iklan periskop
Artikel

Ini Alasan Judi Cocok untuk Dimainkan Orang Kaya, Bukan Orang Miskin

Riset ungkap dampak judi lebih berat bagi orang miskin karena kerugian kecil bisa memicu utang, stres, dan krisis keluarga.

5 hari yang lalu · 3 mnt baca
Fakta Mengejutkan Judi Online RI, 70% Pemain Bergaji di Bawah Rp5 Juta
Ilustrasi - Judi online. Ilustrasi dihasilkan oleh AI.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Dampak buruk kecanduan judi ternyata tidak selalu dirasakan dengan cara yang sama oleh setiap orang. Dua orang bisa sama-sama kalah judi dengan nominal yang serupa, tetapi akibat yang mereka hadapi bisa sangat berbeda, tergantung pada kondisi ekonomi, lingkungan sosial, dan kemampuan masing-masing untuk pulih dari kerugian tersebut.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal BMC Public Health pada 2021 berjudul Is There A Health Inequality in Gambling Related Harms? A Systematic Review menyoroti persoalan ini. Studi tersebut membedah lebih dari 50 penelitian empiris yang terbit dalam rentang 1994 hingga 2020 untuk melihat apakah dampak buruk perjudian berkaitan dengan ketimpangan kesehatan dan sosial.

Temuan utamanya cukup penting. Dampak perjudian tidak hanya soal berapa besar uang yang hilang, tetapi juga siapa yang kehilangan uang tersebut. Artinya, kerugian akibat judi bisa terasa jauh lebih berat bagi kelompok masyarakat yang sejak awal sudah berada dalam kondisi ekonomi rentan.

Kerugian yang Sama, Dampaknya Bisa Berbeda

Agar lebih mudah dipahami, bayangkan ada seorang eksekutif kaya yang berjudi lalu kehilangan separuh gajinya dalam semalam. Secara nominal, kerugiannya mungkin besar. Namun, setelah itu ia masih bisa makan layak, membayar tagihan, melunasi cicilan rumah, dan tetap menjalani hidup dengan relatif aman.

Situasinya akan berbeda jika kerugian yang sama dialami pekerja berpenghasilan pas-pasan. Bagi kelompok ini, uang yang hilang karena judi bisa langsung mengganggu kebutuhan dasar. Misalnya, uang belanja keluarga berkurang, tagihan menumpuk, cicilan terlambat dibayar, atau kebutuhan anak ikut terdampak.

Dari gambaran tersebut, terlihat bahwa judi tidak hanya meninggalkan kerugian finansial. Pada kelompok yang lebih rentan, judi bisa mendorong masalah berantai, mulai dari stres, konflik keluarga, tekanan mental, utang, hingga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Orang Kaya dan Orang Miskin Bisa Berjudi dengan Alasan Berbeda

Pembahasan serupa juga muncul dalam riset yang terbit di Journal of Addiction Medicine pada 2007 berjudul Income Differences and Recreational Gambling. Studi tersebut menunjukkan bahwa tingkat pendapatan ikut memengaruhi cara seseorang berjudi dan alasan di balik perilaku tersebut.

Menurut riset itu, kelompok berpendapatan tinggi cenderung berjudi sebagai bentuk hiburan, mencari sensasi, atau aktivitas sosial bersama teman. Mereka juga lebih sering memilih jenis perjudian yang dianggap membutuhkan strategi atau menggunakan fasilitas seperti mesin kasino.

Sementara itu, pada kelompok berpendapatan rendah, judi bisa memiliki makna yang berbeda. Dalam banyak kasus, judi bukan hanya dilihat sebagai hiburan, tetapi juga dapat dianggap sebagai harapan untuk mendapatkan uang tambahan dengan cepat. Di titik inilah risikonya menjadi lebih besar.

Ketika seseorang yang kondisi ekonominya sudah terbatas melihat judi sebagai jalan pintas untuk memperbaiki keadaan, kekalahan justru bisa membuat situasi semakin berat. Alih-alih keluar dari kesulitan, kerugian akibat judi dapat menambah beban hidup dan mempersempit ruang untuk mengambil keputusan yang sehat.

Persoalannya menjadi semakin rumit ketika judi berubah menjadi kebiasaan kompulsif atau kecanduan. Pada tahap ini, seseorang tidak lagi berjudi hanya karena ingin bersenang-senang, tetapi merasa terdorong untuk terus bermain, bahkan ketika sudah mengalami kerugian.

Dampaknya tidak berhenti pada individu. Keluarga juga bisa ikut menanggung akibatnya. Uang yang seharusnya dipakai untuk kebutuhan rumah tangga dapat habis untuk berjudi. Relasi dengan pasangan, anak, atau keluarga besar juga bisa terganggu karena munculnya kebohongan, utang, atau tekanan finansial.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Judi, dan judi online dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.