bagi puluhan ribu warga yang mengungsi akibat gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dukungan yang dikerahkan hingga Selasa (18/8) telah melampaui Rp14 miliar, termasuk 48 ton beras, 7.500 paket sembako, serta pengoperasian dapur umum di sejumlah kabupaten terdampak.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan jumlah warga di pengungsian terus bertambah seiring pendataan dan masih tingginya kekhawatiran masyarakat terhadap gempa susulan.
"Ada 31.000 lebih orang yang mengungsi. Per hari ini sudah ada Rp14 miliar lebih dukungan dari Kementerian Sosial," ucapnya, Selasa.
Angka yang disampaikan Kemensos tersebut kemudian diperbarui oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam konferensi pers Selasa sore, BNPB mencatat 40.040 jiwa berada di pengungsian. BNPB menegaskan jumlah tersebut tidak seluruhnya berkaitan dengan rumah yang rusak karena sebagian masyarakat mengungsi akibat kekhawatiran dan dampak psikologis pascagempa.
Pengungsi tersebar antara lain di Manggarai sebanyak 6.487 jiwa, Manggarai Timur sekitar 14.966 jiwa termasuk pengungsi mandiri, Nagekeo 6.221 jiwa, Sikka 5.681 jiwa, Ngada 1.920 jiwa, Manggarai Barat 600 jiwa, dan Ende 366 jiwa. Data tersebut masih bersifat sementara dan terus diperbarui.
Tiga Dapur Umum Produksi 9.500 Bungkus per Hari
Pemenuhan makanan menjadi salah satu fokus utama Kemensos. Tujuh dapur umum disiapkan di Kabupaten Manggarai, Sikka, Nagekeo, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ende, dan Ngada dengan kapasitas yang disesuaikan terhadap jumlah pengungsi di masing-masing wilayah.
Dari tiga lokasi yang sudah terpantau aktif pada Selasa, kapasitas produksinya mencapai sekitar 9.500 bungkus makanan setiap hari. Dapur umum di Sikka menyiapkan sekitar 4.500 bungkus per hari, Manggarai 3.000 bungkus, sedangkan Nagekeo sekitar 2.000 bungkus.
“Dapur umum terus kita operasikan untuk melayani masyarakat yang masih berada di pengungsian. Kebutuhan makanan harus tersedia, begitu juga tenda, pakaian, selimut dan kebutuhan kelompok rentan,” kata Gus Ipul.
Kemensos menyatakan, kapasitas produksi dapat ditambah apabila kebutuhan meningkat. Skema tersebut penting karena sebagian masyarakat memilih mengungsi secara mandiri di luar posko terpusat sehingga distribusi makanan tidak hanya dilakukan pada satu lokasi.
"Kementerian Sosial bekerja sama dengan pemerintah daerah, TNI-Polri di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Kami berkoordinasi, berkolaborasi memastikan bahwa seluruh dukungan bisa sampai kepada mereka atau keluarga yang terdampak. Termasuk dapur darurat masyarakat juga pasokan logistiknya kami dukung, dicukupi," tuturnya.

Bantuan Naik dari Rp4,52 Miliar Jadi Lebih dari Rp14 Miliar
Nilai dukungan Kemensos terus meningkat sejak hari pertama bencana. Pada Minggu (16/8), bantuan logistik yang dimobilisasi masih tercatat sekitar Rp4,52 miliar, meliputi makanan siap saji, tenda keluarga, kasur, selimut, perlengkapan anak dan dewasa, serta tambahan 48 ton beras.
Sehari kemudian, setelah memasukkan kebutuhan operasional dapur umum dan rencana santunan bagi korban, total dukungan indikatif meningkat menjadi sekitar Rp13,21 miliar. Kemensos ketika itu juga menyiapkan santunan Rp15 juta untuk setiap ahli waris korban meninggal dan Rp5 juta bagi korban luka setelah melalui verifikasi data.
Pada Selasa, Gus Ipul menyatakan, nilai bantuan sudah melampaui Rp14 miliar. Selain pangan, dukungan tersebut mencakup buffer stock, makanan anak, tenda keluarga, tenda serbaguna, kasur, selimut, perlengkapan keluarga hingga penerangan darurat.
Langkah memperbesar dukungan tersebut dilakukan ketika skala pengungsian melonjak dan kebutuhan masyarakat semakin beragam, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, perempuan, dan warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
11.925 Rumah Rusak, 70 Orang Meninggal
Skala kerusakan juga terus bertambah berdasarkan proses verifikasi terbaru. BNPB mencatat 11.925 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas 5.516 rumah rusak berat, 1.916 rusak sedang, dan 4.493 rusak ringan.
Sementara itu, data Basarnas yang dihimpun hingga Senin (17/8) pukul 23.30 WIB mencatat, 70 orang meninggal dunia dan 132 orang mengalami luka-luka. Korban luka terdiri atas 40 orang luka berat dan 92 luka ringan. Operasi SAR pada hari keempat kemudian lebih banyak diarahkan pada penyisiran karena tidak ada lagi laporan warga yang masih dinyatakan hilang atau dalam pencarian.
Besarnya jumlah korban dan pengungsi membuat distribusi bantuan harus menjangkau wilayah yang tersebar di Pulau Flores, termasuk daerah dengan karakter geografis yang sulit.
Pemerintah telah membentuk posko bantuan di Labuan Bajo untuk melayani Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Ngada. Posko Maumere difungsikan untuk Sikka, Ende, dan Nagekeo. Distribusi didukung jalur udara, laut, dan darat untuk mempercepat penyaluran bantuan.
Kepala BNPB Suharyanto sebelumnya memastikan jalur darat yang sempat tertutup longsor mulai dapat dilalui. Pemerintah juga menempatkan helikopter dan pesawat untuk mencapai lokasi yang sulit dijangkau serta mendorong distribusi melalui Pelabuhan Maumere.
Dengan jumlah pengungsi terbaru mencapai lebih dari 40.000 jiwa, kebutuhan pangan diperkirakan masih tinggi sepanjang masa tanggap darurat. Kemensos memastikan dapur umum dan pasokan logistik akan terus disesuaikan dengan perkembangan di lapangan agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama belum dapat kembali ke rumah masing-masing.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Syaifullah Yusuf, Kementerian Sosial (Kemensos), gempa bumi, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.

Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.