Periskop.id - Saya adalah perempuan berusia 38 tahun yang bersama suami sama-sama memiliki latar belakang pekerjaan di dunia kesehatan. Jadi, ketika di awal pernikahan kami menghadapi kesulitan untuk mendapatkan kehamilan, rasanya agak sulit bagi kami untuk sekadar berkata, “Ya sudah, mungkin belum waktunya.”

Bukan karena kami terlalu panik. Justru karena kami tahu, ada banyak hal yang bisa memengaruhi kesuburan seseorang. Dan semakin lama kami menunggu tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul.

Akhirnya kami mengambil keputusan yang menurut saya sampai sekarang menjadi salah satu keputusan paling penting dalam perjalanan kami memiliki anak: memeriksakan kondisi kesuburan kami berdua.

Bukan saya saja. Bukan suami saja. Kami berdua.

Dan dari situlah perjalanan panjang ini dimulai.

Ternyata masalahnya tidak sesederhana yang kami kira

Setelah menjalani pemeriksaan, ternyata ada beberapa kondisi yang membuat perjalanan menuju kehamilan tidak semudah yang kami bayangkan.

Dari sisi saya, ditemukan beberapa kondisi, mulai dari kondisi vagina yang cenderung asam, rahim terbalik, sampai adanya indikasi PCOS atau polycystic ovary syndrome.

Sementara itu, suami juga sedang berada dalam fase kehidupan yang tidak kalah berat. Ia masih menjalani pendidikan sebagai dokter spesialis. Jadwalnya padat, tekanan pekerjaannya tinggi, waktu istirahat tidak selalu ideal, dan stres menjadi bagian yang hampir tidak bisa dihindari.

Dari pemeriksaan, kualitas sperma juga ternyata ikut terdampak.

Di titik itu saya justru merasa pemeriksaan bersama pasangan menjadi sangat penting.

Sebab kalau sejak awal saya hanya memeriksakan diri, mungkin saya akan terlalu sibuk mencari apa yang “salah” dari tubuh saya. Padahal ternyata ada faktor lain yang juga perlu diperhatikan.

Kesuburan memang bukan urusan perempuan saja.

Kami sempat memilih IVF

Setelah mengetahui kondisi masing-masing, kami mulai mempertimbangkan berbagai pilihan.

Salah satunya adalah IVF atau bayi tabung.

Keputusan tersebut tentu bukan keputusan yang ringan. Ada biaya yang harus dipikirkan, ada tenaga yang harus disiapkan, ada proses medis yang harus dijalani, dan tentu saja ada harapan besar yang ikut ditaruh di dalamnya.

Kami akhirnya mencoba. Tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang kami harapkan. IVF kami gagal.

Jujur saja, gagal setelah mengeluarkan energi, waktu, pikiran, dan biaya yang tidak sedikit tentu bukan pengalaman yang mudah. Ada rasa kecewa. Ada pertanyaan, “Lalu setelah ini bagaimana?”

Namun, kalau dipikir-pikir lagi, ada satu hal yang justru kami bawa pulang dari kegagalan itu: kami menjadi jauh lebih memahami kondisi tubuh kami masing-masing.

Dan ternyata, pengetahuan tersebut sangat berharga.

Memperbaiki apa yang bisa diperbaiki

Setelah IVF gagal, kami tidak langsung berpikir bahwa satu-satunya jalan adalah mencoba prosedur yang sama lagi. Kami mencoba melihat kembali kondisi yang sudah diketahui sebelumnya.

Saya fokus menangani PCOS. Pola makan mulai diperhatikan. Gaya hidup kami berdua juga ikut diadaptasi. Bahkan urusan hubungan intim pun kami sesuaikan dengan kondisi dan pemahaman yang sudah kami dapatkan dari pemeriksaan sebelumnya.

Sederhananya, kami mencoba memperbaiki hal-hal yang memang masih bisa kami perbaiki.

Tidak ada formula ajaib. Tidak ada jaminan bahwa setelah melakukan A, B, dan C, kehamilan pasti terjadi. Tetapi setidaknya kami tidak lagi berjalan dalam kegelapan.

Kami tahu apa yang sedang kami hadapi. Dan menurut saya, itu perbedaan yang sangat besar.

Sebelumnya, rasanya seperti sedang mencoba membuka pintu tetapi tidak tahu apakah pintunya terkunci, apakah kuncinya salah, atau memang ada masalah lain di balik pintu tersebut. Setelah diperiksa, setidaknya kami tahu di mana letak persoalannya.

Sampai akhirnya saya hamil

Setelah berbagai perjuangan tersebut, sesuatu yang selama ini kami tunggu akhirnya datang.

Saya hamil.

Anak pertama kami akhirnya lahir. Dan perjalanan kami ternyata belum berhenti di situ. Beberapa waktu kemudian, saya kembali hamil dan akhirnya memiliki anak kedua.

Kalau sekarang mengingat kembali masa-masa tersebut, rasanya campur aduk. Ada rasa lega, bahagia, sekaligus seperti tidak percaya bahwa perjalanan yang dulu terasa begitu panjang akhirnya bisa sampai di titik ini.

Saya sadar betul bahwa saya termasuk orang yang beruntung. Tidak semua pasangan yang mengalami masalah kesuburan akan mendapatkan akhir cerita seperti yang saya alami. Ada pasangan yang sudah melakukan berbagai macam pemeriksaan, pengobatan, perubahan gaya hidup, bahkan prosedur reproduksi berbantu, tetapi tetap harus menghadapi jalan buntu.

Karena itu saya tidak pernah menganggap pengalaman saya sebagai semacam resep pasti untuk mendapatkan kehamilan.

Tetapi ada satu hal yang ingin sekali saya bagikan dari pengalaman tersebut, yakni keberanian untuk bersama-sama pasangan memeriksakan diri.

Menurut saya, salah satu jebakan terbesar ketika pasangan sulit mendapatkan kehamilan adalah munculnya pertanyaan: “Ini salah siapa?”

Padahal pertanyaan tersebut mungkin tidak terlalu membantu.

Kesuburan adalah sesuatu yang kompleks. Ada begitu banyak faktor yang dapat berperan, baik dari perempuan maupun laki-laki. Bahkan dalam kasus tertentu, penyebabnya juga tidak selalu bisa ditemukan dengan jelas.

Karena itu, menurut saya, pemeriksaan seharusnya tidak ditempatkan sebagai proses mencari pihak yang bersalah. Justru sebaliknya. Pemeriksaan adalah cara untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang bisa dilakukan bersama-sama.

Dalam pengalaman saya, mengetahui masalah justru membuat kami lebih tenang dalam mengambil keputusan.

Ketika tahu ada PCOS, saya bisa fokus pada penanganannya.

Ketika tahu kondisi suami juga dipengaruhi oleh tekanan dan stres, kami bisa memahami bahwa persoalan kesuburan bukan hanya berada di tubuh saya.

Kami akhirnya berada di sisi yang sama. Bukan saya melawan tubuh saya sendiri, atau suami merasa menjadi penyebab kegagalan kehamilan. Kami berdua berjuang di medan yang sama.

Berani tahu mungkin lebih baik daripada terus menebak-nebak

Saya paham kenapa sebagian pasangan mungkin takut melakukan pemeriksaan kesuburan.

Ada rasa takut mendengar hasilnya.

Ada kekhawatiran soal biaya.

Ada rasa malu.

Ada juga ketakutan bahwa setelah mengetahui masalahnya, justru semuanya akan terasa semakin rumit.

Saya pun pernah berada di posisi yang sama. Tetapi dari pengalaman saya, mengetahui kondisi sebenarnya justru memberi kita sesuatu yang sangat penting: pilihan.

Ketika kita tahu masalahnya, kita bisa berdiskusi dengan dokter mengenai pilihan yang tersedia.

Mungkin cukup dengan perubahan pola hidup.

Mungkin perlu pengobatan.

Mungkin perlu tindakan tertentu.

Mungkin perlu bantuan teknologi reproduksi seperti IVF.

Atau mungkin perlu waktu lebih panjang.

Apa pun pilihannya, setidaknya keputusan tersebut dibuat berdasarkan informasi, bukan sekadar tebakan. Dan menurut saya, itulah modal yang sangat penting ketika sedang memperjuangkan kehamilan.

Keberuntungan juga perlu dikejar

Sampai sekarang saya tetap merasa bahwa saya beruntung.

Saya beruntung bisa mendapatkan kesempatan memiliki dua anak. Saya beruntung memiliki pasangan yang mau menjalani proses tersebut bersama-sama. Saya juga beruntung bahwa setelah berbagai upaya yang kami lakukan, akhirnya tubuh saya memberikan kesempatan untuk mengalami kehamilan.

Tetapi kalau boleh jujur, saya juga merasa bahwa keberuntungan tersebut tidak sepenuhnya datang dengan sendirinya. Kami berusaha mengejarnya.

Kami memberanikan diri untuk memeriksakan kondisi masing-masing. Kami menerima kenyataan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Kami mencoba berbagai pilihan. Kami pernah gagal. Kami kecewa. Lalu kami mencoba memahami lagi apa yang sebenarnya terjadi.

Buat saya, keberanian untuk mencari tahu adalah bagian dari perjuangan itu sendiri.

Karena terkadang yang paling sulit bukan menjalani pengobatannya, tetapi mengambil langkah pertama untuk berkata kepada pasangan, “Bagaimana kalau kita sama-sama periksa?”

Pada akhirnya, perjalanan setiap pasangan untuk mendapatkan anak memang berbeda. Saya sendiri tidak ingin pengalaman saya dianggap sebagai jaminan bahwa cara yang sama akan berhasil untuk orang lain.

Namun kalau ada satu hal yang ingin saya titipkan dari pengalaman ini, mungkin sesederhana ini:

Jangan takut mengetahui kondisi tubuh sendiri. Dan jangan menghadapi persoalan kesuburan sendirian. Kalau memang sedang berjuang mendapatkan kehamilan, beranilah mengajak pasangan untuk sama-sama memeriksakan diri, menemukan masalahnya, dan tahu harus mulai dari mana.


Catatan: Tulisan ini diadaptasi dari pengalaman nyata. Beberapa bagian disesuaikan untuk kebutuhan alur dan konteks tulisan, tanpa mengubah fakta utama dari pengalaman yang diceritakan.