periskop.id - Di tengah lagu galau yang kadang terasa terlalu berat, belakangan populrt genre baru yang identik dengan kesan centil, dibalut dengan musik hip hop dangdut atau hipdut.

Liriknya ringan, nadanya catchy. Kadang terdengar “receh”,tapi justru itu yang bikin nempel. Dari yang sekadar genit sampai yang nyindir tipis soal hubungan, lagu-lagu ini terasa dekat, seperti potongan obrolan sehari-hari yang tiba-tiba dijadikan musik.

Dan menariknya, ini bukan tren baru. Centil sudah lama ada, hanya bentuknya yang berubah.

Dari “Salah” sampai “My Mine Gueh”: Peta Lagu Centil Lintas Generasi

Jauh sebelum istilah “lagu centil” populer, nuansa genit sebenarnya sudah hadir dalam musik Indonesia, terutama di era 70–80-an.

Saat itu, penyanyi seperti Fariz RM menghadirkan lirik yang playful dan romantis dengan sentuhan menggoda, tapi tetap dibungkus puitis. Vina Panduwinata juga membawa karakter perempuan yang ringan, manja, dan charming, centil dalam versi elegan, tanpa harus terasa frontal.

Masuk ke akhir 80-an hingga 90-an, bentuknya mulai lebih jelas. Potret lewat Salah, jadi salah satu penanda penting. Centil yang cerdas, ringan, tapi tetap menyentil.

Cuplikan video klip lagu Salah oleh Potret. Foto: Youtube/Aquarius Musikindo

Memasuki era 2000-an, warna lagu centil banyak berkembang dari ekosistem Ratu yang digawangi Maia Estianty. Dari formasi ini, lahir beberapa karakter vokal dan persona yang kemudian berjalan sendiri-sendiri di industri musik.

Pinkan Mambo, baik saat masih di Ratu maupun di fase solonya, membawa energi yang lebih ekspresif dan quirky. Sementara itu, setelah keluar dari Ratu, Mulan Jameela juga tetap mempertahankan citra pop yang kuat lewat lagu Makhluk Tuhan Paling Sexy, yang memperlihatkan sisi centil yang lebih berani dan terbuka.

Maia Estianty dalam cuplikan video klip Teman Tapi Mesra oleh Ratu. Foto: Youtube/ratuVEVO
Pinkan Mambo dalam video klip Kasmaran. Foto: Youtube/sonymusicIDVEVO
Mulan Jameela dalam cuplikan video klip Makhluk Tuhan Paling Sexy. Foto; Youtube/GP Record

Di sisi lain, Bunga Citra Lestari menawarkan versi centil yang lebih soft-feminin, manis, dan halus dengan lagu seperti “Sunny” atau “Hot”. Sementara itu, Dewi Sandra lewat “I Love You” menghadirkan warna yang lebih playful dan flirtatious. Ringan, manja, tapi sudah mulai terasa lebih ekspresif tanpa menjadi agresif.

Lalu hadir Cinta Laura dengan pendekatan yang jauh lebih bold. Lagu seperti “Oh Baby” dan “Guardian Angel” menunjukkan persona “cute tapi pede”. Centil yang sadar diri, performatif, dan sangat pop. Di titik ini, centil mulai terasa sebagai karakter yang dimainkan, bukan sekadar ekspresi spontan.

Cinta Laura Kiehl dalam video klip Oh Baby. Foto: Youtube/Cinta Laura Kiehl

Masuk ke era digital, bentuknya makin cair. Marion Jola menghadirkan nuansa centil yang modern lewat lagu seperti “Rayu” dan “Jangan”. Liriknya lebih santai, delivery-nya intimate, dan centilnya terasa lebih dewasa. Bukan lagi sekadar genit, tapi juga sensual dan self-aware.

Sementara generasi terbaru ada Naykilla lewat beberapa hits seperti “Garam & Madu (Sakit Dadaku)”, “So Asu”, dan teranyar My Mine Gueh. Lainnya, ada Indahkus dengan salah satu hits Malu-malu.

Naykilla dalam video klip My Mine Gue (MMG). Foto: Youtube/antinrml
Naykilla dalam video klip So Asu. Foto: Youtube/antinrml
Indakhus dalam video klip Malu-malu. Foto/Youtube/antnrml

Lagu-lagu centil dengan iringan hipdut itu membawa centil ke arah yang lebih personal, sarkas, bahkan absurd, lebih dekat dengan cara Gen Z berbicara. Di titik ini, centil tidak lagi sekadar soal genit atau menggoda, tapi juga jadi medium untuk mengekspresikan emosi dengan cara yang lebih santai, jujur, dan kadang self-deprecating.

Bukan Cuma Genit, Tapi Cara Ngadepin Drama

Yang menarik, banyak lagu centil justru lahir dari pengalaman yang nggak enak. Disakiti, di-ghosting, atau hubungan yang nggak jelas.

Tapi alih-alih dibawa sedih, ceritanya malah dibungkus jadi candaan. Perempuan dalam lagu-lagu ini tidak selalu menangis atau marah besar.

Mereka bisa menyindir dengan santai. Menertawakan situasi, atau sekadar bilang “yaudahlah” tanpa kehilangan kontrol. Di sini centil bukan lagi sekadar gaya, tapi cara bertahan.

Ada alasan kenapa lagu centil terasa lebih cepat viral, terutama di era TikTok.

Secara sederhana, liriknya gampang diingat. Emosinya langsung kena, dan mudah dipakai untuk ekspresi (dance, POV, atau storytelling).

Akhirnya, lagu tidak hanya didengar, tapi juga “dipakai”. Dan centil adalah format yang paling pas untuk itu: ringan, ekspresif, dan fleksibel.

Antara Emosi, Algoritma, dan Relatability

Fenomena lagu centil tidak muncul begitu saja. Ia bisa dibaca sebagai bagian dari perubahan cara generasi sekarang memproses emosi sekaligus berkomunikasi di ruang digital.

Pertama, dalam perspektif psikologi, penggunaan humor dan nada ringan dalam menghadapi pengalaman emosional berkaitan dengan konsep emotional coping.

Ilustrasi Envato/gstockstudio

Sejumlah kajian seperti Humor as Emotion Regulation oleh Samson dan Gross serta The Psychology of Humor oleh Rod Martin menunjukkan bahwa humor tidak menghilangkan stres, tetapi membantu menggeser cara individu meresponsnya, membuat pengalaman yang menyakitkan terasa lebih dapat dikendalikan.

Dalam konteks ini, lagu centil bisa dilihat sebagai bentuk coping: rasa sakit tetap ada, tetapi dikemas ulang menjadi sesuatu yang lebih ringan untuk dibawa.

Kedua, dari sisi budaya digital, karakter musik yang singkat, repetitif, dan emosional berkaitan erat dengan logika platform seperti TikTok. Konten yang mudah dipahami dalam hitungan detik dan bisa diulang cenderung lebih mudah menyebar. Hal ini sejalan dengan berbagai studi tentang perilaku pengguna dan distribusi konten digital yang menekankan pentingnya kecepatan, keterbacaan emosi, dan potensi pengulangan.

Lagu centil dengan lirik sederhana dan emosi yang langsung kena, secara struktur memang kompatibel dengan ekosistem ini. Namun, viralitas tidak hanya ditentukan oleh format, melainkan juga oleh kedekatan pengalaman.

Dalam studinya Mapping Internet Celebrity on TikTok: Exploring Attention Economies and Visibility Labours, Crystal Abidin menjelaskan bahwa TikTok bekerja dalam logika attention economy, di mana konten bersaing untuk menarik perhatian dalam waktu singkat.

Dalam ekosistem seperti ini, ekspresi yang terasa autentik, kasual, dan dekat dengan keseharian justru memiliki daya sebar yang lebih kuat. Di sinilah lagu centil bekerja, bukan karena dangkal tetapi karena menggunakan bahasa yang akrab dan tidak berjarak.

Naykilla. Foto: Youtube/NAYKILLA

Dari perspektif studi gender dan pop culture, fenomena ini juga mencerminkan pergeseran representasi perempuan. Dalam karya seperti Gender and the Media oleh Rosalind Gill dan Empowered: Popular Feminism and Popular Misogyny oleh Sarah Banet-Weiser, dijelaskan bahwa perempuan dalam budaya populer tidak lagi selalu ditempatkan sebagai subjek yang pasif atau harus serius dalam mengekspresikan emosi.

Ada ruang untuk bermain melalui ironi, humor, bahkan centil, sebagai bentuk ekspresi yang lebih cair. Namun, centil sendiri bukan kategori yang sepenuhnya netral.

Dalam beberapa konteks, fenomena ini masih bisa dibaca sebagai bentuk performativitas yang mengikuti ekspektasi sosial. Misalnya untuk tetap terlihat menyenangkan atau tidak terlalu emosional.