IHSG Diprediksi Konsolidasi Selasa di Level 6.450-6.570
Sejumlah analis memproyeksikan arah IHSG pada perdagangan Selasa (1/9), dengan sentimen The Fed, konflik Timur Tengah, dan data inflasi domestik jadi penentu arah.

Periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak terbatas pada perdagangan Selasa (1/9), setelah sepanjang Agustus 2026 mencatat penguatan 4,64% secara bulanan. Sejumlah analis menyoroti tekanan dari pidato hawkish Chairman The Fed, konflik Timur Tengah, hingga rilis data inflasi domestik yang bakal menentukan arah indeks.
Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis menjadi salah satu analis yang membuka proyeksinya. Ia menyebut tekanan datang dari pidato hawkish Chairman The Fed, konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan, hingga koreksi harga emas.
"Serta pelaku pasar tengah mengantisipasi efektifnya rebalancing indeks MSCI bulan Agustus, telah menjadi faktor-faktor yang memengaruhi tekanan indeks," jelas Alrich, dikutip Selasa (1/9).
Secara teknikal, kata dia, IHSG masih bertahan di atas level MA5, sementara indikator Stochastic RSI menunjukkan indikasi reversal di area pivot. Meski begitu, histogram positif MACD disebutnya mulai melemah.
"Sehingga diperkirakan IHSG akan berkonsolidasi pada kisaran level 6.450-6.570 pada perdagangan awal September 2026," kata Alrich.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana punya pandangan berbeda. Ia memperkirakan IHSG masih berpeluang menguat, meski dengan kecenderungan terbatas, dengan support di level 6.502 dan resistance di 6.537.
"Investor menanti ada rilis data inflasi dan neraca dagang Indonesia, investor juga mencermati tensi geopolitik Timur Tengah yang belum meredam," jelas Herditya.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menambahkan sentimen dari data inflasi Agustus 2026 yang diperkirakan tumbuh 2,86% secara tahunan, serta PMI manufaktur yang diproyeksikan tetap ekspansif di level 50,5.
"Sehingga hal ini akan cenderung direspon moderat oleh pasar karena belum adanya perubahan materil," kata Audi.
Audi menuturkan pergerakan IHSG turut dipengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah, seiring pelemahan indeks dolar AS (DXY). Pasar diperkirakan merespons positif jika tren pelemahan dolar tersebut berlanjut. Rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.722 per dolar AS pada akhir perdagangan Senin (31/8/2026).
Audi memproyeksikan IHSG bergerak mixed cenderung menguat terbatas dalam rentang support 6.428 dan resistance 6.585, dengan indikator MACD menunjukkan tren melandai. Untuk perdagangan Selasa (1/9), Kiwoom Sekuritas merekomendasikan speculative buy saham MEDC dengan support Rp1.340 dan resistance Rp1.545, serta trading buy ESSA di rentang Rp610-Rp720.
"Di sisi lain, kenaikan harga minyak pasca serangan militer AS dengan target peluncur roket, menjadikan serangan pertama dalam lebih dari sebulan terakhir kembali meningkatkan kekhawatiran pasar," jelas Audi.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai ihsg hari ini, Prediksi IHSG, dan rekomendasi saham dengan mengeklik tautan.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.