Nasional

Karhutla Jabar Tembus 156 Kejadian, Sumedang Jadi Wilayah Terbanyak

BPBD Jawa Barat mencatat 156 kejadian karhutla hingga akhir Agustus 2026. Sumedang menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, sementara Sukabumi terdampak paling luas

18 jam yang lalu · 4 mnt baca
Karhutla Jabar Tembus 156 Kejadian, Sumedang Jadi Wilayah Terbanyak
Petugas BPBD Sumedang saat memadamkan api di Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. dok. BPBD Sumedang.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Barat terus meningkat sepanjang musim kemarau 2026. Kabupaten Sumedang tercatat menjadi wilayah dengan frekuensi karhutla tertinggi, sementara Kabupaten Sukabumi mengalami dampak kebakaran terluas.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat yang diperbarui hingga 31 Agustus 2026 menunjukkan terdapat 156 kejadian karhutla dengan total area terdampak sekitar 228 hektare. Peristiwa tersebut tersebar di 178 desa atau kelurahan pada 107 kecamatan di Jawa Barat.

Jumlah tersebut bertambah dibandingkan pembaruan data pada 27 Agustus 2026 yang mencatat 138 kejadian dengan luas terdampak 199,60 hektare. Pada pembaruan 27 Agustus, Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jawa Barat Hadi Rahmat Hardjasasmita mengatakan Sumedang telah mencatat 20 kejadian karhutla.

" Kabupaten Sumedang tercatat memiliki kejadian karhutla paling banyak dengan 20 kejadian berdasarkan pembaruan data sampai 27 Agustus 2026," katanya.

Hingga akhir Agustus, jumlah karhutla di Sumedang kemudian bertambah menjadi 21 kejadian. Posisi berikutnya ditempati Majalengka dengan 17 kejadian dan Kabupaten Bandung sebanyak 16 kejadian.

Sukabumi Punya Area Terbakar Terluas

Meski Sumedang menjadi wilayah dengan frekuensi kebakaran tertinggi, luas lahan yang terdampak bukan yang terbesar di Jawa Barat. Kabupaten Sukabumi berada di posisi pertama berdasarkan luas area terbakar dengan 49,20 hektare. Majalengka menyusul dengan 26,16 hektare, sedangkan Kabupaten Bandung mencapai 24,80 hektare berdasarkan data terbaru BPBD Jabar hingga 31 Agustus.

Sebelumnya, data hingga 27 Agustus mencatat total karhutla Jawa Barat mencapai 138 kejadian yang tersebar di 94 kecamatan dan 160 desa atau kelurahan dengan luas terdampak 199,60 hektare.

"Dari 138 kejadian tersebut, wilayah yang terdampak mencapai 199,60 hektare dan tersebar pada sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat," ujar Hadi.

Pada periode tersebut, luas karhutla di Sukabumi sudah mencapai 49,20 hektare, disusul Majalengka 25,91 hektare, Kuningan 23,80 hektare, Sumedang 21,68 hektare, serta Cirebon 20,73 hektare. "Data kejadian dan luasan terdampak ini terus kami lakukan pemantauan dan pembaruan berdasarkan laporan yang diterima dari wilayah," katanya.

Data tersebut menunjukkan karhutla masih terus berkembang menjelang berakhirnya Agustus. Dalam kurun beberapa hari saja, jumlah kejadian bertambah dari 138 menjadi 156 kasus.

Kemarau Bikin Vegetasi Makin Mudah Terbakar

Peningkatan karhutla terjadi ketika Jawa Barat berada di tengah musim kemarau yang relatif kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pada dasarian II Agustus 2026 sekitar 79,9% Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. 

Sebanyak 90,29% wilayah yang dianalisis mengalami curah hujan kategori rendah dan 88,61% berada dalam kondisi hujan di bawah normal. Jawa Barat termasuk wilayah yang sedang mengalami musim kemarau.

BMKG sebelumnya juga memprediksi sebagian besar wilayah Jawa Barat memasuki musim kemarau pada Mei hingga Juni, dengan puncaknya umumnya terjadi pada Agustus dan sebagian berlanjut hingga September 2026. Curah hujan di Jawa Barat diperkirakan berada pada kategori rendah hingga menengah dan lebih kering dibandingkan kondisi klimatologis normal.

Kondisi tersebut membuat rerumputan, semak, dan vegetasi lainnya lebih cepat mengering sehingga api dapat menyebar dengan mudah apabila muncul sumber pemicu. BPBD Sumedang sebelumnya meningkatkan pemantauan terhadap kondisi vegetasi serta melakukan pemetaan wilayah rawan karhutla. 

Hasil penanganan di lapangan sejauh ini tidak menemukan indikasi dominan pembukaan lahan sebagai penyebab kebakaran. Kelalaian manusia justru menjadi salah satu faktor yang menjadi perhatian.

"Yang paling penting adalah edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat agar lebih memahami kondisi cuaca ketika memasuki musim kemarau supaya tidak terjadi kelalaian yang berpotensi menyebabkan kebakaran," ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sumedang Hendar.

Dalam keterangan sebelumnya, Hendar menyebut perilaku seperti membuang puntung rokok sembarangan di kawasan dengan vegetasi kering dapat memicu kebakaran saat musim kemarau. Karena itu, masyarakat juga diminta menghindari aktivitas pembakaran lahan.

Pendakian Gunung di Jabar Diminta Ditutup Sementara

Meluasnya karhutla juga membuat Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil langkah pencegahan tambahan. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menginstruksikan pengelola kawasan pegunungan untuk menghentikan sementara aktivitas pendakian selama kondisi rawan kebakaran. 

Pemprov khawatir aktivitas menyalakan api maupun puntung rokok dapat menjadi sumber kebakaran di tengah vegetasi yang mengering. "Pendakian gunung untuk sementara ditutup dulu karena khawatir para pendaki nanti menyalakan api," kata Dedi, Senin (31/8/2026).

Langkah tersebut diambil seiring terus bertambahnya luas karhutla di Jawa Barat. Pemerintah daerah juga diminta meningkatkan kewaspadaan di kawasan rentan lainnya, termasuk lahan terbuka dan tempat pemrosesan akhir sampah.

BMKG dalam prakiraan periode 27 Agustus hingga 2 September 2026 juga memperingatkan kondisi kering semakin meluas seiring puncak musim kemarau. Secara nasional, sekitar 80% wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau dan kejadian karhutla masih ditemukan di sejumlah provinsi, termasuk Jawa Barat.

BPBD Jawa Barat bersama BPBD kabupaten dan kota serta instansi terkait kini terus memperkuat pemantauan dan pelaporan untuk mempercepat respons ketika kebakaran muncul.

Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah atau lahan sembarangan, menghindari membuang puntung rokok di kawasan kering, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api sebelum kebakaran meluas.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), jawa barat, sukabumi, dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.