Periskop.id - Pernah nggak, ada satu hari yang rasanya capek banget? Satu hari yang terasa penuh dan bikin drained.
Saat anak rewel, rumah berantakan, atau ekspektasi tentang “pengasuhan ideal” terasa jauh dari kenyataan. Di situ, sering muncul pertanyaan kecil: sebenarnya, cara terbaik membesarkan anak itu seperti apa?
Belakangan, istilah dolphin parenting mulai sering muncul. Bukan sebagai tren yang harus diikuti, tapi sebagai cara pandang yang terasa lebih manusiawi, baik untuk anak maupun orang tuanya.
Mengenal Dolphin Parenting, Jalan Tengah yang Lebih Fleksibel
Gaya pengasuhan ini diperkenalkan oleh psikiater Shimi Kang. Ia membandingkan pola asuh lewat metafora: tiger parenting yang cenderung menekan, jellyfish parenting yang terlalu bebas, dan dolphin parenting yang berada di tengah yang hangat, adaptif, tapi tetap punya arah.
Dolphin atau lumba-lumba dikenal sebagai makhluk yang sosial, cerdas, dan fleksibel. Dari situ, pendekatan ini berkembang: orang tua hadir, mendampingi, tapi tidak mendominasi. Ada aturan, tapi tidak kaku. Ada kebebasan, tapi tetap dalam batas.
Dalam praktiknya, pendekatan ini bukan soal teknik yang rumit. Lebih ke cara melihat anak sebagai individu yang sedang belajar memahami dunia, bukan sekadar “dibentuk” agar sesuai dengan keinginan orang tua.
Dalam penelitian klasik Diana Baumrind berjudul “Child Care Practices Anteceding Three Patterns of Preschool Behavior”, ditemukan bahwa pola asuh yang hangat namun tetap memiliki batasan yang jelas berkaitan dengan perkembangan sosial dan emosional anak yang lebih sehat.
Mengakui Emosi Anak, Bukan Sekadar Menghentikannya

Misalnya, saat anak menangis. Refleks yang sering muncul adalah menghentikan tangis itu secepat mungkin.
Dalam pendekatan ini, emosi anak justru diakui terlebih dulu. Bukan berarti semua perilaku dibenarkan, tapi perasaannya dianggap valid.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep emotion coaching dari John Gottman. Dalam penelitian “Parental Meta-Emotion Philosophy and the Emotional Life of Families”, ia menunjukkan bahwa anak-anak yang emosinya diakui dan dibimbing cenderung memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih baik serta lebih resilien dalam menghadapi tekanan.
Kalimat sederhana seperti, “Kamu lagi sedih ya?” bisa jadi pintu kecil yang membuat anak merasa aman.
Belajar dari Kesalahan, Bukan Takut Melakukannya
Hal yang sama berlaku saat anak melakukan kesalahan. Misalnya saat anak menumpahkan air, merusak mainan, atau menolak makan.
Alih-alih langsung memarahi, orang tua mencoba melihatnya sebagai bagian dari proses belajar. Ada ruang untuk mencoba, salah, lalu memahami konsekuensinya.
Dalam pendekatan ini, pengalaman langsung dianggap penting. Anak belajar bukan hanya dari instruksi, tapi dari interaksi dengan dunia nyata.
Hal ini selaras dengan teori perkembangan kognitif. Jean Piaget dalam “The Origins of Intelligence in Children” menjelaskan bahwa anak membangun pemahaman melalui pengalaman langsung (learning by doing), bukan sekadar menerima instruksi.
Dolphin parenting bukan berarti tanpa aturan. Batasan tetap ada, tapi disampaikan dengan cara yang lebih tenang dan konsisten. Anak tahu apa yang boleh dan tidak, tanpa harus merasa takut.
Pendekatan ini juga memberi ruang bagi anak untuk mengambil keputusan kecil. Dari memilih baju hingga menyampaikan pendapat. Dari situ, anak belajar bahwa suaranya punya tempat.
Hal ini didukung oleh teori self-determination. Dalam “Intrinsic Motivation and Self-Determination in Human Behavior” oleh Edward Deci dan Richard Ryan, dijelaskan bahwa anak yang diberi ruang otonomi yang sehat cenderung memiliki motivasi intrinsik dan kesejahteraan psikologis yang lebih baik.
Implikasi pada Anak: Rasa Aman, Mandiri, dan Lebih Terhubung

Pendekatan yang hangat namun tetap terarah ini berkaitan dengan beberapa aspek perkembangan anak.
Anak cenderung merasa lebih aman secara emosional karena terbiasa didengar. Dari rasa aman itu, muncul keberanian untuk mengekspresikan diri dan mencoba hal baru.
Di saat yang sama, adanya batasan yang konsisten membantu anak memahami struktur. Ia belajar bahwa kebebasan tetap berjalan berdampingan dengan tanggung jawab.
Kemampuan regulasi emosi juga berkembang seiring waktu. Anak tidak hanya belajar menahan atau meluapkan emosi, tapi mengenali dan mengelolanya.
Selain itu, ruang otonomi yang diberikan sejak kecil membuat anak lebih terbiasa mengambil keputusan. Bukan dalam skala besar, tapi dari hal-hal sederhana yang perlahan membentuk rasa percaya diri.
Relasi dengan orang tua pun cenderung lebih terbuka. Bukan karena tidak ada konflik, tapi karena ada ruang untuk kembali terhubung setelahnya.
Orang Tua Juga Sedang Belajar

Dolphin parenting kerap dipahami sebagai pendekatan yang memberi ruang fleksibilitas yang berjalan dari hari ke hari, termasuk saat semuanya terasa tidak rapi. Pendekatan ini tidak hanya menyoroti proses anak, tetapi juga bagaimana orang tua belajar mengelola diri.
Tetap tenang saat lelah atau mendengarkan saat pikiran penuh bukan hal yang selalu mudah. Ada kalanya respons meninggi, lalu disusul rasa bersalah. Dalam penelitian lanjutan Gottman, Meta-Emotion: How Families Communicate Emotionally, disebutkan bahwa cara orang tua memahami emosinya sendiri memengaruhi bagaimana mereka merespons emosi anak.
Dalam konteks ini, hubungan yang responsif dan hangat berjalan beriringan dengan batasan yang tetap ada. Anak dipandang sebagai individu yang terus berkembang, sementara orang tua juga menyesuaikan ekspektasi yang tidak selalu tetap.
Jeda-jeda kecil sering muncul sebagai ruang untuk mengamati ulang interaksi, respons, dan emosi yang hadir. Dari situ, pertanyaan-pertanyaan sederhana kerap muncul. Tentang keinginan untuk lebih tenang, kenyataan yang tidak selalu sesuai rencana, hingga jarak antara harapan dan praktik sehari-hari.
Dinamika tersebut menjadi bagian yang wajar dalam proses pengasuhan yang berlangsung bertahap.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar