periskop.id - Indonesia kembali mencatatkan namanya di peringkat 10 besar dunia. Sayangnya, kali ini bukan untuk prestasi olahraga atau ekonomi, melainkan untuk urusan “mata panda”. Data terbaru tahun 2026 mengungkapkan bahwa negara kita adalah salah satu negara dengan rata-rata durasi tidur terpendek di muka bumi.
Fenomena ini menjadi sinyal peringatan bahwa di balik produktivitas dan kesibukan kita sehari-hari, ada hak tubuh yang perlahan terabaikan. Apakah ini tanda kerja keras atau justru manajemen waktu yang krisis? Sebelum menjawabnya, mari kita lihat fakta angkanya terlebih dahulu.
Fakta Angka: Dominasi Asia di Daftar Negara Kurang Tidur
Jika kita menilik data lebih dalam, ada satu fakta yang tak bisa diabaikan dalam laporan tahun 2026 ini. Ternyata, juara begadang dunia diborong habis oleh negara-negara Asia, termasuk Indonesia yang memegang posisi ke-7. Berikut adalah daftar lengkap 10 negara dengan rata-rata durasi tidur paling sedikit berdasarkan data World Population Review:
- Jepang: 352 menit (5 jam 52 menit)
- Arab Saudi: 362 menit (6 jam 2 menit)
- Korea Selatan: 362 menit (6 jam 2 menit)
- Filipina: 368 menit (6 jam 8 menit)
- Kuwait: 375 menit (6 jam 15 menit)
- Taiwan: 381 menit (6 jam 21 menit)
- Indonesia: 385 menit (6 jam 25 menit)
- Qatar: 386 menit (6 jam 26 menit)
- Malaysia: 387 menit (6 jam 27 menit)
- Singapura: 394 menit (6 jam 34 menit)
Melihat data di atas, Indonesia menempati peringkat ke-7 dengan durasi tidur rata-rata 6 jam 25 menit. Angka ini menempatkan kita sedikit lebih baik dibandingkan Jepang yang durasi tidur penduduknya bahkan tidak sampai menyentuh angka 6 jam. Namun, jika dibandingkan dengan standar kesehatan global yang menyarankan tidur 7–9 jam per malam, kita jelas sedang mengalami defisit tidur nasional.
Mengapa angka-angka ini bisa begitu rendah? Apakah kita terlalu sibuk, atau justru salah mengelola waktu? Mari kita bahas di bagian selanjutnya.
Revenge Bedtime Procrastination: Balas Dendam yang Salah Sasaran
Jika Jepang dan Korea Selatan kerap diasosiasikan dengan budaya kerja ekstrem hingga larut malam, fenomena kurang tidur di Asia Tenggara, khususnya Indonesia memiliki dinamika yang sedikit berbeda. Persoalannya bukan hanya jam kerja panjang, tetapi juga hilangnya waktu pribadi di tengah rutinitas harian yang padat.
Dilansir dari berbagai sumber, fenomena ini dapat disebut sebagai revenge bedtime procrastination, yakni kebiasaan menunda tidur secara sadar sebagai bentuk balas dendam atas waktu yang habis tersita sepanjang hari. Fenomena ini muncul ketika seseorang merasa tidak memiliki kendali atas waktunya sehingga malam hari menjadi satu-satunya ruang untuk diri sendiri.
Bagi banyak pekerja di kota besar Indonesia, hari dihabiskan untuk bekerja dan menghadapi kemacetan. Ketika tiba di rumah, waktu sudah larut, tapi keinginan untuk langsung tidur kalah oleh dorongan mencari hiburan berselancar di media sosial, menonton serial, atau bermain game hingga dini hari.
Tingginya penetrasi handphone semakin memperkuat pola ini. Notifikasi tanpa henti dan konten digital yang mudah diakses membuat batas antara waktu istirahat dan waktu daring semakin kabur. Tanpa disadari, waktu menunjukkan lewat tengah malam, sementara siklus kurang tidur pun terus berulang. Kurang tidur akhirnya menjadi kebiasaan kolektif, bukan karena kurangnya kesadaran, melainkan karena tidur kerap menjadi hal pertama yang dikorbankan dalam ritme hidup modern.
Harga Mahal yang Harus Dibayar Tubuh
Banyak orang menganggap kurang tidur satu jam bukan masalah besar dan bisa ditebus di lain waktu. Padahal, tubuh manusia tidak bekerja dengan sistem utang. Jam tidur yang hilang akan menumpuk dampaknya, baik bagi kesehatan fisik maupun mental.
Rata-rata durasi tidur orang Indonesia sekitar 6 jam 25 menit per malam, masih berada di bawah batas ideal untuk pemulihan tubuh. Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat menurunkan konsentrasi, melemahkan daya ingat, dan membuat emosi lebih mudah tidak stabil.
Jika berlangsung terus-menerus, risikonya jauh lebih serius. Berbagai penelitian mengaitkan tidur kurang dari 7 jam secara konsisten dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, diabetes tipe dua, obesitas, serta penurunan sistem kekebalan tubuh. Saat tidur, tubuh membersihkan racun di otak dan memperbaiki sel-sel yang rusak. Ketika waktu tidur dipangkas, proses penting ini tidak berjalan optimal.
Tinggalkan Komentar
Komentar