Otomotif

Penjualan BYD Turun 15,7%, Ekspor Melonjak 68% Jadi Penopang

Penjualan BYD turun 15,72% pada semester I 2026, disertai penurunan pendapatan dan laba. Namun, ekspor melonjak hampir 68% menjadi 792.000 unit

2 jam yang lalu · 5 mnt baca
BYD
Ilustrasi - Pabrik perakitan kendaraan milik BYD. dok. byd.com
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - BYD menghadapi dua wajah berbeda sepanjang semester pertama 2026. Penjualan kendaraan dan laba perusahaan tertekan, terutama akibat pelemahan pasar domestik China serta keterbatasan pasokan baterai. Namun, ekspansi ke pasar global justru melesat dan menjadi penopang penting bagi produsen kendaraan listrik asal Shenzhen tersebut.

Dalam laporan keuangan interim yang dirilis 28 Agustus 2026, BYD membukukan pendapatan operasional sekitar 344,82 miliar yuan atau US$50,6 miliar sepanjang Januari-Juni 2026. Nilainya turun 7,13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham juga merosot 20,54% menjadi sekitar 12,32 miliar yuan. Laporan interim BYD tercatat resmi di Bursa Hong Kong pada 28 Agustus 2026.

Tekanan tersebut sejalan dengan penjualan kendaraan energi baru atau new energy vehicle (NEV) BYD. Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, perusahaan menjual 1.808.511 unit, turun 15,72% secara tahunan.

Meski demikian, kinerja mulai menunjukkan perbaikan pada kuartal kedua. Laba bersih BYD periode April-Juni melonjak 30% menjadi 8,2 miliar yuan dibandingkan tahun sebelumnya. Ini sekaligus menjadi pertumbuhan laba kuartalan pertama setelah empat kuartal berturut-turut mengalami penurunan.

Pendapatan kuartal kedua masih turun 3,2% menjadi 194,6 miliar yuan. Pertumbuhan laba sebesar 30% tersebut juga masih berada di bawah rata-rata proyeksi sejumlah analis yang dihimpun Reuters, yakni sekitar 48%.

Blade Battery Generasi Kedua Jadi Hambatan Produksi

Ketua sekaligus Presiden BYD Wang Chuanfu mengaitkan tekanan penjualan dengan keterbatasan kapasitas produksi Blade Battery generasi kedua, yang diperkenalkan perusahaan bersama teknologi pengisian daya sangat cepat. “Penjualan tahun ini bergantung pada produksi baterai,” kata Wang.

Wang sebelumnya mengatakan kapasitas Blade Battery generasi kedua masih belum mencukupi permintaan dan tengah ditingkatkan sekitar 20.000 hingga 30.000 unit per bulan. Pergantian lini produksi dari baterai generasi pertama ke generasi kedua juga membuat waktu pengiriman sejumlah model menjadi lebih panjang.

Baterai generasi terbaru itu menjadi bagian penting dari strategi teknologi BYD. Perusahaan mengklaim sistem tersebut mampu mengisi daya dari 10% menjadi 70% dalam sekitar lima menit dan mencapai 97% dalam sembilan menit pada kondisi yang mendukung. Permintaan terhadap kendaraan dengan teknologi tersebut kemudian melampaui kapasitas produksi sel baterai yang tersedia.

Tekanan mulai mereda setelah peningkatan lini produksi secara bertahap selesai pada Mei. Penjualan bulanan BYD pada bulan tersebut mencapai 383.453 NEV dan tumbuh tipis 0,26%, sekaligus mengakhiri rangkaian penurunan penjualan tahunan selama delapan bulan.

Ekspor BYD Justru Melonjak

Di tengah tekanan tersebut, pasar internasional menjadi titik terang terbesar BYD.

Sepanjang Januari-Juni 2026, perusahaan mengekspor sekitar 792.000 kendaraan, meningkat 67,8% dibandingkan periode sama tahun lalu. Jumlah itu setara hampir 44% dari seluruh penjualan BYD selama enam bulan pertama tahun ini.

Perhitungan Reuters berdasarkan laporan penjualan bulanan BYD menunjukkan pertumbuhan pengiriman luar negeri berada di kisaran 71%, menjadi lebih dari 790.000 unit. Perbedaan tipis persentase tersebut berasal dari basis penghitungan yang digunakan, tetapi keduanya sama-sama memperlihatkan lonjakan tajam bisnis internasional BYD.

Ekspansi luar negeri bahkan mulai memberikan dampak nyata terhadap profitabilitas. Bisnis internasional menyumbang sekitar 53% dari total pendapatan BYD pada semester pertama 2026. Margin laba kotor bisnis luar negeri mencapai sekitar 22%, naik 1,9 poin persentase.

Secara keseluruhan, margin kotor BYD naik menjadi 18,85%, dari 18,01% pada periode sama tahun lalu. Perusahaan mengaitkan peningkatan tersebut terutama dengan pertumbuhan bisnis kendaraan di luar China.

"Ekspor benar-benar menjadi sumber kelegaan bagi produsen mobil tersebut," kata analis eToro Zavier Wong seperti dikutip Reuters.

Namun, Wong memperingatkan keuntungan dari ekspor belum tentu dapat sepenuhnya mengimbangi lemahnya profitabilitas di China karena BYD juga harus menghadapi tarif, investasi pemasaran, serta biaya riset dan pengembangan di pasar internasional.

Target Penjualan Luar Negeri 1,5 Juta Unit

Melihat pertumbuhan tersebut, Wang optimistis BYD dapat melampaui target 1,5 juta kendaraan di pasar luar negeri sepanjang 2026. Perusahaan dalam beberapa tahun terakhir memang agresif mengurangi ketergantungan terhadap China. BYD memperluas jaringan di Eropa dan Asia Tenggara sekaligus masuk lebih dalam ke pasar Jepang. 

Reuters mencatat perusahaan pada Juli meluncurkan kendaraan listrik berharga terjangkau untuk memasuki segmen mobil mini Jepang. Strategi global itu menjadi semakin penting karena pasar China masih menghadapi perang harga dan persaingan dari berbagai produsen kendaraan listrik maupun kendaraan hibrida.

"Pasar domestik masih menjadi faktor negatif bagi BYD karena penjualan kendaraan sedang menurun dan persaingan harga tetap sengit," kata Managing Director Automotive Foresight Yale Zhang.

Menurut Reuters, permintaan kendaraan di China turut menghadapi tekanan dari berkurangnya insentif trade-in, lesunya sektor properti, serta kekhawatiran konsumen mengenai pendapatan dan lapangan kerja.

Geely Mulai Memberi Tekanan

Persaingan BYD di pasar domestik juga semakin ketat. CarNewsChina mencatat penjualan domestik BYD sepanjang Januari-Juni berada di sekitar 1,016 juta kendaraan, sementara penjualan Geely di China, termasuk kendaraan bermesin pembakaran internal, mendekati 950.000 unit. Selisih keduanya tinggal sekitar 66.000 unit.

Secara global, Geely Auto sendiri mencatat penjualan lebih dari 1,42 juta kendaraan selama semester pertama 2026, dengan pendapatan mencapai rekor 173,6 miliar yuan. Ekspor Geely melonjak 158% menjadi lebih dari 474.000 unit, sementara laba inti yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham meningkat 46% menjadi 9,68 miliar yuan.

Reuters menilai tren tersebut menunjukkan ekspor bukan hanya menjadi penyangga bagi BYD. Produsen mobil China lain seperti Geely, SAIC Motor, dan Leapmotor juga memperoleh dorongan dari ekspansi internasional ketika kompetisi di dalam negeri semakin sengit.

Denza hingga Yangwang Ikut Tumbuh

Selain ekspor, strategi masuk ke segmen premium mulai memberikan kontribusi lebih besar bagi BYD. Tiga mereknya, Denza, Fang Cheng Bao, dan Yangwang, membukukan penjualan gabungan sekitar 228.000 unit pada semester pertama 2026. Jumlah tersebut tumbuh 61% dibandingkan tahun sebelumnya dan kini menyumbang sekitar 12,6% dari total penjualan perusahaan.

Perubahan komposisi penjualan menuju produk yang lebih mahal dan pasar internasional dengan margin lebih tinggi menjadi salah satu alasan laba BYD mampu berbalik tumbuh pada kuartal kedua meski pendapatan masih menurun.

Kinerja semester pertama 2026 dengan demikian menunjukkan tantangan utama BYD kini bukan sekadar menjual lebih banyak kendaraan. Perusahaan harus mengejar kapasitas Blade Battery generasi kedua, mempertahankan posisi di pasar China yang semakin ketat, sekaligus memastikan ekspansi internasional yang sangat cepat mampu menghasilkan laba secara berkelanjutan.

Untuk saat ini, ekspor menjadi penyeimbang utama. Saat penjualan NEV keseluruhan turun 15,72%, pengiriman luar negeri justru tumbuh hampir 68% dan menyumbang sekitar 44% volume penjualan. Jika kapasitas baterai dapat mengejar permintaan, paruh kedua 2026 akan menjadi ujian apakah momentum internasional tersebut cukup kuat untuk membawa BYD kembali ke jalur pertumbuhan.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai BYD, mobil listrik, dan penjualan mobil listrik dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.