Periskop.id - Republik Demokratik Kongo menulis salah satu kisah paling emosional di Piala Dunia 2026. Tim berjuluk Leopards itu berhasil melaju ke babak 32 besar setelah menaklukkan Uzbekistan 3-1 pada laga terakhir Grup K.
Kemenangan tersebut terasa bersejarah karena menjadi kemenangan pertama Kongo di putaran final Piala Dunia. Lebih dari itu, hasil tersebut juga mengantar mereka ke fase gugur untuk pertama kalinya, setelah terakhir kali tampil di Piala Dunia 1974 saat masih bernama Zaire.
Kongo mengakhiri fase grup dengan empat poin dari tiga pertandingan. Jumlah itu cukup untuk menempatkan mereka sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik dan membuat mereka berhak melanjutkan perjalanan ke babak 32 besar.
Kolombia finis sebagai juara Grup K dengan tujuh poin setelah bermain imbang 0-0 melawan Portugal. Portugal menyusul sebagai runner-up dengan lima poin. Uzbekistan menutup grup sebagai juru kunci tanpa meraih satu poin pun.
Uzbekistan Unggul Cepat lewat Shomurodov
Pertandingan berlangsung menegangkan sejak awal. Uzbekistan yang sudah kalah dalam dua laga pertama tetap mencoba tampil agresif dan sempat memberi kejutan.
Pada menit ke-10, Eldor Shomurodov membawa Uzbekistan unggul 1-0. Gol itu lahir dari serangan cepat setelah Abbosbek Fayzullaev mengirim sentuhan cerdik dari bola panjang. Shomurodov berlari melewati Aaron Wan-Bissaka, lalu menaklukkan kiper Lionel Mpasi dengan penyelesaian dari sudut sempit.
Gol tersebut menjadi momen penting bagi Uzbekistan karena untuk pertama kalinya mereka memimpin dalam pertandingan Piala Dunia. Namun, keunggulan itu tidak cukup untuk mengubah nasib mereka.
Kongo sempat memberi respons cepat pada menit-menit berikutnya. Nathanael Mbuku pernah menggetarkan gawang Uzbekistan setelah mendapat ruang dari aksi Brian Cipenga di sisi kiri. Namun, gol itu dianulir setelah pemeriksaan VAR karena Mbuku dinilai melakukan pelanggaran dalam proses serangan.
Hingga babak pertama selesai, Uzbekistan masih memimpin 1-0. Kongo mendominasi tekanan, tetapi belum mampu menyamakan kedudukan.
Wissa Bangkitkan Kongo dari Titik Penalti
Memasuki babak kedua, Kongo menaikkan intensitas serangan. Tim asuhan Sebastien Desabre semakin sering menekan pertahanan Uzbekistan dan memaksa lawan lebih banyak bertahan.
Kesabaran Kongo akhirnya berbuah hasil pada menit ke-68. Yoane Wissa dilanggar Abdukodir Khusanov di kotak penalti. Wissa sendiri maju sebagai eksekutor dan berhasil menaklukkan kiper Abduvohid Nematov.
Gol penalti itu mengubah skor menjadi 1-1 sekaligus menghidupkan kembali peluang Kongo. Setelah mencetak gol, Wissa tampil lebih percaya diri dan menjadi ancaman utama bagi lini belakang Uzbekistan.
Pelatih Kongo Sebastien Desabre memuji kepercayaan yang diberikan tim kepada penyerang tersebut.
“Untuk seseorang yang memulai musim dengan lambat, Wissa tampil baik. Kami mempercayainya,” kata Desabre.
Kutipan itu merujuk pada perjalanan Wissa yang sebelumnya sempat terganggu cedera di level klub bersama Newcastle United. Namun, pada laga penentuan melawan Uzbekistan, ia justru muncul sebagai pemain paling menentukan.
Fiston Mayele Balikkan Keadaan
Sepuluh menit setelah gol Wissa, Kongo berhasil membalikkan keadaan. Pada menit ke-78, tembakan Meschack Elia sempat diblok, tetapi bola bergulir liar ke arah gawang Uzbekistan.
Fiston Mayele bereaksi cepat. Pemain pengganti itu menyentuh bola dan mengangkatnya melewati kepala Nematov untuk membawa Kongo unggul 2-1.
Gol tersebut membuat suasana pertandingan berubah total. Uzbekistan yang sebelumnya berusaha mempertahankan keunggulan kini harus keluar menyerang. Namun, energi dan momentum justru berada di pihak Kongo.
Pada masa tambahan waktu, Kongo memastikan kemenangan. Wissa mendapat ruang di tepi kotak penalti dan melepaskan tembakan ke sudut gawang pada menit ke-90+1. Gol keduanya malam itu membuat skor menjadi 3-1 dan memicu selebrasi besar para pemain Kongo.
Kemenangan itu memastikan Kongo melaju ke babak 32 besar.
Kongo Dominan, Uzbekistan Kehabisan Tenaga
Secara statistik, Kongo memang lebih layak menang. Berdasarkan catatan FIFA yang dikutip ANTARA, Kongo melepaskan 19 percobaan ke gawang, sedangkan Uzbekistan hanya mencatat tiga percobaan.
Laga berlangsung sengit dengan total 22 pelanggaran. Wasit mengeluarkan tiga kartu kuning untuk pemain Kongo dan dua kartu kuning untuk Uzbekistan. Kongo sempat frustrasi karena banyak peluang terbuang, terutama pada babak pertama. Namun, dominasi mereka akhirnya menghasilkan tiga gol setelah jeda.
Sebaliknya, Uzbekistan gagal mempertahankan keunggulan setelah unggul hampir satu jam. Setelah mencetak gol cepat, mereka lebih banyak bertahan dan kesulitan keluar dari tekanan pada babak kedua. Pelatih Uzbekistan Fabio Cannavaro mengakui Piala Dunia memberi pelajaran keras bagi timnya.
“Anda pikir saya tidak gugup, saya tidak marah? Saya tidak merasa baik karena saya tidak suka kalah,” kata Cannavaro kepada wartawan.
“Kami membuat beberapa kesalahan, tentu saja, tetapi saya tidak bisa mengeluh tentang para pemain saya. Saya tidak akan pernah mengeluh tentang para pemain saya karena saya tahu, dan saya sudah mengatakan kepada Anda, Anda berada di konferensi pers dan Anda tahu apa yang saya katakan pada hari pertama ketika kami melihat hasil undian," bebernya.
“Piala Dunia itu brutal. Apakah mereka memberikan segalanya? Ya. Mereka sedih di ruang ganti. Percayalah, teman saya. Mereka lebih menderita daripada siapa pun di Uzbekistan,” ujarnya.
Cannavaro: Ada Rasa Takut untuk Menang
Cannavaro juga menilai Uzbekistan kehilangan keberanian setelah unggul. Menurut pelatih asal Italia itu, timnya tidak mampu menjaga tempo dan tidak cukup berani memanfaatkan ruang yang terbuka.
“Dalam pertandingan hari ini, rasa takut untuk menang mulai merayap masuk,” kata Cannavaro.
“Kami masuk ke ruang ganti saat jeda dan ketika kembali ke lapangan, saya sudah mengatakan kepada mereka bahwa kami perlu terus menaikkan tempo dan menjaga garis pertahanan lebih tinggi," imbuhnya.
“Saya memberi tahu mereka cara bermain dan apa yang harus dilakukan, karena Kongo mendorong wing-back mereka ke full-back kami, yang berarti ada banyak ruang untuk diserang di belakang mereka.”
“Sebaliknya, kami terus turun mendekat untuk menerima bola dengan punggung menghadap gawang, dan dalam pertandingan seperti ini, 99 dari 100 kali Anda akan kehilangan bola dengan cara itu,” ujarnya.
Pernyataan Cannavaro menggambarkan masalah utama Uzbekistan pada babak kedua. Mereka tidak mampu menjaga struktur permainan setelah mendapat tekanan bertubi-tubi dari Kongo.
Meski begitu, Cannavaro tetap meminta publik Uzbekistan melihat pengalaman Piala Dunia ini sebagai titik awal pembangunan jangka panjang.
“Kita harus memahami bahwa sepak bola Uzbekistan perlu berkembang,” kata Cannavaro.
“Sepak bola Uzbekistan harus terus menginvestasikan uang di akademi, menginvestasikan uang pada pemain muda, karena itu satu-satunya cara untuk mencoba membawa Uzbekistan ke Piala Dunia dalam 20 sampai 30 tahun ke depan,” ujarnya.
Penebusan Setelah 52 Tahun
Kelolosan Kongo memiliki makna besar secara historis. Ini adalah kali pertama mereka tampil lagi di Piala Dunia setelah 52 tahun. Pada 1974, mereka datang sebagai Zaire dan menjalani turnamen yang sangat berat dengan tiga kekalahan dan kebobolan 14 gol tanpa mencetak gol.
Piala Dunia 2026 menjadi penebusan. Kongo membuka turnamen dengan hasil imbang 1-1 melawan Portugal, lalu kalah tipis 0-1 dari Kolombia, sebelum akhirnya mengalahkan Uzbekistan 3-1.
Dalam tiga laga itu, Kongo menunjukkan perkembangan yang konsisten. Mereka mampu mencuri poin dari Portugal, bertahan cukup baik melawan Kolombia, lalu menunjukkan karakter comeback saat menghadapi Uzbekistan.
Kemenangan atas Uzbekistan juga menjadi kemenangan pertama mereka di Piala Dunia. Karena itu, kelolosan ke babak 32 besar terasa lebih dari sekadar hasil olahraga. Ini adalah momen simbolis bagi sepak bola Kongo.
Inggris Menunggu di Babak 32 Besar
Kongo akan menghadapi Inggris pada babak 32 besar. Menurut laporan Reuters, laga itu akan dimainkan di Atlanta, lokasi yang sama dengan kemenangan Kongo atas Uzbekistan. Tantangan berikutnya jelas jauh lebih berat. Inggris datang sebagai juara Grup L dan memiliki materi pemain yang kuat, termasuk Harry Kane, Jude Bellingham, Bukayo Saka, dan Marcus Rashford.
Namun, Kongo datang dengan kepercayaan diri besar setelah comeback bersejarah. Desabre menegaskan timnya tidak hanya ingin menikmati kelolosan, tetapi juga bersiap untuk mencoba memberi kejutan.
“Kami akan langsung mulai bekerja untuk pertandingan melawan Inggris, mempersiapkan diri dengan baik, dan kami akan mencoba memenanginya,” kata Desabre.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Kongo tidak ingin dipandang hanya sebagai tim kejutan. Mereka ingin bersaing, meski menghadapi salah satu tim favorit.
Uzbekistan Pulang Tanpa Poin
Bagi Uzbekistan, Piala Dunia 2026 berakhir pahit. Sebagai debutan, mereka kalah dalam tiga pertandingan. Setelah ditaklukkan Kolombia dan Portugal, mereka kembali kalah dari Kongo meski sempat memimpin lebih dulu.
Namun, pengalaman ini tetap menjadi pelajaran berharga. Uzbekistan sudah berhasil mencapai putaran final Piala Dunia, sesuatu yang menjadi tonggak penting bagi sepak bola mereka. Tantangannya kini adalah membangun fondasi agar keikutsertaan itu tidak berhenti sebagai pengalaman satu kali.
Cannavaro menekankan bahwa investasi di akademi dan pemain muda menjadi kunci jika Uzbekistan ingin terus bersaing di level dunia.
Di sisi lain, Kongo membuktikan bahwa pengalaman pahit masa lalu bisa dibalik menjadi kisah kebangkitan. Dari kekalahan telak era Zaire pada 1974, mereka kini berdiri di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Kongo Membuka Bab Baru
Kemenangan 3-1 atas Uzbekistan akan dikenang sebagai salah satu momen paling penting dalam sejarah sepak bola RD Kongo. Mereka tidak hanya menang, tetapi juga menang dengan cara yang dramatis: tertinggal lebih dulu, bangkit pada babak kedua, dan memastikan tiket fase gugur.
Yoane Wissa menjadi simbol kebangkitan itu. Sempat disebut mengalami musim klub yang tidak mudah karena cedera, ia justru mencetak dua gol paling penting bagi negaranya di panggung terbesar sepak bola dunia.
Fiston Mayele juga menjadi bagian dari cerita ini. Masuk sebagai pemain pengganti, ia mencetak gol yang membalikkan keadaan dan membuka jalan menuju kemenangan.
Kini, Kongo akan membawa momentum itu ke babak 32 besar. Inggris sudah menunggu. Di atas kertas, lawan mereka jauh lebih kuat. Namun, setelah apa yang terjadi di Atlanta, Kongo punya alasan untuk percaya bahwa sejarah baru masih bisa ditulis.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar