iklan periskop
Investasi

NAB Reksadana Tembus Rp667 Triliun per 7 Agustus 2026

OJK catat Nilai Aktiva Bersih reksadana naik jadi Rp667 triliun, sejalan dengan bertambahnya jumlah investor pasar modal yang tembus 30,27 juta orang.

1 jam yang lalu · 2 mnt baca
Mengenal Profil Risiko Investasi: Konservatif, Moderat, atau Agresif?
Ilustrasi Investasi. Foto: Envato
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana mencapai Rp667 triliun per 7 Agustus 2026. Angka ini naik dibandingkan posisi akhir Juli 2026 yang sebesar Rp663,26 triliun.

Selain NAB reksadana, OJK juga mencatat nilai Asset Under Management (AUM) industri pengelolaan investasi sebesar Rp1.026 triliun per periode yang sama. Sebagai perbandingan, AUM per 30 Juli 2026 tercatat Rp1.052,12 triliun, tumbuh 2,08% secara month-to-date namun terkoreksi 1,69% secara year-to-date.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyebut kenaikan dana kelolaan ini menandakan geliat positif industri. "Capaian ini menunjukkan bahwa Pasar Modal Indonesia terus tumbuh, baik dari sisi kemampuan menghimpun dana bagi dunia usaha maupun dari sisi perluasan basis investor," kata Hasan dalam konferensi pers HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia, Senin (10/8).

Menurutnya, kenaikan dana kelolaan juga mencerminkan makin beragamnya pilihan dan kebutuhan investasi masyarakat. Ia menilai capaian tersebut sejalan dengan bertambahnya basis investor di pasar modal domestik.

Data OJK menunjukkan jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 30,27 juta per 7 Agustus 2026, bertambah sekitar 9,8 juta dibanding periode sebelumnya. Mayoritas investor, yakni 78%, berusia di bawah 40 tahun.

Pertumbuhan dana kelolaan turut direspons positif oleh pelaku industri. Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menilai ruang pertumbuhan reksadana masih terbuka pada semester II 2026.

Ia memproyeksikan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga obligasi berpeluang membaik pada paruh kedua tahun ini. Proyeksi tersebut, menurutnya, jadi salah satu faktor pendorong minat investasi ke depan.

Panin Asset Management sendiri menawarkan sejumlah produk reksadana yang disesuaikan dengan profil risiko nasabah. Produk tersebut mencakup reksadana konvensional, global syariah, hingga reksadana terproteksi.

Rudiyanto berharap kinerja reksadana yang solid dapat menarik minat investor untuk berinvestasi jangka panjang. Menurutnya, hal itu pada akhirnya bakal mendorong pertumbuhan dana kelolaan perusahaan.

"Cukup baik karena kinerja IHSG dan harga obligasi berpeluang rebound di semester 2," kata Rudiyanto.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Hasan Fawzi, Otoritas Jasa Keuangan / OJK, reksa dana, dan pasar modal dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.