Periskop.id - Kualitas tidur di usia tua sering kali dianggap sebagai perkara sepele, namun sebuah riset terbaru yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Neurology pada 2023 membuktikan hal sebaliknya.
Studi ini menyoroti fase tidur nyenyak atau secara teknis disebut slow-wave sleep (SWS). Fase ini dikenal memiliki peran krusial bagi kesehatan otak karena berfungsi sebagai waktu bagi otak untuk membersihkan diri dari protein-protein beracun yang menjadi pemicu utama penyakit Alzheimer.
Berangkat dari hal tersebut, para peneliti berupaya membuktikan apakah berkurangnya waktu tidur nyenyak seiring bertambahnya usia memiliki hubungan langsung dengan kemunculan demensia atau kepikunan di masa depan.
Untuk menjawab teka-teki ini, para peneliti menggunakan data dari Framingham Heart Study, sebuah proyek riset kesehatan jangka panjang yang melibatkan masyarakat sebagai responden.
Dalam studi observasional ini, para peneliti memantau 346 peserta yang sudah memasuki usia lanjut, yakni minimal 60 tahun ke atas dengan rata-rata usia 69 tahun, dan dipastikan belum mengalami demensia saat riset dimulai. Semua peserta tersebut menjalani pemeriksaan tidur malam yang sangat detail sebanyak dua kali dalam rentang waktu terpisah sekitar lima tahun.
Metode Deteksi Tidur
Dalam mengukur kualitas tidur para lansia tersebut, para peneliti menggunakan metode bernama polysomnography (PSG) yang merujuk pada sebuah tes kesehatan tidur yang dilakukan dalam semalam penuh menggunakan alat khusus.
Alat ini berfungsi untuk merekam berbagai aktivitas biologis tubuh saat seseorang terlelap, mulai dari gelombang otak, tingkat oksigen dalam darah, detak jantung, pola pernapasan, hingga gerakan mata dan kaki.
Melalui alat PSG yang dipasang dua kali dalam jarak lima tahun tersebut, peneliti bisa mendeteksi secara akurat seberapa besar persentase penurunan fase slow-wave sleep (SWS) atau fase tidur paling nyenyak yang dialami oleh setiap peserta seiring bertambahnya usia mereka.
Setelah pemeriksaan tidur gelombang kedua selesai dilakukan, para peneliti terus memantau kondisi kesehatan para peserta selama 17 tahun ke depan guna mencatat siapa saja yang pada akhirnya terdiagnosis mengalami demensia.
Bahaya Penurunan Fase Tidur Nyenyak
Hasil analisis data yang dilakukan sejak Januari 2020 hingga Agustus 2023 menunjukkan temuan yang mengejutkan. Secara umum, faktor penuaan memang membuat semua orang kehilangan waktu tidur nyenyak mereka secara bertahap setiap tahun. Selama periode pemantauan 17 tahun, tercatat ada 52 kasus demensia baru yang muncul di antara para peserta riset.
Melalui pemodelan statistik matematika yang telah memperhitungkan berbagai faktor lain seperti usia, jenis kelamin, kebiasaan merokok, hingga penggunaan obat tidur dan obat penenang, peneliti menemukan angka risiko yang sangat signifikan.
Setiap penurunan satu persen saja dari fase tidur nyenyak (SWS) per tahunnya, hal itu langsung berkaitan dengan peningkatan risiko terkena demensia sebesar 27%. Angka ini membuktikan bahwa berkurangnya kenyamanan tidur malam memiliki dampak yang sangat nyata bagi penurunan fungsi kognitif otak di masa tua.
Sistem Pembersih Otak dan Faktor Genetik
Para peneliti menjelaskan bahwa alasan mengapa hilangnya fase tidur nyenyak ini begitu berbahaya berkaitan erat dengan sistem pembersih limbah biologis di dalam kepala kita, yang dikenal dengan glymphatic clearance.
Istilah ini merujuk pada sistem pembuangan sampah atau pembersihan alami di dalam otak yang bekerja secara aktif saat manusia sedang tertidur sangat pulas.
Jika seseorang kehilangan fase tidur nyenyak secara drastis dari tahun ke tahun, maka sistem pembersih ini akan terganggu secara terus-menerus. Akibatnya, sampah metabolik berbahaya berupa plak amiloid dan jaring protein tau yang memicu kerusakan saraf otak akan menumpuk, mengendap, dan memicu terjadinya demensia.
Selain itu, studi ini juga menemukan bahwa proses hilangnya tidur nyenyak ini berjalan jauh lebih cepat atau terakselerasi pada orang-orang yang memiliki faktor risiko genetik penyakit Alzheimer, yaitu mereka yang membawa gen bernama alel APOE epsilon 4.
Meski pemilik gen ini mengalami penurunan tidur nyenyak yang lebih parah, peneliti menegaskan bahwa penurunan fase tidur nyenyak tetap berbahaya dan meningkatkan risiko kepikunan bagi siapa saja, bahkan bagi mereka yang tidak memiliki riwayat genetik tersebut.
Catatan dan Keterbatasan Penelitian
Meskipun memberikan wawasan yang sangat berharga bagi dunia kesehatan, para peneliti mencatat beberapa keterbatasan dalam studi ini.
Karena riset ini bersifat observasional atau hanya mengamati pola yang terjadi di masyarakat, peneliti belum bisa memastikan secara mutlak apakah kurang tidur nyenyak adalah penyebab langsung yang memicu demensia, ataukah justru kondisi gejala awal demensia tersembunyi yang merusak pola tidur seseorang.
Selain itu, riset ini belum menggunakan alat deteksi biologi yang menjadi standar utama diagnosis Alzheimer. Pemeriksaan volume hipokampus, bagian otak yang mengatur memori, yang diukur di awal riset juga tidak menunjukkan hubungan langsung dengan perubahan pola tidur malam para peserta.
Namun, melalui berbagai bukti ilmiah pendukung mengenai sistem pembersihan otak dan faktor risiko pembuluh darah, para ilmuwan menyimpulkan bahwa menjaga dan meningkatkan kualitas tidur nyenyak di usia tua berpotensi besar menjadi salah satu cara yang bisa diubah dan diupayakan secara mandiri oleh manusia demi menekan risiko pikun di masa depan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar