Periskop.id – Bank Jakarta dan Bursa Efek Indonesia (BEI) sama-sama menilai industri keuangan nasional masih memiliki fondasi yang kuat. Namun, perubahan kondisi ekonomi, tekanan biaya dana, percepatan digitalisasi, hingga perilaku investor yang makin dinamis membuat pelaku industri tidak bisa lagi mengandalkan pola bisnis lama.

Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, kondisi perbankan nasional secara umum masih solid. Pertumbuhan kredit masih positif, permodalan tetap kuat, likuiditas terjaga, dan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) masih berada pada level yang terkendali.

"Persoalannya sebenarnya bukan di fundamentalnya, tetapi medan permainannya berubah," kata Agus dalam bincang-bincang "Shaping the Next Era of Indonesia's Capital Market", Investor Day 2026, Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (30/6).

Pernyataan Agus menggambarkan tantangan baru industri keuangan. Perbankan tidak sedang menghadapi masalah fundamental, tetapi harus beradaptasi dengan medan kompetisi yang berubah cepat. Dalam beberapa tahun terakhir, bank menghadapi rangkaian tekanan yang sulit diprediksi, mulai dari pandemi covid-19, konflik geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan internasional, hingga tekanan suku bunga.

Kondisi tersebut juga terlihat dari arah kebijakan moneter. Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur 17-18 Juni 2026 menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%, Deposit Facility menjadi 4,75%, dan Lending Facility menjadi 6,50%. BI menyebut langkah itu diambil untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global serta menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5±1%.

Di sisi intermediasi, data industri sebenarnya masih menunjukkan daya tahan yang kuat. Bank Indonesia mencatat kredit perbankan pada Mei 2026 tumbuh 11,51% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan April 2026 sebesar 9,98%. Pertumbuhan itu ditopang kredit investasi yang naik 21,95%, kredit modal kerja 8,09%, dan kredit konsumsi 5,89%.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat kinerja intermediasi perbankan tetap positif. Pada April 2026, kredit perbankan tumbuh 9,98% secara tahunan menjadi Rp8.755 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,39% menjadi Rp10.077 triliun. Kualitas kredit juga terjaga dengan NPL gross sebesar 2,17% dan NPL net 0,84%.

Namun, Agus mengingatkan industri perbankan tetap perlu waspada terhadap kenaikan biaya dana atau cost of fund. Ia menyebut bunga deposito dalam lelang dana antarbank sempat menyentuh level 11,5%. Angka tersebut menjadi sinyal, persaingan penghimpunan dana bisa semakin ketat dan mahal ke depan.

Bagi bank, kenaikan cost of fund bisa menekan ruang ekspansi jika tidak diimbangi strategi pendanaan yang lebih efisien. Karena itu, Bank Jakarta memilih tidak mengejar pertumbuhan agresif, melainkan memperkuat pertumbuhan yang lebih sehat, selektif, dan berkelanjutan.

"Kita enggak kejar-kejaran nyari pertumbuhan besar, tetapi yang kita kejar adalah pertumbuhan yang sehat dan berkualitas," ucap Agus.

Sebagai bank yang mayoritas sahamnya dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Jakarta melihat ekosistem pemerintah daerah sebagai salah satu sumber kekuatan bisnis. Perputaran anggaran, transaksi layanan publik, pembayaran pajak daerah, hingga kebutuhan pembiayaan di lingkungan Pemprov DKI Jakarta dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi basis pertumbuhan jangka panjang.

Kualitas Pendanaan dan Loyalitas Nasabah

Strategi itu tidak hanya diarahkan untuk menambah volume bisnis, tetapi juga memperkuat kualitas pendanaan dan loyalitas nasabah. Dengan mengoptimalkan ekosistem Pemprov DKI Jakarta, Bank Jakarta dapat memperluas basis dana murah dan memperkuat hubungan transaksi dengan masyarakat maupun pelaku usaha di Jakarta.

Selain penguatan ekosistem, Bank Jakarta juga mempercepat transformasi digital. Transformasi tersebut mencakup pembaruan infrastruktur teknologi, pengembangan aplikasi, integrasi layanan pembayaran, hingga peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Dorongan digitalisasi itu sejalan dengan tren transaksi keuangan nasional. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital pada Mei 2026 mencapai 5,22 miliar transaksi atau tumbuh 28,14% secara tahunan. Transaksi melalui aplikasi mobile tumbuh 26,16%, internet banking tumbuh 15,51%, dan transaksi QRIS melonjak 95,10%.

Dalam konteks itu, transformasi digital bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan utama. Nasabah tidak hanya menilai bank dari produk simpanan atau kredit, tetapi juga dari pengalaman layanan yang mudah, cepat, aman, murah, dan terhubung dengan kebutuhan sehari-hari.

Bank Jakarta sebelumnya juga memperkuat layanan digital dalam ajang Jakarta Fair 2026. Perseroan menghadirkan JakOne Mobile untuk transaksi pengunjung, layanan pembukaan rekening daring, pengajuan kredit, pembiayaan, ATM-CRM, serta pembayaran pajak daerah melalui EDC dan aplikasi JakOne Mobile.

Direktur Teknologi & Operasional Bank Jakarta Daniel Setiawan Subianto menyebut pengembangan layanan diarahkan untuk menjawab kebutuhan nasabah yang terus berubah.

"Berbagai pengembangan inovasi layanan yang kami lakukan diarahkan untuk menghadirkan layanan yang semakin mudah diakses, aman, serta mampu menjawab kebutuhan nasabah yang terus berkembang," tambah Daniel.

Di luar layanan digital, Bank Jakarta juga menaruh perhatian besar pada manajemen risiko. Menurut Agus, risiko industri perbankan saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan kredit. Risiko operasional, teknologi, likuiditas, reputasi, hingga keamanan siber menjadi bagian dari tantangan baru yang harus dikelola lebih serius.

"Risiko ke depan itu akan semakin multidimensi," serunya. 

Pertumbuhan Jumlah Investor

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Jeffry Hendrik menyoroti pentingnya kualitas investor dalam memperkuat pasar modal nasional. Menurut dia, pertumbuhan jumlah investor harus diimbangi dengan literasi, transparansi, dan keterbukaan informasi yang lebih baik.

Jeffry mengatakan, BEI bersama OJK dan self-regulatory organization (SRO) terus mendorong peningkatan transparansi pasar, penyediaan data investor yang lebih rinci, pendalaman pasar, serta penguatan keterbukaan informasi kepada publik.

"Kami yakin dengan transparansi yang lebih baik, tentu akan ada trust yang lebih tinggi," kata Jeffry.

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan basis investor domestik terus membesar. Hingga 12 Juni 2026, jumlah investor yang tercatat di KSEI mencapai 28,3 juta, dengan kepemilikan aset yang masih didominasi investor lokal. KSEI juga menegaskan komitmennya memperkuat transparansi dan kualitas data kepemilikan saham agar lebih granular dan andal.

Pertumbuhan jumlah investor itu menjadi peluang besar bagi pasar modal Indonesia. Namun, Jeffry menegaskan peningkatan jumlah investor tidak cukup jika tidak diikuti kualitas pengambilan keputusan investasi. Investor perlu memahami profil risiko, membaca data, dan tidak hanya mengikuti tren yang ramai di media sosial.

"Mampu melakukan analisis, tidak hanya ikut-ikutan apa kata influencer, tidak FOMO," ujarnya.

BEI melaporkan jumlah investor saham Indonesia mencapai rekor baru sebanyak 7.001.268 single investor identification (SID) per 26 Mei 2025. Jeffry menyebut, pertumbuhan investor tetap terjadi meski pasar menghadapi ketidakpastian global akibat kebijakan tarif impor Amerika Serikat.

“Pertumbuhan ini mencerminkan optimisme positif terhadap prospek perekonomian Indonesia, sehingga membuat minat masyarakat terhadap investasi di pasar modal dalam negeri masih tetap tinggi, bahkan di tengah dinamika ekonomi global,” ujar Jeffrey.

Jeffry juga menekankan pentingnya edukasi sebagai penyeimbang pertumbuhan investor. "BEI menyadari bahwa pertumbuhan jumlah investor harus diimbangi dengan penguatan infrastruktur informasi dan edukasi pasar modal," ujar Jeffrey.

Dengan demikian, pesan Bank Jakarta dan BEI bertemu pada satu titik yang sama: industri keuangan tidak cukup hanya tumbuh besar. Perbankan membutuhkan pertumbuhan kredit dan pendanaan yang berkualitas, sementara pasar modal membutuhkan investor yang lebih terdidik, rasional, dan mampu memahami risiko.

Di tengah tekanan suku bunga, kenaikan biaya dana, perubahan perilaku nasabah, serta lonjakan jumlah investor, kualitas menjadi kata kunci. Bank harus memperkuat manajemen risiko dan layanan digital, sedangkan pasar modal harus memperdalam transparansi, edukasi, dan literasi investasi.

Bagi Bank Jakarta, strategi pertumbuhan berkualitas menjadi cara untuk menjaga ketahanan bisnis di tengah perubahan lanskap perbankan. Sementara bagi BEI, penguatan kualitas investor menjadi modal penting agar pertumbuhan pasar modal tidak hanya besar secara angka, tetapi juga sehat dan berkelanjutan.