periskop.id - Banyak orang tua percaya bahwa hukuman tegas adalah cara terbaik untuk mengajarkan anak membedakan benar dan salah. Namun, penelitian terbaru dari para psikolog di Singapura menunjukkan bahwa pendekatan yang terlalu keras justru dapat meningkatkan kecenderungan anak untuk berbohong.

Temuan tersebut berasal dari dua studi longitudinal yang dilakukan oleh tim peneliti dari National University of Singapore (NUS). Penelitian ini menelusuri perkembangan anak selama beberapa tahun dan menemukan adanya hubungan yang konsisten antara pola asuh otoriter, hukuman keras, serta perilaku tidak jujur pada anak.

Advertisement

Melansir Phys.org, para peneliti menjelaskan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan kontrol orang tua yang berlebihan cenderung mengembangkan tekanan psikologis tertentu. Mereka menjadi sangat takut melakukan kesalahan dan merasa harus selalu memenuhi ekspektasi orang lain agar diterima. Kondisi inilah yang kemudian dapat mendorong mereka menggunakan kebohongan sebagai mekanisme perlindungan diri.

Salah satu temuan penting dalam studi tersebut menunjukkan bahwa hukuman keras yang diberikan kepada anak pada usia sekitar tujuh tahun berkorelasi dengan peningkatan perilaku menipu atau berbohong ketika mereka berusia delapan tahun. Hubungan itu bahkan berlanjut hingga tahun berikutnya. 

Menariknya, penelitian juga menemukan pola dua arah: perilaku tidak jujur anak dapat memicu orang tua menjadi semakin keras, sehingga tercipta lingkaran yang sulit diputus.

Peneliti NUS, Ms Yu, menjelaskan bahwa anak-anak yang menerima kontrol negatif dalam tingkat tinggi lebih mudah menginternalisasi keyakinan yang tidak sehat tentang diri mereka sendiri.

“Anak-anak yang mengalami tingkat kontrol negatif orang tua yang lebih tinggi cenderung menginternalisasi keyakinan disfungsional seperti ‘Saya harus berhasil agar disukai’ atau ‘Saya tidak boleh membuat kesalahan’. Mereka kemudian mungkin memilih berbohong untuk memenuhi ekspektasi yang tidak realistis atau menghindari hukuman lebih lanjut,” ungkap Yu.

Menurut para peneliti, pola asuh yang keras sebenarnya tidak secara langsung menyebabkan anak menjadi pembohong. Namun, pendekatan tersebut mengubah cara anak memandang dirinya sendiri. Ketika rasa takut gagal, tekanan untuk selalu sempurna, dan kekhawatiran akan hukuman terus meningkat, kebohongan menjadi jalan pintas yang dianggap aman.

Kejujuran Anak Sangat Dipengaruhi Lingkungan Sosial

Temuan dari NUS sejalan dengan penelitian lain yang dilakukan oleh para ekonom dari Jerman dan Inggris. Studi tersebut menemukan bahwa tingkat kejujuran anak tidak hanya dipengaruhi faktor individu, tetapi juga lingkungan keluarga dan sosial tempat mereka tumbuh. 

Anak-anak yang dibesarkan dalam suasana hangat, penuh kepercayaan, dan komunikasi positif cenderung menunjukkan tingkat kejujuran yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hidup dalam lingkungan penuh tekanan.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menggunakan eksperimen lempar dadu untuk mengukur kecenderungan anak berbohong. Hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari 60% peserta mengaku prediksi mereka benar, padahal secara statistik peluangnya hanya sekitar 16,7%. 

Analisis lebih lanjut menemukan bahwa anak yang merasakan hubungan keluarga hangat dan penuh kepercayaan memiliki kecenderungan lebih rendah untuk melakukan kebohongan.

Riset lain dari McGill University di Kanada juga memberikan gambaran menarik mengenai pembentukan kejujuran pada anak. Peneliti menemukan bahwa anak-anak lebih memperhatikan tindakan orang tua dibandingkan nasihat yang mereka ucapkan.

Ketika perkataan dan tindakan orang tua tidak selaras, anak cenderung menjadikan tindakan sebagai acuan utama dalam menilai apa yang benar dan salah. Dengan kata lain, orang tua yang meminta anak jujur tetapi sering menunjukkan perilaku tidak konsisten berisiko melemahkan pesan moral yang ingin mereka sampaikan.

Pentingnya Pola Asuh yang Hangat dan Tegas

Sejumlah penelitian modern menunjukkan bahwa pendekatan paling efektif bukanlah pola asuh yang sepenuhnya permisif maupun terlalu otoriter. Banyak ahli perkembangan anak menilai bahwa kombinasi antara kehangatan emosional, komunikasi terbuka, serta batasan yang jelas lebih mampu membentuk karakter positif dan kejujuran jangka panjang pada anak.

Anak perlu memahami konsekuensi dari tindakan mereka, tetapi juga membutuhkan ruang aman untuk mengakui kesalahan tanpa takut dipermalukan. Ketika anak merasa diterima meski melakukan kekeliruan, mereka lebih mungkin memilih berkata jujur daripada menyembunyikan masalah.