Periskop.id - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo memasuki fase mengkhawatirkan setelah jumlah kasus terkonfirmasi melampaui 1.000 hanya dalam bulan pertama penyebaran. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut laju awal wabah ini sebagai yang terbesar dalam sejarah Ebola di negara tersebut.

Direktur Operasi Peringatan dan Respons Darurat Kesehatan WHO Abdi Mahamud mengatakan Kementerian Kesehatan Kongo mencatat 1.048 kasus terkonfirmasi, termasuk 267 kematian, hingga Senin (22/6). "Sejak terakhir kali saya memberikan pengarahan pada 9 Juni dari Bunia, wabah ini terus meluas," kata Mahamud kepada wartawan di Jenewa, Selasa (23/6). 

Lonjakan kasus ini membuat WHO meningkatkan respons darurat. Dalam waktu kurang dari sebulan, wabah yang awalnya terpusat di beberapa zona kesehatan kini berkembang menjadi krisis yang menekan rumah sakit, laboratorium, tenaga kesehatan, dan sistem pelacakan kontak di wilayah terdampak.

Kasus Naik Cepat, Kematian Sudah 267 Orang

Berdasarkan laporan otoritas kesehatan Kongo, jumlah kasus terkonfirmasi Ebola mencapai 1.048 kasus dengan 267 kematian. Selain itu, sebanyak 371 pasien masih menjalani isolasi atau rawat inap di rumah sakit, sementara 112 orang telah dinyatakan sembuh.

Laporan itu juga mencatat 202 kasus suspek, termasuk 60 kematian. Secara keseluruhan, tingkat kematian kasus atau case fatality rate berada di kisaran 25,5 persen.

Angka ini menunjukkan bahwa wabah Ebola masih sangat mematikan. Artinya, sekitar satu dari empat kasus terkonfirmasi berujung pada kematian. Situasi menjadi lebih rumit karena sebagian wilayah terdampak berada di kawasan yang memiliki tantangan keamanan, mobilitas penduduk tinggi, dan keterbatasan fasilitas kesehatan.

Wabah saat ini disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo. Jenis ini termasuk salah satu spesies virus Ebola yang pernah memicu wabah di Afrika. WHO menyebut jenis Bundibugyo dalam wabah kali ini belum memiliki vaksin maupun pengobatan spesifik yang tersedia luas, meski uji coba kandidat vaksin dan terapi masih terus dilakukan.

Pola Penularan Berbeda di Tiap Wilayah

Mahamud menjelaskan, pola penyebaran wabah tidak seragam di semua zona kesehatan yang terdampak. Ada wilayah yang mulai menunjukkan tren stabil, tetapi ada juga wilayah lain yang mengalami lonjakan tajam.

Perbedaan pola ini membuat respons kesehatan harus disesuaikan dengan kondisi tiap daerah. Wilayah dengan tren stabil perlu dijaga agar penularan tidak kembali naik, sementara wilayah dengan lonjakan kasus membutuhkan penambahan tempat tidur, tenaga kesehatan, alat pelindung diri, pengujian, dan pelacakan kontak yang lebih agresif.

WHO menyebut, penanganan diperluas untuk mengejar laju penularan. Dalam dua pekan terakhir, kapasitas perawatan meningkat dari hanya beberapa tempat tidur menjadi lebih dari 500 tempat tidur yang tersebar di 19 pusat kesehatan.

Namun, peningkatan kapasitas itu belum cukup sepenuhnya. Mahamud memperingatkan pusat-pusat perawatan mulai berada di bawah tekanan besar karena tingkat keterisian tempat tidur sudah mencapai 84% dari kapasitas yang tersedia.

Dalam situasi wabah, tingkat keterisian tempat tidur yang terlalu tinggi berbahaya. Jika kasus baru terus bertambah, pasien bisa terlambat ditangani, ruang isolasi penuh, dan risiko penularan di fasilitas kesehatan meningkat.

Tes Laboratorium Melonjak dari 30 ke 2.000 per Hari

Salah satu perkembangan penting dalam respons wabah ini adalah peningkatan kemampuan tes laboratorium. Pada bulan lalu, kapasitas pemeriksaan hanya sekitar 30 tes per hari. Kini, kapasitas itu meningkat menjadi lebih dari 2.000 tes per hari.

Peningkatan tersebut dilakukan melalui delapan laboratorium terdesentralisasi di Provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan. Sistem terdesentralisasi berarti pemeriksaan tidak lagi harus terpusat di satu lokasi besar, sehingga hasil tes bisa diperoleh lebih cepat di wilayah terdampak.

Kecepatan tes sangat penting dalam penanganan Ebola. Semakin cepat pasien terkonfirmasi, semakin cepat pula mereka bisa diisolasi, dirawat, dan kontak dekatnya ditelusuri.

Namun, lonjakan kasus juga bisa sebagian dipengaruhi oleh kapasitas tes yang membesar. Ketika pemeriksaan meningkat, kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi atau sampelnya menumpuk bisa mulai masuk ke laporan resmi.

Meski begitu, peningkatan kapasitas tes tidak menghapus kekhawatiran utama: penularan masih terjadi dan penyebaran geografis masih berisiko meluas.

WHO Minta Dana Rp2 Triliun

Mahamud menggambarkan wabah ini sebagai situasi yang "menantang dan kompleks". WHO mengajukan kebutuhan pendanaan sebesar US$115 juta atau sekitar Rp2,06 triliun untuk membantu memperlambat hingga menghentikan penularan.

Dana tersebut dibutuhkan untuk memperkuat berbagai lini respons, mulai dari pengawasan epidemiologi, pelacakan kontak, perawatan pasien, penguatan laboratorium, pengiriman logistik, perlindungan tenaga kesehatan, komunikasi risiko, hingga kesiapsiagaan lintas batas.

Kebutuhan dana yang besar mencerminkan skala persoalan di lapangan. Wabah Ebola tidak bisa ditangani hanya dengan membuka ruang perawatan. Penanganannya membutuhkan sistem terpadu, termasuk edukasi masyarakat, pemakaman aman, pengawasan pergerakan penduduk, dan perlindungan tenaga kesehatan.

WHO juga menekankan pentingnya keterlibatan komunitas. Dalam banyak wabah Ebola, ketidakpercayaan masyarakat, stigma, ketakutan terhadap fasilitas kesehatan, dan tradisi pemakaman dapat mempercepat penularan jika tidak ditangani dengan komunikasi yang tepat.

Uganda Laporkan Kasus Terkait

Krisis ini tidak berhenti di Kongo. Mahamud mengatakan, Uganda telah melaporkan kasus Ebola terkonfirmasi ke-20 yang terkait dengan wabah yang sedang berlangsung di Kongo.

Sebelumnya, WHO mencatat Uganda melaporkan kasus yang berkaitan dengan pergerakan lintas batas dan fasilitas kesehatan. Meski belum ada bukti penularan komunitas luas di Uganda, kemunculan kasus di negara tetangga menunjukkan wabah ini memiliki risiko regional.

Perbatasan Kongo dan Uganda memiliki mobilitas manusia yang tinggi, baik untuk perdagangan, keluarga, pekerjaan, maupun layanan kesehatan. Dalam konteks Ebola, pergerakan lintas batas menjadi tantangan besar karena masa inkubasi dapat membuat seseorang berpindah sebelum gejala terlihat jelas.

Karena itu, pengawasan lintas negara menjadi bagian penting dari respons. Pemeriksaan kesehatan di titik perbatasan, pelacakan kontak, dan koordinasi data antara negara perlu diperkuat agar kasus tidak menyebar lebih jauh.

WHO Sudah Tetapkan Darurat Global

Wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebelumnya telah ditetapkan WHO sebagai darurat kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia atau public health emergency of international concern (PHEIC).

“Penyakit Ebola yang disebabkan virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo dan Uganda merupakan darurat kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia (PHEIC), tetapi belum memenuhi kriteria sebagai darurat pandemi,” demikian pernyataan WHO.

PHEIC adalah status darurat tertinggi WHO dalam kerangka Peraturan Kesehatan Internasional. Status ini diberikan ketika sebuah kejadian kesehatan berisiko menyebar lintas negara dan membutuhkan respons internasional yang terkoordinasi.

Penetapan PHEIC bukan berarti dunia sedang menghadapi pandemi. Namun, status ini menjadi alarm bahwa wabah harus ditangani cepat sebelum menyebar lebih luas dan menimbulkan dampak lebih besar.

Kekhawatiran juga disampaikan organisasi kemanusiaan medis Medecins Sans Frontieres (MSF) atau Doctors Without Borders. Pada akhir Mei, MSF sudah memperingatkan bahwa situasi di Kongo sangat mencemaskan bagi masyarakat dan petugas kesehatan garis depan.

"Dua pekan menyusul pengumuman wabah penyakit Ebola di Provinsi Ituri, situasinya sangat mengkhawatirkan dan menjadi sumber kecemasan yang nyata bagi masyarakat dan petugas kesehatan garis depan," kata Wakil Direktur Operasi MSF Alan Gonzalez.

Peringatan itu kini terlihat makin relevan. Dalam beberapa pekan setelah pernyataan tersebut, kasus Ebola terus meningkat. Tenaga kesehatan juga berada dalam posisi rentan karena mereka berhadapan langsung dengan pasien, darah, cairan tubuh, dan risiko infeksi di fasilitas perawatan.

Dalam wabah Ebola, tenaga kesehatan sering menjadi kelompok berisiko tinggi jika alat pelindung diri, pelatihan, dan prosedur pencegahan infeksi tidak memadai.

Mengapa Ebola Berbahaya?

Ebola adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan dapat menular melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh orang yang terinfeksi, termasuk muntah, diare, air liur, urine, atau cairan tubuh lain. Penularan juga bisa terjadi melalui benda yang terkontaminasi cairan tubuh pasien.

Gejalanya dapat berupa demam, lemas, nyeri otot, sakit kepala, muntah, diare, ruam, gangguan fungsi hati dan ginjal, hingga perdarahan pada sebagian kasus. Penyakit ini berbahaya karena dapat berkembang cepat dan menyebabkan kematian jika pasien tidak segera mendapat perawatan suportif.

Pada wabah kali ini, jenis virus yang terlibat adalah Bundibugyo. WHO menyebut belum ada vaksin atau terapi spesifik yang tersedia luas untuk jenis ini. Hal tersebut membuat pencegahan penularan, isolasi pasien, pelacakan kontak, dan perawatan dini menjadi sangat penting.

Perawatan suportif tetap dapat menyelamatkan nyawa. Pasien membutuhkan cairan, pemantauan organ vital, pengobatan gejala, dan pencegahan komplikasi. Semakin cepat pasien ditangani, peluang bertahan hidup bisa lebih baik.

Tantangan: Konflik, Mobilitas, dan Kepercayaan Publik

Wabah di Kongo tidak terjadi dalam ruang kosong. WHO menyebut wabah ini berlangsung dalam konteks krisis kemanusiaan, wilayah terpencil dan padat penduduk, ketidakamanan, serta pergerakan penduduk dan perdagangan yang tinggi.

Faktor-faktor ini membuat respons lebih sulit. Tim kesehatan bisa terhambat masuk ke wilayah tertentu. Warga yang mengungsi atau berpindah tempat dapat membawa risiko penularan ke lokasi baru. Fasilitas kesehatan lokal juga bisa kewalahan ketika kasus naik cepat.

Selain itu, komunikasi dengan masyarakat menjadi faktor kunci. Dalam wabah Ebola, masyarakat harus memahami mengapa pasien perlu diisolasi, mengapa kontak dekat harus dipantau, dan mengapa pemakaman perlu dilakukan secara aman.

Jika masyarakat tidak percaya kepada petugas kesehatan, pasien bisa terlambat dibawa ke fasilitas medis, keluarga menyembunyikan gejala, atau pemakaman dilakukan tanpa prosedur aman. Semua itu dapat mempercepat penyebaran.

Kemunculan kasus di Uganda menunjukkan, risiko regional belum selesai. Meskipun fokus utama masih berada di Kongo, negara-negara tetangga perlu memperkuat kesiapsiagaan.

Kesiapsiagaan itu mencakup deteksi dini di fasilitas kesehatan, pelatihan tenaga medis, ketersediaan alat pelindung diri, sistem rujukan, komunikasi publik, dan kemampuan laboratorium.

Wabah Ebola dapat berubah cepat jika kasus tidak segera ditemukan. Karena itu, respons lintas batas harus dilakukan sebelum kasus melonjak, bukan setelah rumah sakit penuh.

Bagi dunia internasional, kebutuhan dana 115 juta dolar AS yang diajukan WHO juga menjadi ujian solidaritas. Jika pendanaan terlambat, respons dapat kalah cepat dari laju penularan.