Properti

Pasar Properti Melandai, Minat Pembeli Bergeser ke Bekasi dan Tangerang

Pasar properti residensial melandai pada Kuartal II 2026, tetapi minat pembeli bergeser ke Bekasi, Tangerang, Bogor, dan Surabaya.

4 hari yang lalu · 4 mnt baca
Pasar Properti Melandai, Minat Pembeli Bergeser ke Bekasi dan Tangerang
Ilustrasi pembelian rumah. AI Generated Image
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Aktivitas pasar properti residensial Indonesia melandai pada Kuartal II 2026. Kondisi tersebut tercermin dari Indonesia Property Market Signal milik Pinhome yang mencatat skor 50,3 pada periode tersebut, turun dari level aktivitas yang lebih tinggi di akhir 2025.

Meski melambat, pasar properti residensial masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Pasokan rumah tetap kuat, sementara kecepatan properti mendapatkan penawaran pertama mulai menunjukkan perbaikan setelah mengalami perlambatan pada Kuartal I 2026.

Indonesia Property Market Signal merupakan indikator awal yang mengukur sejumlah aktivitas pasar, mulai dari pencarian properti, interaksi terhadap listing, penawaran, pasokan rumah hingga kecepatan transaksi. Skor berada pada rentang 0-100, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan penguatan aktivitas pasar dibandingkan periode acuan.

Pada Kuartal II 2026, pelemahan paling terlihat pada aktivitas pencarian properti. Indikator yang mencakup penggunaan filter, penyimpanan listing atau wishlist, serta pembagian listing tersebut hanya mencatat skor 38,8.

Namun, kondisi itu tidak serta-merta menunjukkan hilangnya minat membeli rumah. Aktivitas calon pembeli dalam menghubungi agen maupun pemilik properti masih relatif terjaga.

CEO dan Founder Pinhome Dayu Dara Permata menilai perubahan tersebut lebih mencerminkan perilaku konsumen yang semakin selektif dalam menentukan rumah yang akan dibeli.

“Calon pembeli kini lebih fokus pada properti yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan anggaran mereka. Artinya, yang melambat bukan minat untuk membeli, melainkan proses pengambilan keputusan yang menjadi lebih terukur,” kata Dara.

Dari sisi pasokan, pasar justru menunjukkan kondisi yang lebih kuat. Indikator supply mencatat skor 56,8. Jumlah listing baru masih tinggi dan semakin banyak penjual menunjukkan urgensi untuk melepas propertinya.

Urgensi tersebut terlihat dari meningkatnya keterbukaan penjual terhadap negosiasi harga serta keinginan untuk menjual properti dalam waktu lebih cepat. Kondisi ini memberikan posisi tawar yang lebih besar kepada calon pembeli.

“Di tengah meningkatnya fleksibilitas dari sisi penjual, kondisi ini membuka peluang bagi pembeli untuk memperoleh kesepakatan yang lebih optimal,” ujar Dara.

Sinyal positif juga muncul dari sisi kecepatan transaksi. Indikator tersebut mencatat skor 55,4 pada Kuartal II 2026. Setelah mengalami perlambatan pada Kuartal I, waktu yang dibutuhkan sebuah listing untuk mendapatkan penawaran pertama kembali membaik pada Juni 2026.

Perbaikan terutama terlihat pada properti yang dipasarkan melalui agen. Listing yang menggunakan jasa agen tercatat lebih cepat memperoleh respons dari calon pembeli dibandingkan sebagian listing lainnya.

Minat Pembeli Bergeser ke Kawasan Penyangga

Perubahan aktivitas pasar juga terlihat dari pergeseran lokasi yang menjadi tujuan calon pembeli. Minat membeli tidak bergerak seragam di seluruh wilayah Jabodetabek dan kota-kota besar.

Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Kota Depok mencatat penurunan minat membeli paling tajam pada Kuartal II 2026. Sebaliknya, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Bogor justru mengalami penguatan.

Penguatan juga terjadi di sejumlah wilayah perkotaan di luar Jakarta. Kota Bekasi, Kota Tangerang, dan Surabaya mencatat peningkatan minat, sedangkan Kota Bandung relatif stabil.

Pola tersebut menunjukkan adanya pergeseran pusat aktivitas pasar dari sejumlah wilayah inti menuju kawasan penyangga. Faktor harga, ketersediaan rumah, akses transportasi, serta perkembangan infrastruktur menjadi bagian dari dinamika yang dapat memengaruhi pilihan konsumen.

Gambaran mengenai pasar residensial pada Kuartal II 2026 juga terlihat dalam survei Bank Indonesia. Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR), penjualan properti residensial di pasar primer memang masih mengalami kontraksi 2,36% secara tahunan pada Kuartal II 2026. Namun, penurunan tersebut jauh lebih kecil dibandingkan kontraksi 25,67% pada Kuartal I 2026.

Harga properti residensial primer juga tumbuh terbatas. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) naik 0,69% secara tahunan pada Kuartal II 2026, sedikit meningkat dibandingkan pertumbuhan 0,62% pada Kuartal I.

Perbaikan penjualan terutama didorong oleh rumah tipe kecil dan besar, sementara penjualan rumah tipe menengah masih terbatas. Dari sisi pembiayaan, KPR tetap menjadi pilihan utama konsumen dalam pembelian rumah primer dengan porsi 70,05%.

Data tersebut menunjukkan bahwa perlambatan aktivitas pasar tidak identik dengan berhentinya transaksi. Konsumen masih membeli rumah, tetapi proses pencarian, perbandingan, dan pengambilan keputusan berlangsung lebih hati-hati.

Pinhome menilai perubahan perilaku konsumen tersebut penting untuk dibaca sebagai sinyal awal karena aktivitas pencarian dan interaksi biasanya berubah sebelum dampaknya terlihat pada angka transaksi.

“Perubahan di pasar properti umumnya diawali oleh perubahan perilaku pencarian dan interaksi calon pembeli. Karena itu, Pinhome Indonesia Property Market Signal dirancang untuk menangkap sinyal-sinyal awal tersebut sehingga dapat memberikan perspektif yang lebih cepat mengenai dinamika pasar,” pungkas Dara.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai pinhome dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.