Karhutla di Kalbar Ancam Satwa Dilindungi
Karhutla Kalbar mengancam satwa liar setelah trenggiling dilindungi ditemukan mati di Ketapang. Luas lahan terbakar kini mencapai 38.310 hektare

Periskop.id - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mulai mengancam satwa liar. Tim Manggala Agni menemukan seekor trenggiling dalam kondisi mati di sekitar area kebakaran di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, di tengah meluasnya karhutla yang telah mencapai lebih dari 38 ribu hektare di Kalbar.
Plt Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang Efendi membenarkan penemuan satwa tersebut. Trenggiling ditemukan petugas ketika menjalankan operasi penanganan karhutla.
"Iya, betul kejadian tersebut, satwa tersebut ditemukan oleh salah satu tim kami di lokasi kemarin," kata Efendi saat dikonfirmasi di Pontianak, Jumat (21/8).
Lokasi penemuan berada tidak jauh dari Jalan Poros Tanjung Pura. Koordinator Pencegahan dan Inovasi Manggala Agni Daops Kalimantan X/Ketapang Fitria Sri Handayani mengatakan trenggiling bukan satu-satunya satwa yang ditemukan tim selama operasi pemadaman.
"Penemuan trenggiling itu kemarin, tidak jauh dari Jalan Poros Tanjung Pura, Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan," ucap Fitria.
Selain trenggiling, petugas juga menemukan ular mati serta sarang lebah di sejumlah lokasi kebakaran. Efendi menyebut ular menjadi jenis satwa yang paling sering ditemukan mati selama karhutla berlangsung.
"Sejauh ini hewan atau satwa yang banyak ditemukan dalam kondisi mati akibat kebakaran hutan itu ular," ujarnya.
Sementara itu, tim Manggala Agni belum menemukan orangutan maupun beruang madu menjadi korban langsung kebakaran. Menurut Efendi, kedua mamalia tersebut memiliki kemampuan lebih baik dalam merespons munculnya api dan berpindah dari lokasi berbahaya.
"Kalau untuk orangutan atau beruang sejauh ini kami belum menemukan, karena biasanya hewan tersebut instingnya lebih kuat. Ketika mereka mendengar suara api dari kejauhan, mereka akan cepat menjauh dan pergi," serunya.
Meski demikian, kebakaran yang terus meluas tetap menjadi ancaman terhadap habitat satwa. Hilangnya tutupan vegetasi, sumber pakan dan tempat berlindung dapat mendorong satwa keluar dari habitatnya dan meningkatkan potensi perjumpaan dengan manusia.
Trenggiling Berstatus Kritis
Temuan tersebut menjadi perhatian karena trenggiling atau Manis javanica merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia. Data Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan mencatat trenggiling masuk daftar satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106 Tahun 2018.
Satwa tersebut juga masuk Appendix I CITES, yakni kategori perdagangan internasional dengan perlindungan paling ketat. Status konservasinya bahkan berada pada kategori Critically Endangered atau kritis menurut IUCN. Artinya, trenggiling telah menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam.
Ancaman terhadap trenggiling sebelumnya lebih banyak dikaitkan dengan perburuan dan perdagangan ilegal. Namun, karhutla menambah tekanan terhadap spesies tersebut melalui kerusakan serta fragmentasi habitat.
Karhutla Kalbar Tembus 38 Ribu Hektare
Ancaman terhadap satwa muncul ketika skala karhutla di Kalimantan Barat terus membesar. BPBD Kalbar mencatat luas lahan terbakar sejak Januari hingga 21 Agustus 2026 telah mencapai 38.310,86 hektare.
Ketapang menjadi kabupaten dengan area terbakar terluas, mencapai 12.443 hektare. Di bawahnya terdapat Kubu Raya seluas 8.614 hektare, Mempawah 6.144 hektare dan Sambas 2.318 hektare. Sebagian wilayah tersebut merupakan kawasan bergambut sehingga pemadaman lebih sulit dan asap dapat bertahan lebih lama.
Angka terbaru tersebut menunjukkan peningkatan tajam. Data BNPB per 9 Agustus sebelumnya masih mencatat luas karhutla Kalbar sekitar 28.680,47 hektare, terbesar di antara enam provinsi prioritas penanganan karhutla.
Tekanan kebakaran juga terlihat dari jumlah titik panas. Berdasarkan pemantauan Satelit NOAA-20 hingga Kamis (20/8), BNPB mendeteksi 1.487 titik panas di Pulau Kalimantan. Kalimantan Barat menyumbang 560 titik atau terbanyak kedua setelah Kalimantan Tengah dengan 767 titik.
Situasi tersebut berlangsung ketika kondisi iklim semakin kering. BMKG mencatat indeks Niño 3.4 pada Dasarian I Agustus 2026 mencapai +2,77, yang menunjukkan El Nino berintensitas sangat kuat. Kalimantan Barat juga termasuk wilayah yang mendapatkan peringatan dini kekeringan meteorologis.
BMKG sebelumnya memperingatkan risiko karhutla meningkat saat puncak musim kemarau Agustus-September, terutama di Sumatera dan Kalimantan. Hingga akhir Juli saja, 5.019 titik panas telah terdeteksi secara nasional dengan konsentrasi antara lain berada di Kalimantan Barat.
Lima Helikopter Water Bombing Disiagakan
Pemerintah memperkuat operasi darat dan udara untuk mengendalikan kebakaran. Khusus Kalimantan Barat, BNPB pada Jumat menyiagakan dua helikopter patroli, satu pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan lima helikopter water bombing.
Operasi udara tetap harus berjalan beriringan dengan pemadaman di darat, terutama pada lahan gambut yang memungkinkan api bertahan di bawah permukaan.
“Water bombing merupakan dukungan terhadap operasi darat. Terutama di lahan gambut, setelah dilakukan pemboman air, pasukan darat tetap harus melakukan penyisiran dan pemadaman untuk memastikan api benar-benar padam,” jelas Kepala BNPB Suharyanto dalam rapat koordinasi penanganan karhutla pada 10 Agustus 2026.
Selain armada udara, pemadaman melibatkan BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, dinas pemadam kebakaran, Masyarakat Peduli Api hingga relawan.
BNPB juga menekankan OMC sangat bergantung pada tersedianya awan yang dapat disemai. Karena itu, pemerintah meminta pemerintah daerah memperkuat patroli dan deteksi dini serta memastikan kebakaran ditangani sebelum meluas.
Temuan trenggiling mati di Ketapang kini menunjukkan bahwa dampak karhutla bukan hanya persoalan kabut asap dan aktivitas masyarakat. Kebakaran yang berlangsung luas juga memberi tekanan langsung terhadap ekosistem serta satwa liar yang hidup di kawasan terdampak, termasuk spesies dengan status konservasi kritis.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai manggala agni, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), satwa liar, dan Kalimantan Barat dengan mengeklik tautan.





Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.