Nasional

Bertahan dari Gempa M7,7, BRIN Siapkan Komersialisasi Rumah Modular Tahan Gempa

BRIN menyiapkan komersialisasi rumah modular tahan gempa setelah tiga prototipe di Manggarai Barat tetap berdiri saat gempa M7,7 Flores

2 hari yang lalu · 5 mnt baca
Bertahan dari Gempa M7,7, BRIN Siapkan Komersialisasi Rumah Modular Tahan Gempa
BRIN temui Presiden Prabowo di Istana Negara. YouTube/Setpres
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id  - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersiap membawa teknologi rumah modular tahan gempa ke tahap komersialisasi setelah tiga unit prototipe di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap berdiri saat gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.

BRIN kini mencari mitra industri yang dapat memproduksi teknologi tersebut dalam skala lebih besar. Langkah ini diperlukan karena lembaga riset tidak menjalankan fungsi produksi massal, sementara kebutuhan hunian tahan gempa di Indonesia dinilai besar.

"Ini sekarang kita terus berkoordinasi dengan mitra karena BRIN tidak boleh memproduksi secara massal. Kita harus mencari mitra-mitra untuk menghasilkan rumah-rumah tersebut dalam jumlah yang lebih banyak dan bisa lebih murah lagi," ujar Kepala BRIN Arif Satria di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Menurut Arif, perluasan pemanfaatan teknologi tidak hanya berkaitan dengan produksi dalam jumlah banyak. BRIN juga ingin menekan biaya sehingga hunian tersebut lebih terjangkau bagi masyarakat, terutama di kawasan dengan tingkat kerawanan gempa tinggi.

Tiga Rumah BRIN Tetap Berdiri saat Gempa Flores

Teknologi rumah modular BRIN mendapatkan ujian nyata ketika gempa M7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus. Tiga prototipe yang berada di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat tetap berdiri setelah gempa utama dan rangkaian gempa susulan.

"Rumah modular tahan gempa, di mana saat ini ada tiga rumah contoh BRIN yang berdiri sejak tahun 2021 hingga 2022 yang alhamdulillah pada saat gempa tetap utuh," ucapnya.

Pemeriksaan setelah gempa tidak menemukan retakan struktural pada dinding, kolom maupun fondasi tiga rumah tersebut. Kerusakan yang tercatat hanya bersifat kosmetik, antara lain sebagian keramik kamar mandi yang terlepas dari panel dinding dan pecah akibat guncangan.

Perekayasa Ahli Muda BRIN Vian Marantha Haryanto sebelumnya menyebut, kejadian tersebut sebagai uji lapangan bagi teknologi yang telah dikembangkan selama beberapa tahun. "Gempa besar yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menjadi ujian lapangan bagi teknologi tersebut," kata Vian.

Meski ketiga prototipe bertahan, hasil tersebut belum berarti rumah modular BRIN terbukti kebal terhadap seluruh gempa. Besarnya dampak gempa terhadap suatu bangunan juga dipengaruhi jarak dari sumber gempa, kondisi tanah, karakter gelombang, kualitas konstruksi hingga desain bangunan.

BRIN karena itu masih merencanakan pengujian lanjutan secara laboratoris, termasuk pengujian siklik untuk memvalidasi performa konstruksinya.

Dikembangkan sejak 2019, Gunakan Panel Modular

Pengembangan rumah modular tersebut sebenarnya telah dimulai sejak 2019, saat teknologi masih dirintis Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), sebelum fungsi riset lembaga itu diintegrasikan ke BRIN.

Tahap awal antara lain dilakukan melalui pembangunan dua unit di Kabupaten Tangerang. Pengembangannya dilanjutkan dengan prototipe rumah dua lantai di Kabupaten Lebak pada 2021 serta tiga rumah di NTT pada akhir 2021.

Sistem tersebut menggunakan pendekatan konstruksi modular sehingga komponen bangunan dapat dibuat lebih terstandar dan kemudian dirakit di lokasi pembangunan.

Salah satu material yang digunakan pada prototipe di NTT adalah panel sandwich Expanded Polystyrene (EPS). BRIN juga mengembangkan generasi berikutnya dengan tambahan rubber bearing seismic, yakni komponen berbahan karet alam atau polimer elastis untuk membantu mengurangi transfer getaran gempa ke struktur bangunan.

Prinsipnya, rubber bearing membantu memisahkan respons struktur bagian bawah dan atas sehingga sebagian energi akibat pergerakan horizontal dapat diredam. Teknologi semacam itu diarahkan bukan untuk membuat rumah sama sekali tidak mengalami kerusakan, melainkan mengurangi risiko keruntuhan yang dapat membahayakan penghuni.

Kementerian Pekerjaan Umum juga menekankan prinsip yang sama dalam teknologi rumah tahan gempa. Bangunan masih dapat mengalami kerusakan pada gempa besar, tetapi struktur dirancang agar tidak langsung runtuh sehingga penghuni memiliki kesempatan menyelamatkan diri.

Kebutuhan Mendesak setelah 81 Ribu Rumah Rusak di NTT

Rencana komersialisasi menjadi relevan dengan besarnya kerusakan akibat gempa Flores.

BNPB melaporkan hingga 26 Agustus 2026 terdapat 81.436 rumah rusak, 105 orang meninggal, 1.678 orang luka-luka, serta 179.037 warga mengungsi di tujuh kabupaten terdampak.

Pemerintah telah memulai asesmen untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi rumah. BNPB menerjunkan tim ke tujuh kabupaten untuk menyamakan standar penilaian kategori rusak ringan, sedang, dan berat.

Untuk rumah rusak ringan, pemerintah menyiapkan bantuan Rp15 juta per unit, sementara rumah rusak sedang mendapat Rp30 juta. Rumah rusak berat akan masuk skema pembangunan atau penggantian hunian.

Dalam konteks itu, rumah modular berpotensi menjadi salah satu opsi dalam rehabilitasi dan rekonstruksi karena proses pembangunannya dapat dibuat lebih terstandar dan relatif cepat. Namun, keputusan penggunaannya tetap membutuhkan penyesuaian dengan kondisi tanah, standar bangunan, kebutuhan masyarakat serta hasil evaluasi teknis.

Indonesia Punya Sejumlah Teknologi Rumah Tahan Gempa

Teknologi BRIN bukan satu-satunya model rumah tahan gempa yang dikembangkan di Indonesia. Kementerian PU telah memiliki Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) sejak 2004. Sistem konstruksi knock downtersebut pernah digunakan dalam pembangunan hunian pascabencana gempa dan tsunami Aceh-Nias.

Clearing House Kementerian PU juga mencatat sejumlah teknologi lain yang telah melalui proses kliring, seperti Rumah Aman Gempa dengan Ferro Cement Layers, RIKSA, RISHAM, DOMUS, RUMBAKO hingga teknologi 3D Concrete Printing.

Keberadaan berbagai model menunjukkan persoalan rumah tahan gempa tidak selalu harus diselesaikan dengan satu teknologi. Pemilihan sistem dapat disesuaikan dengan biaya, ketersediaan material, kemampuan tenaga konstruksi, kondisi geologi dan kebutuhan masyarakat di masing-masing daerah.

Tinggal Cari Mitra Produksi dan Model Bisnis

Tahapan berikutnya bagi BRIN adalah membawa teknologi dari prototipe menuju produk yang dapat dibuat industri. Dalam skema tersebut, BRIN dapat menyediakan hasil penelitian dan teknologi, sementara perusahaan mitra menjalankan produksi dan distribusi. Harga, kapasitas produksi, mitra yang akan dipilih, maupun target jumlah rumah yang akan dibuat belum diumumkan.

Arif mengatakan pengembangan teknologi mitigasi bencana semakin penting mengingat posisi geografis Indonesia. "Ini memerlukan kajian, memerlukan inovasi-inovasi teknologi untuk bisa mengatasi, mengantisipasi, maupun terus memberikan solusi," ujar Arif.

BMKG mencatat Indonesia berada pada kawasan tektonik aktif dengan banyak sumber gempa karena interaksi lempeng dan sesar. Kondisi tersebut membuat mitigasi melalui bangunan yang dirancang dengan standar ketahanan gempa menjadi penting, terutama karena gempa bumi tidak dapat dicegah.

Presiden Prabowo Subianto juga disebut mendorong hasil penelitian BRIN yang dapat menjawab persoalan nyata segera diterapkan, termasuk rumah modular untuk wilayah rawan bencana.

Meski demikian, komersialisasi menjadi fase yang berbeda dari pengembangan prototipe. Ujian berikutnya bukan hanya apakah rumah mampu bertahan ketika diguncang gempa, tetapi apakah teknologi tersebut dapat diproduksi secara konsisten, memenuhi standar keselamatan, dibangun cepat, dan dijual pada harga yang dapat dijangkau masyarakat.

Jika tahapan tersebut berhasil, tiga rumah prototipe yang bertahan dari gempa Flores dapat menjadi awal pemanfaatan teknologi modular dalam skala yang lebih luas untuk mitigasi serta rekonstruksi pascabencana di Indonesia.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Arif Satria, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), gempa bumi, Rumah, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.