Trauma Masa Kecil Bisa Terbawa saat Jadi Orang Tua
Riset ungkap trauma masa kecil bisa memengaruhi pola asuh saat dewasa, tetapi siklus kekerasan tetap bisa diputus.

Periskop.id - Pengalaman buruk pada masa kecil ternyata dapat meninggalkan jejak hingga seseorang menjadi orang tua. Bukan berarti anak yang pernah mengalami kekerasan pasti akan mengulang hal yang sama kepada anaknya kelak, tetapi sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi stres, membangun kedekatan emosional, hingga menerapkan pola pengasuhan.
Hal itu menjadi salah satu temuan utama dalam studi berjudul Intergenerational effects of childhood maltreatment. A systematic review of the parenting practices of adult survivors of childhood abuse, neglect, and violence yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Psychology Review pada 2020.
Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis terhadap 97 studi sebelumnya. Artinya, para peneliti tidak melakukan eksperimen terhadap satu kelompok baru, melainkan mengumpulkan, membandingkan, dan menelaah hasil berbagai penelitian yang telah dilakukan untuk melihat pola temuan yang muncul secara keseluruhan.
Fokusnya adalah childhood maltreatment, yaitu berbagai bentuk perlakuan buruk yang dialami seseorang ketika masih anak-anak. Bentuknya mencakup kekerasan fisik dan emosional, penelantaran, kekerasan seksual, serta pengalaman menyaksikan kekerasan di dalam rumah.
Kekerasan Fisik Berkaitan dengan Risiko Pengasuhan Abusif
Salah satu pola yang paling konsisten dalam studi ini terlihat pada orang tua yang melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik ketika masih kecil.
Mereka ditemukan memiliki risiko lebih tinggi untuk melakukan pengasuhan yang abusif atau menelantarkan anak dibandingkan mereka yang tidak melaporkan pengalaman serupa.
Pengasuhan abusif dalam konteks penelitian ini merujuk pada perilaku pengasuhan yang mengandung kekerasan atau perlakuan yang membahayakan anak. Sementara penelantaran terjadi ketika kebutuhan dasar fisik maupun emosional anak tidak terpenuhi secara memadai.
Namun, para peneliti menekankan bahwa temuan tersebut berbicara mengenai peningkatan risiko, bukan kepastian.
Dengan kata lain, seseorang yang pernah mengalami kekerasan ketika kecil tidak otomatis menjadi orang tua yang melakukan kekerasan.
Yang menarik, seseorang tidak harus menjadi korban langsung untuk dapat mengalami dampak jangka panjang.
Anak yang tumbuh dengan menyaksikan kekerasan di rumah juga ditemukan memiliki risiko lebih tinggi melakukan kekerasan dalam pola pengasuhannya ketika dewasa.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan keluarga yang penuh kekerasan dapat membentuk pemahaman anak mengenai hubungan, konflik, dan cara orang dewasa memperlakukan anggota keluarga lainnya.
Dalam penelitian psikologi, pengalaman seperti ini dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran sosial. Anak dapat tumbuh dengan melihat pola tertentu sebagai sesuatu yang biasa, sekalipun sebenarnya pola tersebut tidak sehat.
Kekerasan terhadap anak dan kekerasan dalam rumah tangga juga sering muncul secara bersamaan. Karena itu, peneliti menilai penting untuk melihat pengalaman seseorang secara menyeluruh, bukan hanya menanyakan apakah ia pernah menjadi korban langsung.
Semakin Banyak Bentuk Kekerasan, Risikonya Bisa Semakin Besar
Studi juga menemukan adanya efek kumulatif.
Orang dewasa yang melaporkan pernah mengalami beberapa jenis kekerasan atau viktimisasi berulang pada masa kecil cenderung menghadapi risiko lebih besar mengalami kesulitan dalam pengasuhan.
Fenomena ketika seseorang mengalami berbagai bentuk viktimisasi dikenal dengan istilah polyvictimization. Secara sederhana, istilah ini menggambarkan seseorang yang tidak hanya mengalami satu pengalaman buruk, tetapi beberapa jenis kekerasan atau perlakuan salah sekaligus.
Misalnya, seorang anak mungkin mengalami kekerasan fisik sekaligus penelantaran dan menyaksikan kekerasan antara orang dewasa di rumah.
Penelitian yang ditinjau menunjukkan bahwa semakin kompleks pengalaman buruk tersebut, semakin besar pula kemungkinan dampaknya terbawa hingga masa dewasa.
Jejak pengalaman buruk masa kecil juga dapat terlihat dalam pola pengasuhan yang lebih halus.
Beberapa penelitian menemukan hubungan antara riwayat perlakuan salah pada masa kanak-kanak dengan kecenderungan orang tua melakukan penolakan emosional atau menarik diri dari anak.
Artinya, masalah pengasuhan tidak selalu berbentuk bentakan atau hukuman fisik. Dalam beberapa kasus, orang tua dapat mengalami kesulitan memberikan kehangatan, merespons kebutuhan emosional anak, atau membangun kedekatan.
Ada pula temuan mengenai role reversal atau pembalikan peran, terutama pada sebagian ibu yang melaporkan riwayat kekerasan seksual pada masa kecil.
Pembalikan peran terjadi ketika anak justru ditempatkan dalam posisi memenuhi kebutuhan emosional orang tua. Misalnya, anak diharapkan menjadi tempat curhat utama, penenang, atau pihak yang bertanggung jawab terhadap kondisi emosional orang tuanya.
Padahal, secara perkembangan, orang tualah yang semestinya menjadi sumber rasa aman bagi anak.
Kekerasan dalam Hubungan Dewasa Bisa Menjadi Mata Rantai
Peneliti juga menemukan bahwa pengalaman buruk masa kecil tidak selalu memengaruhi pengasuhan secara langsung.
Pada sebagian ibu, terdapat jalur tidak langsung melalui intimate partner violence (IPV). Istilah tersebut merujuk pada kekerasan yang terjadi dalam hubungan pasangan intim.
Gambarannya dapat terjadi seperti ini. Seseorang mengalami kekerasan ketika kecil, kemudian ketika dewasa kembali terlibat dalam hubungan yang mengandung kekerasan. Kondisi tersebut selanjutnya dapat meningkatkan stres dan kesulitan dalam menjalankan pengasuhan.
Dalam penelitian, faktor yang menjembatani hubungan antara dua hal seperti ini disebut mediator.
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa upaya mencegah kekerasan terhadap anak tidak cukup hanya berfokus pada hubungan orang tua dan anak. Kondisi hubungan pasangan serta keamanan di dalam rumah juga perlu diperhatikan.
Kesehatan Mental Ibu Ikut Berperan
Kesehatan mental muncul sebagai salah satu faktor penting dalam hubungan antara pengalaman buruk masa kecil dan kualitas pengasuhan.
Beberapa penelitian menemukan bahwa masalah kesehatan mental serta gejala pascatrauma dapat mengganggu kemampuan ibu untuk memberikan respons yang sensitif dan suportif kepada anak.
Trauma masa kecil dapat tetap memengaruhi cara seseorang mengatur emosi ketika dewasa. Dalam situasi pengasuhan yang penuh tekanan, pengalaman tersebut dapat kembali muncul dalam bentuk kecemasan, kesulitan mengendalikan emosi, atau kesulitan membangun kedekatan.
Sejumlah penelitian juga menyinggung kemungkinan peran disosiasi pascatrauma.
Disosiasi merupakan kondisi ketika seseorang merasa terputus dari pikiran, perasaan, ingatan, atau lingkungan di sekitarnya. Namun, studi yang membahas peran disosiasi dalam hubungan antargenerasi masih sedikit sehingga peneliti menilai temuan tersebut perlu diuji lebih lanjut.
Tidak Semua Jenis Kekerasan Menunjukkan Pola yang Sama
Temuan menarik lainnya adalah perbedaan antara berbagai jenis pengalaman buruk masa kecil.
Riwayat kekerasan fisik dan pengalaman menyaksikan kekerasan dalam rumah menunjukkan hubungan yang relatif konsisten dengan risiko pengasuhan abusif atau penelantaran.
Sebaliknya, tinjauan ini menemukan bukti yang lebih sedikit bahwa seseorang yang pernah mengalami kekerasan seksual pada masa kecil kemudian melakukan pengasuhan abusif atau menelantarkan anaknya sendiri.
Peneliti menjelaskan bahwa hal ini tidak berarti kekerasan seksual pada masa kecil tidak memiliki dampak serius. Perbedaannya terletak pada pertanyaan yang diteliti.
Studi ini secara khusus melihat apakah seseorang yang menjadi korban saat kecil kemudian menjadi pelaku pengasuhan abusif ketika dewasa. Penelitian lain dapat menggunakan pendekatan berbeda, misalnya melihat apakah anak dari korban kekerasan memiliki risiko lebih tinggi menjadi korban kekerasan dari siapa pun.
Karena itu, konsep transmisi kekerasan antargenerasi tidak dapat dipandang sebagai satu proses yang selalu sama.
Bagaimana dengan Ayah
Sebagian besar penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada ibu. Dalam tinjauan ini, peneliti juga mencoba melihat apa yang diketahui mengenai ayah.
Masalahnya, jumlah penelitian terhadap ayah masih jauh lebih sedikit dan kualitas metodologinya cenderung lebih lemah.
Meski demikian, ada temuan yang cukup menarik.
Dalam satu penelitian, ayah yang melaporkan pernah mengalami kekerasan atau penelantaran ketika kecil justru lebih jarang menggunakan hukuman fisik terhadap anak dibandingkan ayah yang tidak memiliki riwayat tersebut.
Temuan tersebut menunjukkan kemungkinan bahwa sebagian orang tua secara sadar memilih melakukan hal yang berbeda dari apa yang pernah mereka alami.
Keterlibatan ayah yang berkualitas juga dapat menjadi faktor pelindung bagi perkembangan anak. Namun, jumlah keterlibatan saja tidak cukup. Jika ayah terlibat banyak tetapi juga melakukan kekerasan fisik, dampaknya justru dapat menjadi negatif.
Dengan kata lain, kualitas hubungan tetap lebih penting daripada sekadar seberapa sering orang tua hadir.
Orang Tua yang Pernah Menjadi Korban Bisa Tetap Sangat Hangat
Hubungan antara pengalaman buruk masa kecil dan pengasuhan positif ternyata tidak sesederhana yang mungkin dibayangkan.
Sebagian penelitian menemukan orang tua dengan riwayat kekerasan atau penelantaran mengalami kesulitan memberikan kehangatan, dukungan, dan respons emosional kepada bayi serta balita.
Tetapi ketika anak semakin besar, hasil penelitian menjadi lebih beragam.
Sebagian orang tua dengan pengalaman buruk masa kecil memang ditemukan lebih sulit hadir secara emosional. Namun, sebagian lainnya menunjukkan kualitas pengasuhan yang setara bahkan lebih baik dibandingkan orang tua yang tidak pernah mengalami kekerasan ketika kecil.
Temuan ini membuka pertanyaan penting mengenai resiliensi.
Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan pulih setelah mengalami kesulitan atau trauma.
Dalam konteks pengasuhan, sebagian penyintas kekerasan masa kecil tampaknya mampu menggunakan pengalaman buruk tersebut sebagai alasan untuk memberikan masa kecil yang berbeda kepada anak mereka.
Sebagian Besar Penyintas Tidak Mengulangi Kekerasan
Ini menjadi salah satu bagian paling penting dari tinjauan tersebut.
Para peneliti menegaskan bahwa sebagian besar orang dewasa yang pernah mengalami kekerasan ketika masih anak-anak tidak melakukan kekerasan terhadap anak mereka sendiri.
Artinya, gagasan bahwa korban kekerasan pasti akan menjadi pelaku ketika dewasa tidak didukung oleh penelitian.
Memang, riwayat kekerasan pada masa kecil dapat meningkatkan risiko. Bahkan, dalam sejumlah penelitian, mayoritas orang tua yang diketahui melakukan perlakuan salah terhadap anak melaporkan bahwa mereka sendiri pernah mengalami kekerasan ketika kecil.
Namun, hubungan tersebut tidak dapat dibalik begitu saja. Banyak penyintas justru berhasil memutus siklus kekerasan. Hal inilah yang membuat peneliti menilai faktor pelindung sangat penting untuk dipahami.
Dukungan Keluarga Bisa Membantu Memutus Siklus
Salah satu penelitian yang ditinjau membandingkan ibu yang berhasil memutus siklus perlakuan salah dengan ibu yang kemudian memiliki anak yang juga mengalami perlakuan salah.
Ibu yang berhasil memutus siklus ditemukan memiliki sumber daya sosial dan ekonomi yang lebih baik serta memperoleh dukungan keluarga yang lebih besar.
Mereka juga lebih jarang melaporkan kekerasan pasangan intim, penelantaran fisik, maupun pengalaman berbagai bentuk kekerasan sekaligus.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan seseorang menjadi orang tua tidak hanya dibentuk oleh masa lalunya.
Lingkungan saat ini juga berperan.
Dukungan keluarga, kondisi ekonomi, hubungan yang aman, akses terhadap layanan kesehatan mental, serta keberadaan orang lain yang dapat membantu menghadapi tekanan pengasuhan berpotensi menjadi faktor penting.
Trauma Masa Kecil Bisa Mempengaruhi Cara Orang Tua Melihat Dirinya
Pengalaman buruk masa kecil bukan hanya dapat memengaruhi tindakan seseorang kepada anaknya, tetapi juga cara ia memandang dirinya sendiri sebagai orang tua.
Penelitian menunjukkan pengalaman tersebut dapat berkaitan dengan stres pengasuhan serta rendahnya keyakinan terhadap kemampuan diri dalam menjalankan peran sebagai orang tua.
Dalam psikologi, keyakinan seseorang terhadap kemampuannya melakukan sesuatu disebut self efficacy.
Seorang orang tua dengan self efficacy yang rendah mungkin lebih mudah merasa tidak mampu, kewalahan, atau ragu menghadapi masalah pengasuhan sehari hari.
Padahal, cara orang tua memandang kemampuan dirinya dapat ikut memengaruhi bagaimana ia merespons anak.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai parenting dengan mengeklik tautan.

Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.