Nasional

BRIN Uji “Ubi Bombing” untuk Karhutla, Singkong Dikaji Jadi Bahan Pemadam

BRIN mengkaji “ubi bombing” berbasis singkong untuk membantu menangani karhutla. Hal ini dimungkinkan secara teori, tetapi masih menunggu uji efektivitas skala besar

2 hari yang lalu · 5 mnt baca
BRIN Uji “Ubi Bombing” untuk Karhutla, Singkong Dikaji Jadi Bahan Pemadam
Ilustrasi - Pabrik rumahan yang memproduksi tepung singkong. dok. periskop.id/ ASI Generated Image
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai mengkaji pemanfaatan bahan berbasis singkong sebagai alternatif untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Gagasan yang belakangan disebut Presiden Prabowo Subianto sebagai “ubi bombing” itu dinilai memungkinkan secara teori, tetapi masih memerlukan pengujian sebelum dapat digunakan dalam skala luas.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan lembaganya telah berkoordinasi dengan Polri untuk menyiapkan pengembangan teknologi tersebut. Namun, detail formulasi, metode aplikasi, kapasitas produksi hingga hasil pengujian lapangan belum diumumkan.

"BRIN sudah mengkaji. Artinya secara teoritik itu memang sangat memungkinkan, dan BRIN sudah berkoordinasi dengan Polri dalam rangka untuk menyiapkan itu," kata Arif di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Menurut dia, tahap persiapan masih terus berlangsung.

"Persiapan seperti apa ini kami juga sedang terus kami tunggu update-nya, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini sudah ada hasilnya," ujarnya.

Karena masih berada dalam tahap kajian, “ubi bombing” belum dapat disebut sebagai pengganti water bombing. Efektivitasnya untuk berbagai tipe kebakaran, terutama kebakaran gambut yang dapat menyimpan bara jauh di bawah permukaan, masih perlu dibuktikan melalui pengujian terkontrol dan lapangan.

Berawal dari Rapat Karhutla Prabowo di Palembang

Ide penggunaan bahan berbasis singkong mengemuka ketika Presiden Prabowo memimpin rapat penanganan karhutla di Sumatera Selatan pada Senin (24/8).

Dalam rapat tersebut, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan adanya inovasi bahan pemadam berbahan dasar tepung ubi atau singkong. Bahan itu disebut berpotensi menghambat penyebaran api dengan mengganggu unsur yang mempertahankan proses pembakaran sekaligus membantu menangani api pada tahap awal. 

Prabowo kemudian meminta inovasi tersebut diuji dan dikembangkan dalam skala lebih besar. Pemerintah juga membuka kemungkinan dukungan pembiayaan untuk riset dan produksi setelah kebutuhan serta efektivitas teknologinya dapat dihitung.

Gagasan itu muncul ketika pemerintah masih berusaha memadamkan sekitar 1.900 hektare lahan terbakar di Sumatera Selatan. Presiden meminta seluruh metode yang tersedia, baik pemadaman darat, udara maupun teknologi baru, dievaluasi untuk mempercepat penanganan.

Apakah Singkong Memang Bisa Membantu Memadamkan Api?

Secara ilmiah, penggunaan bahan berbasis pati dalam teknologi pemadam bukan konsep yang sepenuhnya baru. Namun, hal tersebut tidak berarti tepung singkong kering dapat langsung ditebarkan ke atas kebakaran.

Penelitian dalam Fire Safety Journal pernah menunjukkan penambahan pati pada lapisan gel berbasis bentonit dapat memperbaiki kemampuan material mempertahankan air, menempel pada permukaan dan memperlambat paparan panas. Pati membantu lapisan tetap stabil sekaligus mengurangi kecepatan pengeringannya.

Penelitian lain yang dipublikasikan International Journal of Technology pada 2025 menemukan hidrogel berbasis selulosa mampu meningkatkan efektivitas bahan pemadam tertentu dalam pengujian kebakaran kelas B. Material gel bekerja antara lain dengan mempertahankan air dan membentuk lapisan pada permukaan bahan bakar.

Studi terbaru mengenai hidrogel untuk perlindungan kebakaran juga menunjukkan material yang mampu mempertahankan air lebih lama berpotensi mengurangi temperatur permukaan dan menghambat penyebaran api.

Namun, penelitian tersebut bukan pengujian terhadap formula “ubi bombing” milik pemerintah Indonesia. BRIN belum memublikasikan komposisi bahan, konsentrasi singkong, zat tambahan, metode penyemprotan maupun hasil uji efektivitas inovasi yang sedang dikaji.

Karena itu, dasar ilmiah mengenai material berbasis pati dapat menjadi titik awal, tetapi klaim efektivitas “ubi bombing” untuk karhutla Indonesia masih harus dibuktikan sendiri.

Karhutla 2026 Naik Tajam

Pengembangan metode baru dilakukan ketika ancaman karhutla tahun ini meningkat.

Data Kementerian Kehutanan yang dipaparkan dalam forum BRIN mencatat luas karhutla Indonesia pada Januari-Mei 2026 mencapai 81.077 hektare, hampir delapan kali lipat dibandingkan periode sama 2025 yang sebesar 10.444 hektare. Hingga 8 Juni, BMKG juga mencatat 2.312 titik panas, dengan konsentrasi tertinggi ketika itu berada di Riau, Kalimantan Barat dan Aceh.

Situasi kemudian berkembang memasuki puncak musim kemarau. BNPB mencatat hingga 9 Agustus, enam provinsi prioritas karhutla telah mengalami kebakaran sekitar 48.889,69 hektare. Kalimantan Barat menjadi yang terbesar dengan 28.680,47 hektare, disusul Riau 15.551,76 hektare.

BNPB memperkirakan Agustus-September menjadi periode risiko tinggi, terutama di Sumatera dan Kalimantan.

BMKG juga memperingatkan El Niño kuat diperkirakan bertahan setidaknya hingga awal kuartal I 2027. Potensi IOD positif pada September-Desember 2026 dapat memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah.

Warga Palangka Raya Cerita Asap Karhutla Kalimantan, Sekolah Sempat Diliburkan
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di di Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada Selasa (18/8/2026). dok. Kemenko Pangan/

BRIN Juga Siapkan Material untuk Modifikasi Cuaca

Kajian singkong bukan satu-satunya pendekatan yang sedang dikembangkan. BRIN juga berkoordinasi dengan Polri dan BMKG untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Arif menyebut terdapat material baru maupun penyempurnaan bahan semai yang dinilai lebih efisien.

"BRIN menemukan juga beberapa teknologi, material untuk modifikasi cuaca seperti Jumakron, NaCl 25 mikron yang memang itu lebih efisien untuk digunakan dalam teknologi modifikasi cuaca," pungkasnya.

Dalam keterangan tersebut, BRIN belum merinci komposisi, hasil uji maupun karakter teknis material yang disebut Jumakron. Sementara NaCl atau natrium klorida memang menjadi salah satu bahan yang luas digunakan dalam OMC di Indonesia.

Dashboard resmi BMKG menunjukkan NaCl digunakan dalam banyak operasi untuk pembasahan gambut dan penanganan karhutla sepanjang 2026. BMKG mencatat lebih dari 100 operasi terkait pembasahan gambut atau karhutla telah dilakukan dalam basis datanya.

Pada 25 Agustus, BMKG bersama BNPB, TNI AU dan Otorita IKN juga kembali menjalankan OMC di Kalimantan Timur untuk mengantisipasi kekeringan dan karhutla.

BRIN Juga Kaji “Pembakaran Terkendali”

Selain bahan pemadam dan modifikasi cuaca, BRIN tengah mempelajari metode prescribed burning atau pembakaran terkendali pada ekosistem tertentu.

Kepala Pusat Riset Ekologi BRIN Asep Hidayat mengatakan pendekatan tersebut berpotensi mengurangi akumulasi bahan mudah terbakar seperti rumput, ranting dan daun kering sehingga kebakaran besar dapat dicegah. Namun, metode ini membutuhkan kajian ketat karena pembakaran yang tidak terkendali justru dapat menghasilkan bencana baru.

"Pengelolaan kebakaran memerlukan pencegahan, deteksi dini, restorasi ekosistem, serta keterlibatan masyarakat, termasuk kemungkinan melalui pembakaran terkendali pada ekosistem tertentu," kata Asep.

Dengan demikian, arah penanganan karhutla pemerintah saat ini bergerak melalui beberapa jalur sekaligus: pemadaman darat, water bombing, modifikasi cuaca, pencegahan dini, pengelolaan bahan bakar alami hingga pengembangan material pemadam baru.

Untuk “ubi bombing”, tantangan terdekatnya adalah membuktikan bahwa inovasi tersebut bukan hanya menarik secara konsep. BRIN masih perlu memastikan formula berbasis singkong efektif terhadap api dan bara, aman bagi lingkungan, dapat disemprotkan menggunakan peralatan yang tersedia, ekonomis untuk diproduksi, serta mampu bekerja dalam skala karhutla yang dapat mencapai ribuan hektare.

Jika rangkaian pengujian tersebut memberikan hasil positif, singkong berpotensi menjadi bahan baku lokal untuk melengkapi metode pemadaman yang sudah digunakan. Namun, hingga hasil uji dipublikasikan, teknologi tersebut masih lebih tepat disebut kandidat inovasi penanganan karhutla, bukan solusi yang telah terbukti.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Arif Satria, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Singkong, dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.