Periskop.id - Pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, kehilangan satu posisi di klasemen sementara Moto3 2026 setelah gagal menyelesaikan balapan GP Belanda di Sirkuit Assen, Minggu.

Veda tidak mendapat tambahan poin karena masuk daftar pembalap yang gagal finis. Dalam klasifikasi akhir, rider Honda Team Asia itu hanya menuntaskan delapan lap sebelum harus menghentikan balapan.

Hasil tersebut membuat koleksi poin Veda tertahan di angka 82. Namun, posisinya turun dari urutan keenam ke ketujuh karena Hakim Danish berhasil finis di posisi ketujuh pada balapan yang sama.

Danish mendapatkan tambahan sembilan poin dari Assen. Tambahan itu membuat pembalap Malaysia tersebut menyamai koleksi Veda dengan 82 poin, tetapi berada satu tingkat lebih tinggi di klasemen.

Situasi ini membuat persaingan di papan tengah Moto3 semakin ketat. Veda kini bukan hanya harus mengejar para pembalap lima besar, tetapi juga kembali bersaing langsung dengan Danish dalam perebutan posisi terbaik di antara para pembalap muda musim ini.

Gagal Finis Saat Sempat Punya Peluang Besar

Kegagalan finis di Assen terasa cukup menyakitkan bagi Veda karena ia sebenarnya menunjukkan performa menjanjikan pada awal balapan.

Veda memulai balapan dari posisi ketujuh. Pada lap-lap awal, ia sempat turun ke urutan kesembilan, tetapi cepat memperbaiki ritme. Memasuki lap ketiga, Veda sudah naik ke posisi kelima.

Tidak lama setelah itu, Veda masuk ke kelompok tiga besar. Bahkan pada lap keempat, pembalap asal Gunungkidul tersebut sempat menempati posisi kedua setelah melewati Maximo Quiles.

Di fase itu, Veda terlihat punya kecepatan untuk bertarung di rombongan depan. Ia sempat bersaing dengan David Almansa dan Quiles dalam perebutan posisi teratas.

Namun, situasi berubah cepat. 

Pada lap ketujuh, posisi Veda mulai merosot setelah disalip Quiles dan Hakim Danish. Sebelum lap tersebut selesai, ia sudah turun ke posisi kedelapan. Upaya Veda untuk kembali mengejar kelompok depan terhenti pada lap kedelapan. Motornya tergelincir dan ia tidak dapat melanjutkan balapan. Hasil itu membuatnya pulang dari GP Belanda tanpa tambahan poin.

Hakim Danish Menyalip Lewat Poin yang Sama

Kegagalan Veda menyelesaikan lomba langsung berdampak pada klasemen. Hakim Danish yang finis ketujuh di Assen mendapat sembilan poin dan kini sama-sama mengoleksi 82 poin.

Dalam klasemen sementara setelah GP Belanda, Danish berada di peringkat keenam, sedangkan Veda berada di urutan ketujuh.

Dari sisi angka, keduanya masih imbang. Namun, posisi klasemen memperlihatkan bahwa Danish kini mengambil keuntungan dari hasil konsisten di Assen.

Bagi Veda, ini menjadi sinyal penting. Satu hasil gagal finis bisa langsung mengubah posisi di klasemen karena jarak antarpembalap di luar tiga besar masih sangat rapat.

Veda juga kini tertinggal 20 poin dari Brian Uriarte dan Marco Morelli yang sama-sama mengoleksi 102 poin di posisi keempat dan kelima. Artinya, untuk kembali masuk lima besar, Veda membutuhkan hasil kuat dalam beberapa seri berikutnya.

Quiles Makin Jauh di Puncak

Di saat Veda kehilangan poin, Maximo Quiles justru semakin nyaman di puncak klasemen. Pembalap CFMOTO Gaviota Aspar Team itu memenangi GP Belanda dengan waktu 33 menit 51,801 detik.

Kemenangan tersebut memberi tambahan 25 poin bagi Quiles. Kini ia mengoleksi 211 poin dan unggul 90 poin atas Alvaro Carpe yang berada di posisi kedua dengan 121 poin.

David Almansa juga mengambil keuntungan besar dari GP Belanda. Finis kedua di Assen membuatnya naik ke posisi ketiga klasemen dengan 109 poin.

Sementara itu, Brian Uriarte dan Marco Morelli sama-sama mengumpulkan 102 poin. Morelli naik ke podium ketiga di Assen, sedangkan Uriarte finis keenam dan tetap bertahan di kelompok lima besar klasemen.

Dengan selisih yang sudah sangat jauh, Quiles mulai terlihat sebagai kandidat paling kuat dalam perebutan gelar Moto3 2026. Ia tidak hanya konsisten naik podium, tetapi juga mampu memaksimalkan akhir pekan ketika para rival terdekat kehilangan poin.

Hasil GP Belanda Ubah Peta Papan Atas

Balapan GP Belanda juga mengubah komposisi papan atas klasemen. Alvaro Carpe tetap berada di posisi kedua, tetapi gagal menambah poin karena masuk daftar pembalap yang tidak finis.

David Almansa naik ke posisi ketiga setelah menyelesaikan balapan di urutan kedua. Marco Morelli juga memperkuat posisinya setelah finis ketiga.

Sementara itu, Hakim Danish menjadi salah satu pembalap yang paling diuntungkan di luar zona podium. Tambahan sembilan poin cukup untuk membuatnya menyalip Veda di klasemen sementara.

Rico Salmela yang sempat berada di kelompok lima besar pada balapan akhirnya turun ke posisi ke-11 dalam klasifikasi akhir setelah mendapat penalti enam detik. Kondisi ini ikut memengaruhi distribusi poin di sepuluh besar.

Klasemen Sementara Moto3 2026 Setelah GP Belanda

Berikut daftar klasemen sementara Moto3 2026 setelah GP Belanda:

Maximo Quiles, 211 poin

Alvaro Carpe, 121 poin

David Almansa, 109 poin

Brian Uriarte, 102 poin

Marco Morelli, 102 poin

Hakim Danish, 82 poin

Veda Ega Pratama, 82 poin

Valentin Perrone, 79 poin

David Munoz, 52 poin

Guido Pini, 48 poin

Joel Esteban, 48 poin

Adrian Cruces, 46 poin

Matteo Bertelle, 44 poin

Rico Salmela, 40 poin

Casey O'Gorman, 40 poin

Joel Kelso, 38 poin

Eddie O'Shea, 36 poin

Jesus Rios, 35 poin

Adrian Fernandez, 28 poin

Scott Ogden, 27 poin

Ryusei Yamanaka, 15 poin

Marcos Uriarte, 6 poin

Leo Rammerstorfer, 4 poin

Cormac Buchanan, 2 poin

Zen Mitani, 2 poin

Ruche Moodley, 1 poin

Nicola Carraro, 0 poin

Dari Brno ke Assen, Momentum Veda Terhenti

Sebelum GP Belanda, Veda datang dengan modal cukup positif. Pada GP Ceko di Brno, ia finis kelima dan mendapat tambahan 11 poin. Hasil di Brno terasa spesial karena Veda memulai balapan dari posisi ke-20, tetapi mampu melesat ke kelompok depan dan menutup lomba di lima besar. Setelah seri itu, ia menempati posisi keenam klasemen dengan 82 poin.

GP Belanda awalnya tampak bisa menjadi lanjutan dari tren positif tersebut. Veda start dari posisi ketujuh setelah tampil cukup kompetitif dalam kualifikasi. Ia mencatat waktu 1 menit 40,690 detik di Q2 dan berhak memulai balapan dari baris ketiga.

Namun, balapan di Assen justru berakhir pahit. Alih-alih menambah poin untuk menjaga posisi keenam atau mendekati lima besar, Veda harus menerima kenyataan turun satu tingkat.

Veda Masih Punya Modal Kecepatan

Meski hasil akhirnya buruk, performa awal Veda di Assen tetap memberi sinyal positif. Ia mampu naik dari posisi ketujuh, masuk tiga besar, bahkan sempat berada di urutan kedua.

Ini menunjukkan bahwa Veda masih memiliki kecepatan untuk bertarung dengan pembalap papan atas. Persoalannya kini terletak pada konsistensi, manajemen risiko, dan kemampuan menjaga posisi saat berada di grup depan.

Dalam Moto3, balapan sering berjalan sangat rapat. Satu kesalahan kecil bisa membuat pembalap kehilangan banyak posisi atau bahkan gagal finis. Karena itu, pengalaman seperti di Assen dapat menjadi pelajaran penting bagi Veda dalam musim debutnya.

Kondisi ini juga pernah disorot sejumlah pihak terkait perjalanan Veda. Sebagai rookie, ia dinilai sudah menunjukkan kecepatan dan kemampuan menyalip yang kuat, tetapi masih perlu mengasah kemampuan menjaga ritme di rombongan depan.

Persaingan Rookie Makin Panas

Turunnya Veda ke posisi ketujuh juga membuat persaingan para pembalap muda semakin menarik. Brian Uriarte kini berada jauh di depan dengan 102 poin. Hakim Danish naik ke posisi keenam dengan 82 poin, tepat di atas Veda yang memiliki jumlah poin sama.

Valentin Perrone juga tidak jauh di belakang. Ia berada di posisi kedelapan dengan 79 poin. Artinya, hanya ada selisih tiga poin antara Veda dan Perrone.

Dengan jarak yang rapat, satu seri berikutnya bisa kembali mengubah posisi. Jika Veda mampu finis kuat, ia berpeluang merebut kembali posisi keenam. Namun jika kembali kehilangan poin, posisinya bisa semakin terancam dari Perrone.

Persaingan ini memperlihatkan bahwa di luar dominasi Quiles, papan tengah Moto3 2026 masih sangat terbuka.

Veda: Ingin Lebih Setelah Podium Brasil

Veda sebenarnya sudah menunjukkan ambisi besar sejak awal musim. Setelah menjadi pembalap Indonesia pertama yang naik podium di Grand Prix melalui hasil finis ketiga di GP Brasil, ia menyatakan kepercayaan dirinya meningkat.

"Kini saya tahu bahwa saya mampu bertarung di baris depan. Jadi, saya mau lebih," tutur runner-up Red Bull MotoGP Rookies Cup 2025 itu.

Kalimat itu kembali relevan setelah GP Belanda. Di Assen, Veda memang sempat membuktikan bahwa ia bisa berada di baris depan. Namun, hasil akhir menunjukkan, bertarung di depan saja belum cukup. Ia juga harus menuntaskan balapan dan mengonversi kecepatan menjadi poin.

Dalam kesempatan yang sama setelah podium Brasil, Veda juga menegaskan tekadnya untuk terus belajar menghadapi lintasan baru.

"Sirkuit itu (Americas-red) baru bagi saya. Namun, saya akan terus belajar dan melakukan yang terbaik," ujar Veda, dikutip dari laman resmi tim balap Honda, Honda Racing.

Mental belajar itu kini kembali dibutuhkan. Setelah gagal finis di Assen, Veda perlu segera memulihkan fokus agar tidak kehilangan momentum di seri berikutnya.

Belum Saatnya Panik

Turun ke posisi ketujuh tentu bukan hasil ideal bagi Veda. Namun, musim masih panjang dan peluang untuk memperbaiki posisi tetap terbuka.

Veda sudah membuktikan beberapa hal penting sepanjang musim ini. Ia mampu finis lima besar, mampu naik podium, mampu mencatat performa kuat dari posisi start belakang, dan mampu menembus kelompok depan saat balapan berlangsung.

Satu hal yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah konsistensi. Veda perlu mengurangi kesalahan yang membuatnya kehilangan poin besar, terutama ketika sudah berada dalam posisi bagus.

Gagal finis di Assen menjadi pengingat bahwa Moto3 bukan hanya soal kecepatan satu lap atau keberanian menyalip. Kelas ini juga menuntut kesabaran, kontrol, dan keputusan tepat di tengah tekanan.

Fokus Mengejar Lima Besar

Dengan 82 poin, Veda masih berada dalam jangkauan untuk kembali ke posisi lima besar. Jarak 20 poin dari Uriarte dan Morelli memang tidak kecil, tetapi masih bisa dikejar jika Veda meraih hasil kuat dalam satu atau dua seri.

Namun, ia juga harus berhati-hati terhadap tekanan dari belakang. Valentin Perrone hanya tertinggal tiga poin, sementara pembalap lain masih berpeluang mendekat jika Veda kembali gagal mencetak angka.

Bagi Honda Team Asia, tugas berikutnya adalah membantu Veda menjaga performa balapan dan meminimalkan risiko. Kecepatan sudah ada. Tantangan utamanya adalah membuat kecepatan itu bertahan sampai garis finis.

GP Belanda membuat Veda kehilangan satu posisi. Tetapi, jika melihat performa sebelum crash, peluang untuk bangkit masih terbuka. Veda tinggal membuktikan bahwa kegagalan di Assen hanya menjadi hambatan sementara, bukan titik balik yang merusak musim debutnya.