iklan periskop
Nasional

Kertajati Disiapkan Jadi Bengkel Pesawat Tempur TNI AU, Tak Cuma Hercules

Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menargetkan MRO Kertajati tak hanya merawat Hercules, tetapi juga menjadi pusat pemeliharaan pesawat tempur TNI AU

4 hari yang lalu · 4 mnt baca
Pesawat Tempur, Angkatan Udara, Militer, Pesawat Militer, Air Force
Warga menyaksikan pesawat tempur yang dipamerkan saat Open Base TNI AU di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (17/8/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id – Pemerintah menyiapkan fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) di Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, untuk berkembang menjadi pusat pemeliharaan pesawat tempur TNI Angkatan Udara. Rencana itu memperluas fungsi Kertajati yang sebelumnya dicanangkan sebagai pusat perawatan pesawat C-130 Hercules di kawasan Asia.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan pemerintah ingin kemampuan pemeliharaan alutsista udara secara bertahap dikuasai industri nasional. Rencana tersebut dibahas bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI), PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF), dan Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono, Rabu (19/8/2026).

"Ke depan bagaimana pemeliharaan pesawat tempur ini bisa juga kita lakukan secara berdiri sendiri," kata Sjafrie seusai menghadiri penyerahan pesawat Hercules C-130H A-1319 hasil modernisasi GMF kepada Kementerian Pertahanan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Menurut Sjafrie, langkah menuju pemeliharaan pesawat tempur secara mandiri merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemampuan industri pertahanan di dalam negeri. Modal awalnya mulai terlihat dari keberhasilan GMF mengerjakan modernisasi berat pesawat Hercules milik TNI AU.

Pada hari yang sama, GMF menyerahkan C-130H A-1319 setelah menjalani Center Wing Box Replacement, Avionic Upgrade Program, dan Structural Integrity Program. Pesawat tersebut menjadi C-130H kedua yang dimodernisasi GMF setelah A-1315, sekaligus prototipe pertama yang menjalani paket modifikasi besar tersebut di luar fasilitas Lockheed Martin. Pengerjaan itu juga diproyeksikan memperpanjang usia operasional pesawat sekitar 15 hingga 20 tahun.

Direktur Utama GMF Andi Fahrurrozi mengatakan proyek tersebut sekaligus meningkatkan kemampuan teknis perusahaan dalam menangani alutsista dengan tingkat kompleksitas tinggi.

“Melalui program ini, kami tidak hanya memastikan pesawat kembali memenuhi persyaratan kelaikan dan kesiapan operasional, tetapi juga terus memperkuat kompetensi engineering dan kapabilitas GMF untuk menangani proyek-proyek dengan tingkat kompleksitas dan keamanan yang tinggi seperti modernisasi C-130 Hercules,” ujar Andi.

GMF memperoleh transfer teknologi dari Lockheed Martin melalui program offset industri pertahanan, termasuk kemampuan instalasi Center Wing Box Replacement dan peningkatan avionik C-130H. Proses modernisasi A-1319 juga melibatkan koordinasi teknis dengan PTDI, TNI AU, Kemhan, dan Lockheed Martin.

Keberhasilan tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah melibatkan GMF dan PTDI dalam pengembangan MRO Kertajati. Sjafrie berharap fasilitas itu nantinya tidak hanya mampu menangani pesawat angkut, tetapi juga perawatan utama armada tempur TNI AU.

"Kita berupaya pengembangan kekuatan pertahanan ini kita tingkatkan dengan menggunakan kemampuan dari awak teknis yang berasal dari putra-putri bangsa Indonesia sendiri," ujar Sjafrie.

Pesawat Tempur, Angkatan Udara, Militer, Pesawat Militer, Air Force
Tentara merapikan bendera di pesawat tempur saat Open Base TNI AU di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (17/8/2026). Periskop/Arief Rachman

 

Kertajati Awalnya Disiapkan untuk Hercules

Rencana menjadikan Kertajati sebagai pusat MRO sebenarnya telah bergulir sejak beberapa bulan sebelumnya. Kementerian Pertahanan menyebut Bandara Kertajati dipilih sebagai salah satu calon pusat MRO C-130 Hercules karena memiliki lahan luas dan fasilitas penerbangan yang dinilai mendukung kegiatan pemeliharaan pesawat.

"Saat ini, terdapat rencana untuk menyiapkan kawasan Bandara Kertajati sebagai salah satu pusat MRO pesawat C-130/Hercules. Pemilihan Kertajati mempertimbangkan ketersediaan lahan yang luas serta fasilitas pendukung penerbangan yang sudah memadai," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait beberapa waktu lalu. 

Secara keseluruhan, Bandara Internasional Kertajati memiliki kawasan sekitar 1.800 hektare, memberikan ruang cukup besar untuk pengembangan fasilitas penerbangan dan kawasan pendukungnya. PT Bandarudara Internasional Jawa Barat juga mengembangkan kawasan Aerocity yang terintegrasi dengan bandara.

TNI AU sebelumnya turut menyatakan dukungan terhadap rencana pembangunan MRO tersebut. KSAU Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono menilai fasilitas MRO di Kertajati berpotensi memperkuat industri pertahanan dan dirgantara nasional karena perusahaan dalam negeri dapat lebih banyak terlibat dalam pemeliharaan armada. Meski demikian, TNI AU menekankan pengembangan kawasan masih membutuhkan roadmap yang terencana, terpadu, dan berkelanjutan.

Kemampuan GMF Mulai Diperluas

Kemampuan pemeliharaan alutsista GMF juga tidak lagi terbatas pada Hercules. Pada April 2026, GMF dan Komando Pemeliharaan Materiel Angkatan Udara (Koharmatau) memperpanjang kerja sama teknis untuk periode 2026-2028.

Cakupannya diperluas dari C-130 Hercules menjadi Boeing 737 Series, Airbus A400M, Dassault Falcon 8X, serta helikopter Super Puma AS332L1. Kerja sama tersebut turut mencakup on-the-job training, pendidikan teknisi, fabrikasi peralatan, hingga alih pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan pemeliharaan pesawat di dalam negeri.

“Perluasan kerja sama ini merefleksikan tingkat kepercayaan pemerintah terhadap kapabilitas GMF. Ini juga merupakan langkah strategis, mengingat kompleksitas teknologi dan tingginya investasi yang dibutuhkan dalam pengembangan kemampuan maintenance, repair, and overhaul,” kata Andi.

Kendati demikian, pemerintah belum mengumumkan secara terperinci kapan fasilitas MRO Kertajati mulai dapat menangani pesawat tempur TNI AU maupun jenis jet tempur apa yang pertama kali akan dirawat di fasilitas tersebut. Pemerintah saat ini masih mendorong penyelesaian pembangunan dan penyiapan kemampuan teknis agar fasilitas tersebut dapat digunakan PTDI dan GMF untuk mendukung pemeliharaan alutsista udara nasional.

Jika rencana itu terealisasi, Kertajati tidak lagi hanya berfungsi sebagai pusat MRO Hercules, tetapi berpotensi menjadi salah satu simpul utama kemandirian pemeliharaan pesawat militer Indonesia, dengan porsi pekerjaan, teknologi, dan tenaga ahli yang semakin besar dikerjakan di dalam negeri.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Sjafrie Sjamsoeddin, Kementerian Pertahanan (Kemenhan), pesawat tempur, dan TNI AU dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.