periskop.id - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dijadwalkan membuka perdagangan perdana Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2026 pada Jumat, 2 Januari 2026. Acara pembukaan tersebut akan digelar di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta.
Berdasarkan undangan resmi yang diterima Periskop, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan membuka secara resmi perdagangan BEI tahun 2026 pada pukul 08.55 WIB. Dalam agenda tersebut, Presiden akan didampingi oleh Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK, Menteri Keuangan, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, serta Direktur Utama BEI.
Rangkaian kegiatan pembukaan perdagangan BEI 2026 dimulai sejak pukul 08.00 WIB. Acara akan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Disambung doa bersama lintas agama untuk Sumatera yang menghadirkan pemuka agama.
Setelah itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar dijadwalkan menyampaikan sejumlah laporan. Pada sesi yang sama juga dilakukan kickoff penggalangan dana bantuan untuk Sumatera dari stakeholder pasar modal.
Sebelumnya, perdagangan Bursa kembali ditutup tanpa kehadiran pejabat pemerintah. Seremoni penutupan perdagangan saham tahun 2025 dipimpin oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia, Inarno Djajadi, didampingi jajaran Dewan Komisioner OJK, Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon, serta Direktur Utama Self-Regulatory Organization (SRO).
Menutup 2025, IHSG berhasil melaju di zona hijau. IHSG dibuka pada posisi 8.627,400 dan berkutat di zona merah hingga ke level 8.584,865. Pada perdagangan sesi II, IHSG berhasil membalik posisi hingga sentuh 8.663,668 sebelum ditutup menguat 0,03% ke level 8.646,938.
Sepanjang 2025, IHSG berhasil mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) sebanyak 24 kali. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengatakan, capaian ini tak lepas dari campur tangan seluruh pemangku kepentingan.
"Tiap hari tutup (perdagangan) saya hitung, setahun ini 24 kali all time high (ATH). Jadi, kita bisa lihat bahwa pencapaian ini tidak hanya hasil kerja OJK, SRO, dan Bursa, tetapi juga kontribusi dari seluruh stakeholder pasar modal," ungkap Iman dalam konferensi pers penutupan perdagangan BEI Tahun 2025 di Jakarta, Selasa (30/12).
Iman mencermati, pada paruh pertama tahun ini IHSG sempat mengalami tekanan akibat dinamika global dan ketidakpastian geopolitik. Bahkan, IHSG sempat sentuh posisi terendahnya di level 5.996.
Ia menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan tajam IHSG. Pertama, kondisi global, khususnya ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif dagang resiprokal yang memengaruhi pasar dan menekan IHSG hingga level 5.996. Faktor kedua adalah pelemahan rupiah, dan faktor ketiga berasal dari konflik di Timur Tengah.
Langkah yang dilakukan selanjutnya adalah dengan penetapan trading halt, aturan trading halt ARB, serta ARB yang baru di paruh pertama. Memasuki paruh kedua, IHSG mampu mencetak 24 kali all time high sepanjang tahun, sementara kapitalisasi pasar (Market Cap) tertinggi baru mencapai Rp16.000 triliun. Rekor ATH terakhir dicatat pada 8 Desember 2025, dengan level 8.711.
"Terkait dengan geopolitik dan penurunan Fed Rate, terlihat bahwa paruh kedua ada tiga kali penurunan suku bunga Fed. Selain itu, ada kebijakan pro-growth pemerintah, termasuk injeksi likuiditas Rp200 triliun ke Bank Himbara, dan tambahan dari Menteri Keuangan (Purbaya) untuk Bank BPD," pungkas Iman.
Tinggalkan Komentar
Komentar