Periskop.id — Bank Jakarta memilih jalur pertumbuhan yang lebih selektif di tengah tekanan kenaikan suku bunga dan biaya dana yang mulai terasa di industri perbankan. Alih-alih mengejar ekspansi besar-besaran, perseroan memilih menjaga kualitas aset, efisiensi pendanaan, dan keberlanjutan bisnis.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, strategi tersebut menjadi penting karena situasi industri keuangan tidak lagi sama seperti beberapa tahun sebelumnya. Menurut dia, bank tidak cukup hanya mengandalkan ekspansi kredit, tetapi juga harus cermat membaca perubahan biaya dana, perilaku nasabah, serta persaingan layanan digital.
"Kita enggak kejar-kejaran nyari pertumbuhan besar, tetapi yang kita kejar adalah pertumbuhan yang sehat dan berkualitas," ujar Agus dalam bincang-bincang "Shaping the Next Era of Indonesia's Capital Market" pada Investor Day 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (30/6).
Pernyataan itu disampaikan ketika industri perbankan berada dalam fase tekanan baru. Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate menjadi 5,75%pada 18 Juni 2026, setelah sebelumnya berada di 5,50% pada 9 Juni dan 5,25% pada 20 Mei 2026. Kenaikan suku bunga acuan tersebut diarahkan untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027.
Kenaikan suku bunga acuan biasanya ikut memengaruhi biaya penghimpunan dana perbankan. Agus menilai sinyal kenaikan biaya dana itu sudah terlihat dari persaingan bunga deposito, terutama pada lelang dana institusi.
Ia menyebut bunga deposito dalam lelang dana sempat mencapai 11,5%. Bagi perbankan, kondisi tersebut menjadi alarm karena biaya untuk menarik dana masyarakat dan institusi berpotensi semakin mahal.
"Ini sudah warning bagi perbankan. Artinya cost of fund perbankan ini akan naik sangat signifikan ke depan," serunya.
Meski menghadapi tekanan tersebut, Bank Jakarta tidak menutup ruang ekspansi. Perseroan tetap menyiapkan pertumbuhan bisnis, tetapi dengan pendekatan yang lebih hati-hati. Strategi itu mencakup diversifikasi sumber pendanaan, penguatan basis dana murah, dan pemanfaatan ekosistem Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai salah satu kekuatan utama.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan kondisi industri perbankan nasional yang secara umum masih kuat. Otoritas Jasa Keuangan mencatat kredit perbankan pada April 2026 tumbuh 9,98% secara tahunan menjadi Rp8.755 triliun. Dana pihak ketiga atau DPK juga tumbuh 11,39% secara tahunan menjadi Rp10.077 triliun.
Kualitas Kredit Terkendali
Dari sisi risiko, kualitas kredit masih terkendali. OJK mencatat NPL gross perbankan pada April 2026 sebesar 2,17 persen dan NPL net 0,84%. Likuiditas juga dinilai memadai, tercermin dari rasio AL/NCD sebesar 111,13% dan AL/DPK sebesar 25,39% jauh di atas ambang batas masing-masing 50% dan 10%.
Bank Indonesia juga mencatat kredit perbankan pada Mei 2026 tumbuh lebih tinggi, yakni 11,51% secara tahunan. Pertumbuhan itu ditopang kredit investasi yang naik 21,95%, kredit modal kerja 8,09%, dan kredit konsumsi 5,89%. BI memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap berada di kisaran 8 sampai 12%.
Menurut Agus, data fundamental yang masih positif itu menunjukkan masalah utama perbankan saat ini bukan terletak pada daya tahan industri. Tantangan lebih besar justru muncul dari perubahan lanskap bisnis, tekanan likuiditas, biaya dana, dan ekspektasi nasabah yang terus bergerak cepat.
"Persoalannya sebenarnya bukan di fundamentalnya, tetapi medan permainannya berubah," ujarnya.
Ia menjelaskan, industri keuangan dalam beberapa tahun terakhir menghadapi banyak peristiwa yang sulit diprediksi. Mulai dari pandemi, konflik geopolitik global, hingga perubahan arah kebijakan perdagangan internasional, seluruhnya memberi dampak terhadap pasar keuangan dan strategi bisnis perbankan.
Dalam konteks tersebut, Bank Jakarta memperkuat transformasi di berbagai lini. Transformasi dilakukan melalui pembaruan model bisnis, digitalisasi layanan, penguatan manajemen risiko, serta pembentukan budaya kerja yang lebih adaptif.
Agus menilai transformasi tidak bisa lagi dipahami sekadar sebagai pengembangan aplikasi atau layanan digital. Perubahan perilaku nasabah membuat bank harus mampu menyediakan layanan yang cepat, mudah, murah, aman, dan terhubung dalam satu ekosistem.
"Orang itu sudah enggak melihat bank itu dari produknya, tapi dari seberapa mudah, murah, cepat, aman layanan atau bahkan ekosistem yang ditawarkan oleh bank itu sendiri," katanya.
Arah transformasi Bank Jakarta juga terlihat dari sejumlah penguatan layanan digital.
Layanan Digital Bank Jakarta
Sebelumnya dikabarkan, Bank Jakarta ikut memacu layanan digital dalam gelaran Jakarta Fair 2026. Dalam kegiatan itu, perseroan menyediakan layanan JakOne Mobile, pembukaan rekening daring, pengajuan kredit, pembiayaan, hingga pembayaran pajak daerah.
Dalam berita tersebut, Agus menyebut kolaborasi layanan digital dan ritel sebagai upaya menghadirkan pengalaman transaksi yang lebih relevan bagi masyarakat.
"Melalui kehadiran konsep baru yaitu engagement store dengan menggandeng Bli-Bli, kami berharap warga masyarakat Jakarta dapat menikmati pengalaman belanja dan transaksi yang unik dan berkesan," kata Agus H. Widodo.
Selain digitalisasi, kualitas layanan juga menjadi bagian penting dari strategi perseroan. Tak heran, Bank Jakarta meraih tiga penghargaan dalam 23rd Infobank-MRI Banking Customer Experience Appreciation 2026, termasuk penghargaan terkait pengalaman layanan cabang dan pembukaan rekening melalui aplikasi mobile.
Direktur Teknologi & Operasional Bank Jakarta Daniel Setiawan Subianto mengatakan, pengembangan layanan diarahkan agar lebih mudah dijangkau dan sesuai kebutuhan nasabah.
"Berbagai pengembangan inovasi layanan yang kami lakukan diarahkan untuk menghadirkan layanan yang semakin mudah diakses, aman, serta mampu menjawab kebutuhan nasabah yang terus berkembang," tambah Daniel.
Bagi Bank Jakarta, strategi pertumbuhan selektif menjadi jalan tengah antara ekspansi dan kehati-hatian. Bank tetap perlu tumbuh, tetapi tidak boleh mengabaikan kualitas portofolio, efisiensi dana, dan penguatan layanan. Terlebih, persaingan perbankan kini bukan hanya soal bunga kredit atau jumlah produk, tetapi juga kemampuan membangun ekosistem yang memudahkan nasabah dalam bertransaksi.
Sebagai bank pembangunan daerah, posisi Bank Jakarta juga berada dalam kerangka penguatan BPD nasional. OJK mencatat industri BPD tetap tumbuh solid dengan kualitas pembiayaan yang terjaga. Rasio NPL gross BPD berada di level 3,26% dan NPL net 1,27%. OJK juga menekankan pentingnya Roadmap Penguatan BPD 2024-2027 yang mencakup penguatan struktur, transformasi digital, peran ekonomi daerah, serta pengawasan.
Dengan tekanan biaya dana yang meningkat, Bank Jakarta memilih tidak masuk dalam perlombaan pertumbuhan agresif. Perseroan lebih menempatkan kualitas sebagai fondasi utama, mulai dari kualitas kredit, kualitas pendanaan, kualitas layanan, hingga kualitas transformasi digital.
Melalui strategi selective growth, diversifikasi pendanaan, dan penguatan ekosistem digital, Bank Jakarta optimistis dapat menjaga kinerja yang sehat di tengah perubahan industri keuangan yang semakin kompetitif.
Tinggalkan Komentar
Komentar