Properti

KAI Properti Tawarkan 1.276 Hunian TOD Manggarai Mulai Rp294 Juta

KAI Properti menawarkan 1.276 hunian TOD Manggarai mulai Rp294 juta. Proyek dekat Stasiun Manggarai menjadi bagian pengembangan 3.784 unit

1 hari yang lalu · 5 mnt baca
KAI properti
KAI Properti menghadirkan Maraya Residences dalam ajang Danantara Housing Expo 2026 yang berlangsung pada 27–30 Agustus 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2. dok. KAI Properti
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id – KAI Properti mulai memperkenalkan 1.276 unit hunian terintegrasi transportasi di Manggarai, Jakarta Selatan, dengan harga mulai Rp294 juta. Proyek bernama Maraya Residences itu menjadi tahap awal pengembangan kawasan hunian vertikal di sekitar Stasiun Manggarai sekaligus diarahkan untuk memperluas pilihan tempat tinggal di tengah kota bagi masyarakat yang bergantung pada transportasi publik.

Manager Corporate Communication KAI Properti Bramantya Candrika mengatakan konsep hunian tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan yang tidak hanya mempertimbangkan tempat tinggal, tetapi juga waktu tempuh dan kemudahan mobilitas.

“Dengan lokasi yang strategis di kawasan Manggarai, penghuni dapat memiliki akses yang lebih mudah menuju berbagai aktivitas dengan dukungan transportasi publik,” kata Bramantya di Jakarta, Minggu (30/8/2026).

Maraya Residences diperkenalkan dalam Danantara Housing Expo 2026 yang berlangsung pada 27–30 Agustus di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2. KAI Properti menawarkan 770 unit tipe studio satu kamar, 198 unit tipe 36 dua kamar, serta 308 unit tipe 45 tiga kamar. Harga ditawarkan mulai Rp294 juta dengan opsi cicilan mulai sekitar Rp1 jutaan per bulan, menurut informasi perusahaan.

Bramantya mengatakan konektivitas kini menjadi salah satu pertimbangan penting ketika masyarakat perkotaan memilih tempat tinggal. "Terlebih kawasan Manggarai merupakan salah satu simpul transportasi publik yang paling sibuk,” tambahnya.

Stasiun Manggarai Layani 162 Ribu Pergerakan per Hari

Pemilihan Manggarai sebagai lokasi proyek tidak terlepas dari posisi kawasan tersebut sebagai salah satu simpul transportasi tersibuk di Jabodetabek. Data KAI mencatat Stasiun Manggarai saat ini melayani sekitar 162 ribu pergerakan pelanggan per hari dan menjadi titik bagi sekitar 700–750 perjalanan kereta setiap hari.

Kawasan ini tidak hanya terhubung dengan KRL Commuter Line Jabodetabek, tetapi juga Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta, TransJakarta, Terminal Manggarai, serta dalam rencana pengembangan akan terintegrasi dengan LRT Jakarta. Kawasan TOD Manggarai secara keseluruhan memiliki delineasi sekitar 129 hektare, dengan sekitar 64 hektare merupakan lahan milik KAI.

Mobilitas penumpang juga menunjukkan tingginya aktivitas kawasan. Jumlah pelanggan KRL yang melakukan gate indi Stasiun Manggarai mencapai 5,58 juta orang pada 2024 dan 5,46 juta pada 2025. Sepanjang Januari–Juni 2026, jumlahnya sudah mencapai sekitar 2,72 juta pelanggan.

Kondisi tersebut menjadi dasar pengembangan hunian berbasis Transit Oriented Development atau TOD, yakni konsep yang mendekatkan kawasan tempat tinggal dengan angkutan massal, fasilitas pejalan kaki, ruang publik, serta aktivitas ekonomi.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin sebelumnya mengatakan pengembangan kawasan tidak dapat hanya melihat stasiun sebagai tempat naik dan turun penumpang.

“Manggarai memiliki peran besar dalam mobilitas masyarakat Jabodetabek. Karena itu, pengembangannya perlu melihat stasiun dan kawasan di sekitarnya sebagai satu kesatuan agar perpindahan antarmoda, akses pejalan kaki, dan aktivitas masyarakat semakin terhubung,” ujar Bobby.

Total Pengembangan Ditargetkan 3.784 Unit

Maraya Residences dengan 1.276 unit merupakan bagian dari rencana pengembangan Hunian Manggarai yang lebih luas. KAI telah melakukan groundbreaking proyek tersebut pada 21 Agustus 2026 di atas lahan sekitar 2,2 hektare.

Dalam rencana keseluruhan, proyek tersebut akan terdiri atas delapan menara setinggi 24 lantai dengan total 3.784 unit. Sebanyak 1.276 unit ditempatkan di Blok G melalui tiga menara, sementara Blok F direncanakan memiliki lima menara dengan 2.508 unit. Kawasan juga akan dilengkapi 150 unit ruang ritel.

Lokasi pengembangan disebut berada sekitar 400 meter dari Stasiun Manggarai, yang dalam perencanaan akses kawasan dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar empat menit. Selain hunian, kawasan dirancang memiliki pedestrian, ruang terbuka hijau dan fasilitas komunal.

Pembangunan keseluruhan proyek ditargetkan berlangsung sekitar 18 bulan sejak groundbreaking. KAI menyebut hunian tersebut diarahkan untuk masyarakat berpenghasilan rendah yang memenuhi kualifikasi pemerintah.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait sebelumnya juga mendorong model pembangunan hunian di sekitar simpul angkutan massal diperluas ke aset KAI lainnya karena keterbatasan lahan di kota besar.

BTN Siapkan KPR hingga 40 Tahun

Selain lokasi, pemerintah dan BUMN menyiapkan skema pembiayaan untuk memperluas akses terhadap hunian Manggarai. BTN sebelumnya menyatakan menyiapkan KPR bersubsidi dengan tenor hingga 40 tahun dan bunga 6% hingga lunas, selain KPR nonsubsidi bagi calon pembeli yang tidak masuk kriteria subsidi.

“Memang mandat kita mengurus rumah rakyat. Skema KPR-nya ini kita coba yang 40 tahun dengan bunga 6 persen sampai lunas. Jadi bunganya tidak akan berubah,” ujar Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu.

BTN menyebut skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang memenuhi ketentuan pemerintah. Sementara KPR nonsubsidi disiapkan untuk memperluas segmen calon penghuni.

Adapun penawaran Maraya Residences yang diumumkan KAI Properti menyebut harga mulai Rp294 juta dan cicilan mulai sekitar Rp1 jutaan per bulan. Besaran cicilan riil dapat berbeda bergantung tipe unit, skema pembiayaan, tenor dan kelayakan calon debitur.

"Kehadiran pilihan tersebut memberikan alternatif bagi masyarakat yang ingin memiliki hunian di kawasan strategis Jakarta dengan dukungan akses transportasi publik," kata Bramantya.

Backlog Kepemilikan Rumah Masih 9,29 Juta

Proyek ini hadir ketika Indonesia masih menghadapi persoalan besar dalam kepemilikan rumah. Data terbaru BPS yang dirilis Kementerian PKP menunjukkan backlog kepemilikan rumah pada Maret 2026 mencapai sekitar 9,29 juta rumah tangga, atau 12,39% dari rumah tangga secara nasional. Jumlah tersebut turun sekitar 350 ribu dibandingkan tahun sebelumnya.

Persoalannya bukan hanya kepemilikan. BPS juga mencatat backlog kelayakhunian masih berada di level 24,03% pada semester I 2026. Sementara proporsi rumah tangga yang sudah menempati rumah layak huni meningkat dari 68,40% pada 2025 menjadi 70,30% pada 2026.

Data tersebut menunjukkan pembangunan unit baru tetap perlu berjalan beriringan dengan keterjangkauan harga, pembiayaan dan kualitas hunian. Dalam konteks kota besar seperti Jakarta, tantangan tambahan muncul karena keterbatasan lahan serta jarak antara tempat tinggal dan pusat pekerjaan.

Karena itu, pengembangan TOD Manggarai bukan hanya soal menambah stok apartemen. Ukuran keberhasilannya juga akan ditentukan oleh apakah hunian benar-benar dapat dijangkau kelompok yang dituju, sekaligus mampu mengurangi ketergantungan perjalanan panjang dengan kendaraan pribadi melalui akses langsung ke transportasi massal.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai KAI, Transit Oriented Development (TOD), properti residensial, dan perumahan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.