periskop.id - Video itu sebenarnya biasa saja. Seorang perempuan tertawa sambil bercerita di depan kamera. Gayanya santai, topiknya ringan.
Dalam beberapa jam, videonya mulai ramai. Bukan karena isinya luar biasa, tapi karena komentarnya.
“Ih pick me banget.”
“Dia beda sendiri biar dilirik cowok.”
“Caper banget, sumpah.”
Awalnya satu-dua komentar. Lalu bertambah. Dalam hitungan waktu, label itu menempel, menggantikan isi videonya sendiri.
Padahal, mungkin dia hanya sedang jadi dirinya sendiri.
Fenomena seperti ini bukan hal baru. Dan hampir selalu, targetnya adalah perempuan.

Pernah nggak sih, scroll media sosial lalu menemukan komentar seperti, “ih pick me banget”?
Kalimatnya singkat, tapi efeknya panjang. Dalam hitungan detik, seseorang bisa langsung “dikotakkan”, seolah perilakunya sudah cukup jelas untuk dinilai. Menariknya, label ini hampir selalu diarahkan ke perempuan.
Awalnya, istilah “pick me girl” muncul sebagai kritik terhadap perilaku tertentu. Perempuan yang dianggap mencari validasi, terutama dari laki-laki, dengan menonjolkan dirinya sebagai “berbeda dari perempuan lain”.
Misalnya, seseorang berkata, “aku nggak suka makeup, aku lebih natural dibanding cewek lain”, lalu langsung dianggap pick me. Padahal, bisa jadi itu hanya preferensi pribadi.
Di sinilah masalah mulai muncul.
Seiring waktu, istilah ini digunakan semakin longgar. Bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya netral. Perempuan yang ramah ke laki-laki, punya hobi “maskulin”, atau sekadar tidak mengikuti arus, bisa langsung dilabeli.
Pertanyaannya: apakah ini masih kritik sosial, atau sudah berubah menjadi cara baru untuk mengontrol perempuan?
Saat Perempuan Ikut Menilai Perempuan

Dalam psikologi sosial, ada konsep internalized misogyny. Yakni ketika perempuan secara tidak sadar menyerap standar yang merugikan dirinya sendiri.
Contohnya, seorang perempuan melihat perempuan lain tertawa keras atau aktif di depan laki-laki, lalu berkomentar, “Ih, caper banget sih”.
Komentar itu mungkin terasa ringan. Tapi sebenarnya, itu adalah bentuk penilaian berdasarkan standar tak tertulis. Perempuan “seharusnya” tidak terlalu menonjol.
Inilah yang dijelaskan dalam studi “The Fabric of Internalized Sexism” (2009). Perempuan bisa ikut mempertahankan norma yang membatasi mereka, tanpa sadar.
Dari Komentar Biasa Jadi Serangan Digital
Di dunia online, situasinya jadi lebih ekstrem.
Penelitian bertajuk Your a Ugly, Whorish, Slut’: Understanding E-bile (2014) menunjukkan bahwa perempuan di internet lebih sering menerima komentar bernada menyerang, bahkan untuk hal-hal sederhana.
Misalnya, perempuan posting foto outfit, dan out of nowhere ada yang komentar “murahan”.
Contoh lainnya, perempuan menyampaikan opini, malah dibilang cari perhatian atau caper. Ada juga, perempuan yang bercanda dengan laki-laki langsung dicap pick me.
Artinya, bukan hanya perilaku yang dinilai. Tapi juga cara tampil dan berbicara.
Fenomena “Sesama Perempuan Saling Mengawasi”
Studi Online Incivility or Sexual Harassment? (2014) menjelaskan bahwa di internet, perempuan tidak hanya dinilai, tetapi juga saling menilai. Fenomena ini disebut intra-women policing. Yakni ketika perempuan ikut “mengatur” perempuan lain tentang bagaimana mereka seharusnya bersikap.
Misalnya, Di kolom komentar sosial media, perempuan lain bisa jadi yang paling cepat menulis komentar seperti “Pick me alert”, “Dia beda sendiri biar dilirik cowok”.
Sekilas terlihat seperti kritik. Tapi lama-lama, ini jadi mekanisme sosial. Di mana siapa pun yang berbeda sedikit, langsung dikoreksi.
Di titik ini, label pick me girl berubah fungsi.
Bukan lagi sekadar menyebut perilaku tertentu, tapi menjadi bagian dari gender policing. Yakni penegakan aturan tak tertulis tentang bagaimana perempuan “seharusnya” bersikap.
Kenapa Ini Cepat Viral?
Karena algoritma menyukai emosi. Studi The Echo Chamber Effect on Social Media (2021) menunjukkan bahwa konten yang memicu reaksi seperti sindiran atau penghakiman, lebih cepat menyebar.
Makanya, komentar seperti “pick me banget” jauh lebih viral dibanding komentar netral seperti “ya itu pilihan dia”.
Masalahnya, ini tidak berhenti di layar. Laporan Free to Be Online?”(2020) mencatat bahwa 58% perempuan muda pernah mengalami pelecehan di internet.
Akibatnya, banyak perempuan mulai “mengatur diri”.
Mau posting sesuatu, mikir, “nanti dibilang pick me nggak ya?”
Mau komentar, takut diserang.
Mau jadi diri sendiri, jadi ragu.
Fenomena ini disebut self-censorship. Studi Women’s Experiences with General and Sexual Harassment in Online Spaces (2017) menemukan bahwa perempuan cenderung membatasi ekspresi diri karena takut reaksi negatif.
Dalam konteks ini, label seperti pick me girl bukan sekadar kata. Melainkan bagian dari lingkungan yang membuat perempuan harus terus berhitung sebelum berbicara. Ironisnya, label ini sering datang dari sesama perempuan. Namun ini bukan sekadar konflik horizontal.
Dalam perspektif kajian gender, ini adalah bagian dari reproduksi norma sosial yang lebih besar. Di mana perempuan, sadar atau tidak, ikut mempertahankan sistem yang menilai mereka.
Bandingkan dengan laki-laki. Perilaku serupa jarang diberi label viral yang spesifik dan merendahkan. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa standar sosial terhadap perempuan jauh lebih ketat dan lebih cepat diaktifkan di ruang publik digital.
Tinggalkan Komentar
Komentar