iklan periskop
Perbankan

Saldo Simpeda Tembus Rp74,86 Triliun, Asbanda Bidik Transformasi Digital 27 BPD

Saldo Tabungan Simpeda mencapai Rp74,86 triliun per Juni 2026. Asbanda mendorong 27 BPD memperkuat layanan digital, pembayaran, dan ekosistem merchant.

11 jam yang lalu · 5 mnt baca
Saldo Simpeda Tembus Rp74,86 Triliun, Asbanda Bidik Transformasi Digital 27 BPD
Malam puncak Penarikan Undian Nasional Tabungan Simpeda Tahun XXXVII-2026 di Bengkulu, Jumat (21/8/2026). Asbanda
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Tabungan Simpeda yang dikelola bersama Bank Pembangunan Daerah (BPD) se-Indonesia mencatat saldo Rp74,86 triliun per Juni 2026. Setelah tumbuh menjadi salah satu sumber dana ritel penting bagi BPD, Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) kini mendorong Simpeda bertransformasi dari produk tabungan konvensional menjadi layanan finansial digital yang lebih aktif digunakan masyarakat sehari-hari.

Transformasi tersebut diarahkan untuk menghubungkan kekuatan 27 BPD di berbagai daerah melalui layanan pembayaran, transfer, transaksi merchant hingga kebutuhan finansial digital lainnya. Strategi ini menjadi semakin relevan ketika perilaku transaksi masyarakat Indonesia bergerak cepat ke kanal digital.

Ketua Umum Asbanda Agus H. Widodo menilai, besarnya dana yang dihimpun Simpeda menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap jaringan BPD sekaligus menyediakan sumber pendanaan yang dapat kembali disalurkan ke perekonomian daerah.

"Rp75 triliun bukan sekadar angka di neraca. Di belakangnya terdapat kepercayaan masyarakat. Dana tersebut dihimpun dari masyarakat, dikelola secara prudent oleh BPD, kemudian diintermediasikan kembali menjadi pembiayaan bagi masyarakat, UMKM dan dunia usaha untuk menggerakkan ekonomi daerah," ujar Agus pada Malam Puncak Penarikan Undian Nasional Tabungan Simpeda Periode XXXVII di Bengkulu.

Simpeda Tak Lagi Cukup Jadi Tempat Menabung

Asbanda melihat tantangan Simpeda berikutnya bukan hanya memperbesar saldo maupun jumlah rekening. Produk tersebut harus mampu bersaing ketika masyarakat semakin terbiasa menggunakan aplikasi perbankan dan sistem pembayaran digital untuk berbagai transaksi.

Data Bank Indonesia menunjukkan volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,50 miliar transaksi sepanjang Juli 2026, tumbuh 28,69% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Transaksi melalui aplikasi mobile naik 24,25%, sedangkan transaksi QRIS tumbuh 82,42% secara tahunan. Volume transaksi melalui BI-FAST juga mencapai 546 juta dengan nilai Rp1.355 triliun pada bulan tersebut.

Perubahan tersebut menjadi alasan BPD perlu membawa Simpeda lebih jauh dari fungsi dasar penghimpunan dana.

"Simpeda ke depan tidak cukup hanya menjadi tempat menabung. Kami ingin Simpeda semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat—semakin modern, semakin digital dan semakin mudah digunakan, tanpa kehilangan kekuatan utamanya, yaitu kedekatan dengan masyarakat daerah," kata Agus.

Asbanda karena itu mendorong penguatan pengalaman digital, jaringan merchant, sistem pembayaran dan kualitas layanan di antara BPD. Transformasi juga ditujukan agar Simpeda tetap relevan bagi nasabah muda yang semakin terbiasa melakukan transaksi tanpa uang tunai.

Momentum penguatan dana ritel terjadi ketika industri perbankan nasional juga mencatat pertumbuhan penghimpunan dana. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan mencapai Rp10.282 triliun per Juni 2026, tumbuh 10,21% secara tahunan. Secara khusus, dana dalam bentuk tabungan tumbuh 12,16%. Pada periode yang sama, kredit perbankan tumbuh 12,67% menjadi Rp9.080,9 triliun.

Kondisi tersebut menunjukkan persaingan menghimpun dana masyarakat sekaligus mengubahnya menjadi sumber pembiayaan akan semakin ketat. Bagi BPD, penguatan Simpeda menjadi salah satu instrumen untuk mempertahankan basis dana ritel sambil memperluas fungsi intermediasi di daerah.

27 BPD Didorong Terhubung secara Nasional

Salah satu modal terbesar Simpeda adalah jaringannya yang digunakan bersama 27 BPD di Indonesia. Meski masing-masing bank memiliki pasar dan karakter nasabah daerah berbeda, Asbanda menilai keterhubungan tersebut dapat membentuk kekuatan perbankan yang lebih besar secara nasional.

"Positioning yang ingin kita bangun sangat jelas: Simpeda berakar kuat di daerah, tetapi terhubung secara nasional. Kekuatan lokal 27 BPD jika semakin kita hubungkan akan menjadi kekuatan finansial nasional yang besar," ujar Agus.

Konsep tersebut membuat diferensiasi BPD tidak harus hilang ketika layanan semakin digital. Sebaliknya, kedekatan masing-masing BPD dengan pemerintah daerah, UMKM, pelaku usaha dan masyarakat lokal dapat dihubungkan melalui ekosistem transaksi yang lebih luas.

Bank Indonesia juga terus mendorong kemampuan intermediasi kelompok BPD. Hingga awal Juli 2026, insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang diterima kelompok BPD tercatat mencapai Rp31,7 triliun, sebagai bagian dari kebijakan untuk mendorong penyaluran pembiayaan ke sektor-sektor prioritas, termasuk UMKM, pertanian, industri dan sektor inklusif.

Undian Simpeda Tarik Puluhan Ribu Warga

Dorongan transformasi tersebut disampaikan dalam rangkaian Penarikan Undian Nasional Tabungan Simpeda Tahun XXXVII-2026 yang digelar Asbanda bersama Bank Bengkulu di Bengkulu.

Sekitar 30 ribu masyarakat disebut menghadiri rangkaian malam puncak. Kehadiran perwakilan BPD dari berbagai daerah turut menggerakkan aktivitas perhotelan, transportasi, kuliner, perdagangan hingga UMKM di Bengkulu.

"BPD lahir dari daerah dan tumbuh bersama daerah. Karena itu, setiap aktivitas BPD sedapat mungkin harus menciptakan manfaat dan ikut menggerakkan ekonomi masyarakat di daerah," ucapnya. 

Rangkaian Undian Nasional Simpeda menyediakan total hadiah sekitar Rp3 miliar. Hadiah utama Rp500 juta dimenangkan nasabah Bank Kalbar, sementara empat hadiah masing-masing Rp100 juta jatuh kepada nasabah Bank Kalsel, Bank Jakarta, BPD DIY dan Bank Bengkulu. Pengundian disaksikan perwakilan dinas sosial, kepolisian dan notaris.

Namun, Agus menegaskan keberlanjutan Simpeda tidak boleh bergantung pada program hadiah. Menurutnya, kemampuan memberikan rasa aman, pelayanan yang baik dan kemudahan transaksi justru menjadi faktor penting untuk mempertahankan nasabah.

"Hadiah terbesar bagi nasabah bukan hanya undian. Hadiah terbesar yang harus diberikan BPD setiap hari adalah kepercayaan, keamanan, kemudahan dan pelayanan yang semakin baik," tegas Agus.

Dengan saldo mendekati Rp75 triliun dan jaringan 27 BPD, tantangan Simpeda kini bergeser dari sekadar memperbesar dana simpanan menjadi membangun ekosistem transaksi yang mampu menghubungkan kekuatan lokal secara nasional. Transformasi digital akan menentukan apakah Simpeda tetap sekadar produk tabungan atau berkembang menjadi salah satu pintu utama layanan perbankan masyarakat di daerah.

"Dana tumbuh dari masyarakat, dikelola oleh BPD, dan kembali kepada masyarakat untuk membangun daerah. Itulah kekuatan Simpeda. Dari daerah kita tumbuh bersama masyarakat, dan dengan kekuatan 27 BPD kita terhubung untuk membangun Indonesia," pungkas Agus.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Agus H. Widodo, asbanda, BPD, dan tabungan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.