Ambivalent Friendship, Ketika Teman Bisa Jadi Sumber Bahagia Sekaligus Stres
Ambivalent friendship adalah hubungan pertemanan yang memberi rasa nyaman sekaligus lelah. Mengapa kita tetap mempertahankan teman yang kadang justru membuat kita tertekan?

Periskop.id - Ada satu jenis pertemanan yang sulit dijelaskan dengan kata “baik” atau “buruk”. Kita bisa tertawa lepas bersamanya, tetapi beberapa kali juga pulang dengan perasaan kesal. Ia mungkin orang pertama yang kita hubungi ketika sedang menghadapi masalah, tetapi sekaligus orang yang komentarnya paling sering membuat kita mempertanyakan diri sendiri.
Kita tahu ada hal-hal dari dirinya yang tidak kita sukai. Kadang ia terlalu kompetitif. Kadang suka membandingkan kehidupan. Kadang membuat kita merasa tidak cukup baik. Namun ketika sesuatu terjadi, tangan kita tetap refleks mencari namanya di daftar kontak.
Bukan karena kita tidak tahu hubungan itu melelahkan. Justru karena kita tahu bahwa hubungan tersebut juga memiliki sisi yang membuat kita merasa dibutuhkan, dipahami, atau ditemani.
Dalam psikologi hubungan sosial, situasi seperti ini dikenal sebagai ambivalent relationship. Ketika terjadi dalam pertemanan, istilah ambivalent friendship dapat menggambarkan hubungan yang secara bersamaan memiliki pengalaman positif dan negatif.
Dengan kata lain, teman tersebut bukan sepenuhnya toksik, tetapi juga bukan sosok yang selalu membuat kita merasa aman.
Tempat pulang sekaligus sumber lelah
Ambivalent friendship mungkin terdengar asing, tetapi pengalamannya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bayangkan seorang teman yang sudah mengenal kita selama belasan tahun. Ia tahu cerita tentang keluarga, pekerjaan, hubungan asmara, bahkan masa-masa ketika kita masih mencari tahu siapa diri kita.
Ketika kita sedang sedih, dia bisa menjadi orang yang datang membawa makanan dan mendengarkan cerita sampai tengah malam. Tetapi di kesempatan lain, orang yang sama mungkin melontarkan komentar sinis tentang pekerjaan, pasangan, penampilan, atau pilihan hidup kita.
Akibatnya muncul perasaan yang membingungkan.
“Dia sebenarnya baik.”
“Tapi kenapa setiap habis bertemu dengannya aku merasa tidak enak?”
“Dia selalu ada ketika aku butuh.”
“Tapi mengapa aku harus berhati-hati setiap kali bercerita?”
Dua pengalaman tersebut bisa sama-sama benar. Dan justru di situlah ambivalensi berada.
Bukan sekadar teman toksik
Istilah toxic friendship sering digunakan untuk menggambarkan pertemanan yang membawa dampak buruk. Namun, ambivalent friendship lebih rumit karena hubungan tersebut tidak sepenuhnya negatif.
Peneliti Julianne Holt-Lunstad dan Bert N. Uchino menjelaskan bahwa hubungan ambivalen memiliki kombinasi kualitas positif dan negatif. Mereka bahkan mengusulkan agar hubungan semacam ini tidak sekadar dimasukkan ke dalam kategori hubungan positif atau negatif karena karakteristiknya berbeda.
Kalau seseorang terus-menerus merendahkan, memanipulasi, mengancam, atau menyakiti kita, mungkin lebih mudah mengenali bahwa hubungan tersebut bermasalah. Tetapi bagaimana jika orang yang sama juga pernah membantu kita melewati masa paling sulit dalam hidup? Bagaimana jika sebagian besar kenangan terbaik kita juga melibatkan dirinya? Hubungan semacam itu membuat keputusan untuk menjauh menjadi jauh lebih sulit.
Mengapa sulit meninggalkan pertemanan ambivalen?
Salah satu alasannya adalah ketidakpastian. Dalam hubungan yang sepenuhnya buruk, kita mungkin sudah tahu apa yang harus dilakukan. Kita memasang batas, menjaga jarak, atau pergi.
Sebaliknya, dalam ambivalent friendship, kita tidak pernah sepenuhnya yakin apakah harus bertahan atau pergi. Hari ini kita merasa sangat dekat dengannya. Minggu depan kita merasa seharusnya tidak pernah bercerita terlalu banyak. Hari ini ia membuat kita merasa sangat didukung. Besok sebuah komentarnya membuat kita mempertanyakan harga diri sendiri. Pola seperti ini dapat membuat hubungan terasa seperti naik turun secara emosional.
Artinya, persoalan ini bukan sekadar tentang “baper” atau terlalu sensitif. Hubungan sosial memang memiliki kaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan kita. Dan kualitas hubungan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak dukungan yang diberikan seseorang, tetapi juga oleh seberapa banyak tekanan atau pengalaman negatif yang hadir di dalamnya.
Ada alasan lain yang membuat perempuan, maupun orang dewasa pada umumnya, sering bertahan dalam pertemanan yang sudah tidak sepenuhnya nyaman: sejarah.
Pertemanan yang sudah berlangsung selama 10 atau 15 tahun membawa banyak lapisan. Ada foto lama. Ada rahasia. Ada perjalanan. Ada fase patah hati. Ada masa ketika sama-sama belum punya uang. Ada cerita yang hanya diketahui oleh kalian berdua.
Meninggalkan hubungan tersebut bisa terasa seperti meninggalkan bagian dari diri sendiri. Apalagi ketika lingkaran pertemanan sudah saling terhubung. Satu orang bukan hanya teman, tetapi juga bagian dari kelompok, keluarga, pekerjaan, atau kehidupan sosial yang lebih luas.
Karena itu, menjauh tidak selalu berarti memutus hubungan secara dramatis. Kadang bentuknya jauh lebih sederhana: frekuensi bertemu berkurang, percakapan menjadi lebih terbatas, atau kita berhenti menjadikan orang tersebut sebagai tempat pertama untuk mencari dukungan emosional.
Tidak semua teman harus berada di lingkaran terdalam
Mungkin ini salah satu cara paling sehat untuk melihat ambivalent friendship. Kita tidak harus menentukan bahwa seseorang adalah “teman baik” atau “teman buruk”.
Ada orang yang cocok menjadi teman perjalanan. Ada yang cocok menjadi teman bekerja. Ada yang menyenangkan untuk makan malam dan bergosip. Dan ada pula yang layak berada di lingkaran paling dalam karena kita merasa aman menjadi diri sendiri bersamanya.
Masalah muncul ketika kita memberikan akses emosional yang terlalu besar kepada seseorang yang sebenarnya tidak mampu memperlakukan kerentanan kita dengan baik.
Maka, daripada bertanya, “Apakah dia teman yang toksik?”, mungkin pertanyaan yang lebih berguna adalah: “Setelah berinteraksi dengannya, biasanya aku merasa menjadi versi diriku yang seperti apa?” Jawaban atas pertanyaan itu bisa jauh lebih jujur daripada label apa pun.
Bertahan, membatasi, atau melepaskan?
Tidak semua ambivalent friendship harus diakhiri. Jika sisi positif hubungan masih lebih besar dan kedua orang bersedia memperbaiki pola interaksi, batas yang lebih sehat mungkin sudah cukup.
Kita bisa mengurangi topik tertentu. Tidak semua masalah harus diceritakan. Kita bisa menolak candaan yang melewati batas. Kita juga bisa berhenti merasa wajib selalu tersedia.
Tetapi jika setiap interaksi terus-menerus membuat kita merasa direndahkan, dimanipulasi, atau kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri, menjaga jarak mungkin menjadi pilihan yang lebih sehat. Yang penting, kita tidak perlu menunggu sampai sebuah pertemanan menjadi “cukup buruk” untuk berhak meninggalkannya. Sebab dalam kehidupan dewasa, kedekatan juga membutuhkan seleksi.
Dan mungkin, ambivalent friendship mengajarkan satu hal yang cukup dewasa tentang pertemanan: seseorang bisa pernah menjadi teman yang sangat berarti bagi kita, tetapi belum tentu harus menjadi teman yang paling dekat dengan kita selamanya.
Sebab bertumbuh bukan hanya tentang menemukan orang-orang baru. Kadang, bertumbuh juga berarti belajar menempatkan orang-orang lama pada jarak yang paling sehat bagi diri kita.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai SHEroes dengan mengeklik tautan.




Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.