Periskop.id - Pernah nggak, kamu merasa kayak kenal banget sama seseorang padahal cuma lihat dari layar?
Tahu cara dia ngomong, hafal kebiasaan kecilnya, bahkan bisa nebak dia bakal bereaksi seperti apa. Kadang ikut senang waktu dia update kabar baik. Atau malah ikut kepikiran saat dia terlihat sedih.
Padahal, kamu belum pernah ketemu.
Di era sekarang, pengalaman seperti ini makin sering terjadi. Selebriti, influencer, sampai kreator konten hadir hampir setiap hari lewat video, story, atau live. Dari yang awalnya cuma hiburan, lama-lama terasa seperti ada hubungan.
Apa Itu Parasocial Relationship?
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai parasocial relationship.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Donald Horton dan Richard Wohl pada tahun 1956. Mereka menggambarkannya sebagai ilusi hubungan sosial. Yakni ketika penonton merasa punya koneksi dengan figur di media, meskipun hubungan tersebut berjalan satu arah.
Penonton merasa “dekat”, seolah-olah ada interaksi, padahal sebenarnya tidak ada timbal balik. Konsep ini awalnya muncul dari studi tentang televisi.
Tapi di era media sosial, intensitasnya meningkat. Penelitian dalam jurnal Current Opinion in Psychology (2022) menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap figur yang sama, apalagi dengan gaya komunikasi yang terasa personal, bisa memperkuat rasa familiar dan kedekatan.
Media sosial mempercepat proses ini. Konten sehari-hari, cerita personal, dan interaksi yang terlihat “langsung” membuat figur publik terasa lebih manusiawi dan mudah dijangkau, meski tetap tidak benar-benar saling mengenal.
Kedekatan yang Terasa Nyata di Banyak Situasi
Fenomena ini muncul di banyak situasi. Ada yang merasa dekat dengan YouTuber yang selalu ditonton sebelum tidur, ada yang mengikuti perjalanan karier idol dari awal, dan ada juga yang rutin menunggu update influencer karena terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam psikologi media, kondisi ini sering dijelaskan lewat uses and gratifications theory, yaitu bahwa orang mengonsumsi media untuk memenuhi kebutuhan tertentu seperti hiburan, pelarian, atau rasa terhubung. Ketika konten terasa relatable, kebutuhan itu terpenuhi, lalu keterikatan mulai terbentuk. Penelitian dari American Psychological Association juga menunjukkan bahwa hubungan parasosial bisa memberi rasa koneksi sosial, terutama saat konsumsi media berlangsung intens.
Kedekatan ini semakin kuat karena faktor kebiasaan. Konsep mere exposure effect dari Robert Zajonc menjelaskan bahwa semakin sering seseorang terpapar pada figur yang sama, semakin besar kemungkinan muncul rasa familiar dan suka. Dari situ, kedekatan emosional bisa berkembang tanpa terasa.
Sejak konsep parasocial relationship diperkenalkan oleh Donald Horton dan Richard Wohl, peneliti sudah melihat bahwa media bisa menciptakan ilusi interaksi sosial yang terasa nyata. Gaya komunikasi yang santai, langsung ke kamera, dan terasa personal makin memperkuat hal ini. Kedekatan yang muncul terasa nyata, tapi tetap berasal dari apa yang dilihat dan diikuti, bukan dari hubungan dua arah.
Ciri yang Sering Terasa
Beberapa karakteristik umum dari parasocial relationship yang sering dibahas dalam literatur psikologi media antara lain:
- Rasa familiar yang kuat terhadap figur publik
Figur tersebut terasa tidak asing, seolah-olah sudah lama dikenal karena sering muncul dalam keseharian. - Konsumsi konten secara rutin dan konsisten
Ada kebiasaan untuk terus mengikuti update mereka, baik lewat video, story, maupun platform lain. - Respons emosional terhadap kehidupan figur tersebut
Perasaan ikut senang, sedih, atau kecewa bisa muncul saat melihat perkembangan dalam hidup mereka. - Persepsi bahwa figur tersebut “bisa dipahami” secara personal
Muncul anggapan bahwa kepribadian atau cara berpikir mereka sudah cukup dikenal, meski hanya dari konten. - Adanya ilusi kedekatan, meski tanpa interaksi langsung
Terasa seperti ada hubungan, walaupun sebenarnya tidak pernah terjadi komunikasi dua arah.
Menurut peneliti seperti Gayle Stever, hubungan ini bisa terasa nyata secara emosional, karena otak merespons paparan berulang seolah-olah itu bagian dari interaksi sosial biasa.
Bentuk Kedekatan dalam Relasi Media
Hubungan antara selebriti atau influencer dan penggemarnya kini terasa lebih dekat dibanding sebelumnya.
Konten yang dibagikan secara rutin, cara penyampaian yang personal, serta kemunculan yang konsisten membuat figur publik terasa akrab bagi penonton. Kedekatan ini terbentuk dari apa yang dilihat dan diikuti dalam jangka waktu tertentu.
Sejak konsep parasocial relationship dijelaskan oleh Donald Horton dan Richard Wohl, hubungan seperti ini dipahami sebagai bentuk interaksi yang dimediasi oleh media, bukan interaksi langsung.
Karena itu, kedekatan yang dirasakan berada dalam konteks pengalaman media terasa personal, namun tidak melibatkan hubungan timbal balik secara nyata.
Dampaknya dalam Kehidupan Sehari-hari
Keterlibatan dengan figur publik lewat konten digital bisa terasa sebagai bagian dari keseharian. Perasaan senang, tertarik, atau ikut mengikuti perkembangan mereka sering muncul seiring intensitas konsumsi konten.
Dalam beberapa situasi, keterlibatan ini bisa berpengaruh pada suasana hati atau perhatian. Misalnya, ketika respons emosional terhadap aktivitas figur tersebut terasa lebih kuat, atau ketika perhatian terhadap konten mulai bersaing dengan aktivitas lain.
Penelitian dalam Frontiers in Psychology (2020) mencatat bahwa keterlibatan parasosial yang intens dapat berkaitan dengan kesejahteraan emosional, terutama ketika interaksi melalui media menjadi lebih dominan dibanding interaksi sosial langsung.
Dalam konteks ini, memahami batas antara pengalaman emosional dari media dan kehidupan nyata menjadi hal yang penting. Dukungan profesional, seperti psikolog, dapat membantu jika diperlukan untuk menjaga keseimbangan tersebut.
Ini Normal atau Nggak?
Dalam banyak kasus, ini termasuk hal yang wajar.
Penelitian dalam Journal of Social and Personal Relationships menunjukkan bahwa hubungan parasosial bisa memberi rasa nyaman dan keterhubungan, terutama ketika seseorang merasa kesepian atau butuh hiburan.
Konten memang dirancang untuk terasa dekat. Jadi respons emosional dari penonton bukan sesuatu yang aneh.
Namun, ada batas yang perlu dipahami. Apa yang terlihat di layar adalah bagian yang sudah dikurasi. Tidak selalu mencerminkan keseluruhan kehidupan seseorang.
Studi dari Media Psychology (2017) menunjukkan bahwa semakin tinggi keterlibatan parasosial, semakin besar kemungkinan seseorang membentuk ekspektasi atau asumsi terhadap figur tersebut. Ketika realitas tidak sesuai dengan bayangan, bisa muncul rasa kecewa atau terganggu secara emosional.
Kapan Parasocial Relationship Jadi Tidak Sehat?
Keterlibatan dengan figur di media pada dasarnya bisa menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari. Namun, dalam beberapa kondisi, intensitasnya bisa berubah dan mulai terasa tidak seimbang.
Salah satu tandanya adalah ketika perhatian dan emosi terlalu terfokus pada figur tersebut. Misalnya, suasana hati sangat dipengaruhi oleh aktivitas mereka, atau muncul reaksi yang sangat kuat terhadap keputusan yang mereka buat.
Kondisi lain yang sering dibahas dalam penelitian adalah ketika keterlibatan ini mulai menggantikan interaksi sosial nyata. Studi dalam Frontiers in Psychology (2020) mencatat bahwa keterlibatan parasosial yang sangat intens dapat berkaitan dengan kesejahteraan emosional yang menurun, terutama jika hubungan di dunia nyata menjadi berkurang.
Dalam beberapa kasus, batas antara apa yang dilihat di layar dan kehidupan pribadi juga bisa terasa semakin kabur.
Kapan Perlu Mencari Dukungan Profesional?
Tidak semua keterlibatan yang kuat membutuhkan bantuan profesional. Namun, perhatian lebih bisa dipertimbangkan ketika kondisi ini mulai berdampak pada keseharian.
Beberapa situasi yang bisa menjadi pertimbangan antara lain ketika sulit mengalihkan perhatian dari figur tersebut, ketika aktivitas sehari-hari terganggu, atau ketika emosi terasa sangat dipengaruhi oleh hal-hal yang terjadi pada mereka.
Dukungan dari profesional seperti psikolog dapat membantu memahami pola keterlibatan yang terjadi, sekaligus membantu menjaga keseimbangan antara pengalaman di media dan kehidupan nyata.
Pendekatan ini bukan untuk menghilangkan ketertarikan, tetapi untuk membantu melihatnya dalam batas yang lebih sehat dan proporsional.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar