Frater Leonardus, Korban yang Tewas Usai Lompat dari Lantai 3 Saat Gempa NTT
Seorang frater di Seminari Ritapiret meninggal dunia usai melompat dari lantai tiga saat panik diguncang gempa. Korban jiwa akibat gempa di Sikka kini jadi enam orang.

Periskop.id - Frater Leonardus Noprianto Waku, Pr, meninggal dunia di RSUD TC Hillers Maumere pada Rabu (19/8) pukul 20.33 WITA. Calon imam Katolik itu sempat dirawat intensif usai melompat dari lantai tiga gedung Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, saat gempa mengguncang wilayah tersebut.
Ketua Posko penanggulangan bencana Sikka Margaretha Movaldes Da Maga Bapa mengungkap kronologi kejadian tersebut. Ia menyebutkan, Frater Leo tengah berada di kamar lantai tiga ketika gempa terjadi pada Sabtu (15/8).
"Mungkin karena panik ketika gempa terjadi, Frater Leonardus melompat dari lantai tiga. Ia kemudian dilarikan ke RSUD Maumere. Saat itu, kondisinya cukup parah," cerita Margaretha, Kamis (20/8).
Luka berat yang dialami Frater Leo membuatnya harus menjalani perawatan intensif selama beberapa hari. Namun nyawanya tak tertolong, dan kematiannya menambah daftar korban jiwa akibat gempa di Kabupaten Sikka menjadi enam orang.
Berdasarkan data Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik di BPBD Kabupaten Sikka, jumlah pengungsi akibat bencana ini tercatat 11.862 jiwa dari 3.285 kepala keluarga (KK).
Sebanyak 1.203 jiwa dari 324 KK ditampung di pusat pengungsian Gelora Samador Maumere. Sisanya, 10.659 jiwa dari 2.961 KK, memilih mengungsi secara mandiri yang tersebar di tujuh kecamatan.
Rincian sebaran pengungsi mandiri per kecamatan yaitu Alok 803 KK dengan 2.940 jiwa, Alok Barat 201 KK dengan 965 jiwa, dan Alok Timur 19 KK dengan 66 jiwa. Kecamatan Bola tercatat 72 KK dengan 210 jiwa, Hewokloang 54 KK dengan 135 jiwa, Kangae 1.036 KK dengan 3.213 jiwa, Talibura 409 KK dengan 1.812 jiwa, dan Palue 690 KK dengan 2.521 jiwa.
Selain korban jiwa, gempa ini juga meninggalkan kerusakan pada 2.560 unit rumah warga. Rincian angkanya terdiri dari 905 unit rusak berat, 1.173 unit rusak ringan, dan 482 unit rusak sedang.
Sebanyak 167 unit fasilitas umum turut terdampak. Angka tersebut mencakup 26 unit bangunan pemerintah, 31 unit fasilitas kesehatan, 47 unit fasilitas pendidikan, 11 ruas jalan, 8 unit prasarana, dan 44 rumah ibadah.
Secara keseluruhan, korban jiwa akibat gempa bumi ini tercatat 61 orang. Rinciannya terdiri dari 6 orang meninggal dunia, 23 orang luka berat, 26 orang luka ringan, dan 6 orang lainnya dengan kondisi berbeda.
"Total enam orang. Selain Frater Leo, ada tambahan satu jiwa yang meninggal tadi pagi karena trauma pasca gempa," jelas Margaretha.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dengan mengeklik tautan.


Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.