Nasional

Basarnas Evakuasi Dua Lansia Korban Gempa NTT dengan Helikopter

Basarnas mengevakuasi dua lansia korban luka berat gempa NTT dengan helikopter dari Manggarai Timur menuju RSUD Pratama Komodo, Labuan Bajo

6 hari yang lalu · 4 mnt baca
basarnas, evakuasi korban gempa,
Personel Basarnas menggendong dan menaikkan seorang korban gempa yang mengalami luka berat ke helikopter untuk dievakuasi dari pengungsian di Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur ke Rumah Sakit Umum Daerah Pratama Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (21/8/2026) dok. Basarnas
Ukuran teks
Sedang

Basarnas Masih Evakuasi Medis Korban Gempa NTT dengan Helikopter

Periskop.id - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) kembali mengevakuasi dua korban luka berat akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (21/8). Dua korban lanjut usia itu diterbangkan menggunakan helikopter dari Manggarai Timur menuju Labuan Bajo untuk mendapatkan penanganan medis intensif.

Deputi Bidang Operasi dan Siaga Basarnas Edy Prakoso mengatakan Helikopter Dauphin AS 365 N3+ telah mendarat di Kampung Ronting, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, untuk menjemput kedua korban. "Mereka dua lansia yang mengalami cedera berat berdasarkan pemeriksaan awal tim medis Kementerian Kesehatan yang bertugas di lokasi," kata dia.

Korban pertama merupakan laki-laki berusia 81 tahun yang diduga mengalami cedera tulang belakang. Sementara korban kedua adalah perempuan berusia 71 tahun dengan dugaan patah tulang dasar tengkorak.

Keduanya sebelumnya telah dipindahkan dari lokasi pengungsian menuju posko terpadu terdekat pada Kamis (20/8) oleh personel Kantor SAR Maumere bersama unsur SAR lainnya.

Namun, proses pemindahan menuju Labuan Bajo belum dapat dilakukan pada hari yang sama. Kendala teknis di lapangan dan pertimbangan keselamatan membuat evakuasi harus dilanjutkan keesokan harinya dengan menggunakan helikopter.

"Kedua penyintas tersebut akan diterbangkan menuju Bandara Komodo dan langsung dirujuk ke RSUD Pratama Komodo, Labuan Bajo, untuk mendapatkan penanganan medis intensif," kata Edy, yang memimpin langsung pelaksanaan evakuasi medis tersebut dari Manggarai Timur.

Penggunaan jalur udara menjadi penting dalam penanganan korban luka berat, terutama dari wilayah dengan akses darat terbatas dan waktu tempuh menuju fasilitas kesehatan rujukan yang lebih panjang.

Operasi serupa telah dilakukan beberapa hari sebelumnya. Pada Selasa (18/8), tujuh korban luka berat dari Manggarai Timur dievakuasi menggunakan Helikopter Dauphin menuju Labuan Bajo. Para korban mengalami sejumlah cedera serius, mulai dari patah tulang, dislokasi, trauma tulang belakang hingga luka berat pada tangan.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii ketika itu mengatakan evakuasi dilakukan secara bertahap karena memprioritaskan korban yang membutuhkan pertolongan medis secepatnya.

“Evakuasi dilakukan dalam dua kloter. Kloter pertama menggunakan Helikopter Dauphin dengan membawa tiga korban dan tim medis, sementara kloter kedua membawa empat korban,” kata Syafii.

Helikopter Dauphin terus disiagakan untuk mendukung operasi di wilayah yang mengalami dampak cukup berat, terutama Manggarai Timur. Basarnas juga memperkuat operasi dengan personel SAR serta dukungan jalur darat dan laut.

Gempa Susulan Masih Tinggi

Evakuasi medis berlangsung ketika aktivitas gempa susulan di Flores masih tinggi. BMKG mencatat hingga Jumat (21/8) pukul 05.00 WIB telah terjadi 4.258 gempa susulan sejak gempa utama magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 118 gempa dirasakan masyarakat dan 31 kejadian memiliki magnitudo di atas 5,0. BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan masih berpotensi berlangsung selama tiga hingga empat minggu.

Pada Jumat dini hari, wilayah Flores kembali diguncang gempa. Parameter awal BMKG menunjukkan magnitudo 5,3 sebelum diperbarui menjadi magnitudo 5,2 dengan kedalaman 23 kilometer. Gempa tersebut merupakan bagian dari rangkaian susulan gempa utama dan tidak berpotensi tsunami.

Gempa dirasakan dengan intensitas IV MMI di Sambi Rampas, Manggarai Timur, Reok, Manggarai, dan Kota Ruteng. Guncangan juga dirasakan di Borong, Bajawa, Mbay hingga Labuan Bajo.

BMKG mengimbau masyarakat menjauhi bangunan yang telah retak atau rusak dan tetap mewaspadai gempa susulan.

Di sisi lain, data terakhir BNPB yang dipublikasikan pada 19 Agustus 2026 mencatat korban meninggal akibat gempa magnitudo 7,7 mencapai 71 orang. Jumlah pengungsi tercatat sebanyak 59.647 orang, dengan konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Manggarai yang mencapai 20.333 jiwa.

BNPB juga mencatat sebanyak 398 ton bantuan telah dikirim ke wilayah terdampak sepanjang 15 hingga 18 Agustus. Penanganan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan serta kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas.

Basarnas memastikan personel masih bersiaga di sejumlah wilayah NTT untuk melaksanakan pencarian, pertolongan, evakuasi medis hingga membantu distribusi kebutuhan pokok dan perlengkapan pengungsian.

"Kami siap melakukan upaya pencarian, pertolongan, dan pelayanan kemanusiaan melalui jalur darat maupun udara guna memastikan seluruh masyarakat terdampak memperoleh bantuan secara cepat, tepat, dan optimal," kata Edy.

Operasi tersebut akan terus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat serta kondisi medan dan aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung di Flores.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai basarnas, gempa bumi, bantuan kemanusiaan, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.