iklan periskop
Nasional

BMKG: 733 Titik Panas Terdeteksi di Sumatera, Sumsel Terbanyak 377 Titik

BMKG mendeteksi 733 titik panas di Sumatera pada 21 Agustus 2026. Sumatera Selatan terbanyak dengan 377 titik, disusul Bangka Belitung dan Lampung

7 jam yang lalu · 4 mnt baca
karhutla
Ilustrasi -Tim Manggala Agni melakukan operasi pemadaman kebakaran lahan di Provinsi Riau dok. Manggala Agni
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meningkat di Pulau Sumatera. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 733 titik panas atau hotspot hingga Jumat (21/8) pukul 16.00 WIB, dengan konsentrasi terbesar berada di Sumatera Selatan sebanyak 377 titik.

Prakirawan BMKG Pekanbaru Elisa JS Kedang mengatakan ratusan titik panas tersebut tersebar di sembilan provinsi. Selain Sumatera Selatan, jumlah cukup tinggi terpantau di Bangka Belitung dengan 100 titik dan Lampung 98 titik.

Riau mencatat 69 titik, Jambi 53 titik, Kepulauan Riau 17 titik, Bengkulu 14 titik, Sumatera Barat empat titik, sedangkan Sumatera Utara satu titik.

"Wilayah lain yang turut menyumbang angka tinggi adalah Bangka Belitung dengan 100 titik dan Lampung dengan 98 titik, disusul oleh Riau 69 titik, Jambi 53 titik, Kepulauan Riau 17 titik, Bengkulu 14 titik, Sumatera Barat 4 titik, dan Sumatera Utara 1 titik," ujarnya.

Kenaikan titik panas berlangsung ketika sebagian wilayah Sumatera menghadapi kondisi kering akibat musim kemarau yang berbarengan dengan penguatan El Nino.

Analisis BMKG pada Dasarian I Agustus 2026 menunjukkan indeks Niño 3.4 mencapai +2,77, yang menandakan El Nino berintensitas sangat kuat. Sejumlah wilayah Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung hingga Bengkulu juga masuk dalam peringatan dini kekeringan meteorologis.

BMKG sebelumnya memperkirakan puncak musim kemarau berlangsung terutama pada Agustus dan September. Risiko karhutla diprediksi meningkat di Sumatera dan Kalimantan, khususnya Riau, Sumatera Selatan dan Jambi. Hingga 29 Juli saja, BMKG telah mendeteksi 5.019 titik panas secara nasional.

Pelalawan Jadi Titik Terparah di Riau

Di Riau, 69 titik panas tersebar di delapan kabupaten. Pelalawan menjadi wilayah dengan temuan paling banyak, yakni 56 titik.

Indragiri Hilir mencatat empat titik, Kampar tiga titik dan Kepulauan Meranti dua titik. Bengkalis, Kuantan Singingi, Rokan Hulu dan Indragiri Hulu masing-masing mencatat satu titik.

Lonjakan hotspot sejalan dengan kebakaran lahan yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Riau.

Data Manggala Agni yang diberitakan Media Indonesia menunjukkan kebakaran gambut aktif di delapan lokasi di Riau telah mencapai sekitar 783 hektare hingga 20 Agustus 2026. Dua kejadian terbesar berada di Indragiri Hulu dan Pelalawan.

Di Indragiri Hulu, kebakaran di kawasan Rengat telah mencapai sekitar 434,35 hektare. Sementara kebakaran di Kelurahan Kerumutan, Kecamatan Kerumutan, Pelalawan diperkirakan telah mencapai 300 hektare.

Angka tersebut merupakan luasan pada lokasi kebakaran yang sedang ditangani, bukan total kumulatif karhutla Riau sepanjang tahun.

Untuk angka kumulatif, BNPB mencatat luas karhutla di Riau hingga 9 Agustus 2026 telah mencapai 15.551,76 hektare, terbesar kedua di antara enam provinsi prioritas setelah Kalimantan Barat.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengatakan peningkatan frekuensi kebakaran saat ini paling terlihat di Riau dan Sumatera Selatan.

"Untuk Wilayah Sumatera saat ini yang sedang naik frekuensi kebakarannya di Riau dan Sumatera Selatan. Untuk Sumsel saat ini juga sudah hampir 15 hari di-BKO-kan juga Manggala Agni dari Jambi," ungkap Ferdian Krisnanto.

Pengerahan personel lintas daerah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemadaman dan pendinginan, terutama di area gambut yang memiliki karakter api dapat bertahan di bawah permukaan tanah.

Sumatera Selatan Jadi Wilayah Paling Banyak Hotspot

Temuan 377 titik panas membuat Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot terbanyak di Sumatera pada pembaruan BMKG Jumat sore.

Provinsi tersebut memang masuk dalam enam wilayah prioritas nasional penanganan karhutla bersama Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

BNPB mencatat luas lahan terbakar di Sumatera Selatan telah mencapai 664,87 hektare hingga 9 Agustus. Sementara Jambi mencapai sekitar 540 hektare.

Pemerintah juga meningkatkan penegakan hukum di Sumatera Selatan. Kementerian Kehutanan pada 19 Agustus mengumumkan penyelidikan terhadap kebakaran sekitar 25 hektare kawasan Hutan Produksi di KPH Lalan Mendis, Musi Banyuasin. Lokasi tersebut berada dalam areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT TCP dan telah ditangani tim gabungan sejak kebakaran muncul pada 26 Juli.

Peningkatan titik panas juga membuat dukungan operasi udara diperkuat. Pembaruan BNPB per 21 Agustus menunjukkan Riau mendapat dukungan satu helikopter patroli, satu armada Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan lima helikopter water bombing.

Sumatera Selatan memperoleh satu helikopter patroli, satu armada OMC dan tujuh helikopter water bombing. Sementara Jambi didukung satu helikopter patroli, satu armada OMC dan dua helikopter water bombing.

Namun, pemerintah tetap menempatkan pemadaman darat sebagai ujung tombak penanganan. OMC bergantung pada keberadaan awan yang memenuhi syarat penyemaian, sementara water bombing perlu diikuti penyisiran dan pendinginan oleh petugas darat, terutama pada kebakaran gambut.

Meningkatnya titik panas di Sumatera juga menjadi perhatian karena kabut asap mulai memengaruhi kualitas udara. Di Pekanbaru, konsentrasi partikulat sempat mencapai 276 mikrogram per meter kubik pada Selasa (18/8) ketika kabut asap karhutla menebal.

Dengan El Nino sangat kuat dan musim kemarau masih berlangsung, pemerintah meminta pemerintah daerah memperketat patroli, mendeteksi titik api sedini mungkin dan memastikan sarana pemadaman siap digunakan.

BMKG juga mengingatkan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Temuan titik panas karena itu perlu diverifikasi di lapangan sebelum dinyatakan sebagai kejadian kebakaran.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai manggala agni, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), dan sumatra dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.