Bagaimana Dorongan Merawat Pasangan Meningkat pada Perempuan Berpenghasilan Tinggi
Ketika perempuan memiliki penghasilan lebih tinggi, kemampuan finansial bisa memperkuat dorongan merawat pasangan. Namun, kapan perhatian berubah menjadi beban?

Periskop.id - Ada fenomena sederhana yang mungkin sering terlihat dalam hubungan: seorang perempuan memiliki penghasilan lebih besar daripada pasangannya, lalu tanpa banyak berpikir mulai lebih sering membelikan berbagai kebutuhan pasangan. Baju baru, sepatu, jam tangan, perlengkapan kerja, bahkan barang-barang yang sebenarnya tidak pernah diminta.
Bagi sebagian perempuan, tindakan tersebut bukanlah bentuk pamer kemampuan finansial. Itu adalah cara menunjukkan perhatian. Ketika memiliki kemampuan ekonomi lebih baik, dorongan untuk merawat pasangan bisa ikut meningkat karena hambatan finansial untuk memberi menjadi lebih kecil.
Fenomena ini tidak berarti semua perempuan akan melakukan hal yang sama. Namun, perubahan posisi ekonomi dalam hubungan dapat mengubah cara pasangan menjalankan peran, terutama ketika perempuan menjadi pihak dengan sumber daya finansial lebih besar.
Ketika kemampuan membeli bertemu dengan dorongan merawat
Dalam hubungan romantis, perhatian tidak selalu diwujudkan melalui kata-kata. Banyak orang menerjemahkan kasih sayang melalui tindakan praktis: memastikan pasangan makan, mengingatkan jadwal, membelikan sesuatu yang dibutuhkan, atau memperbarui barang yang sudah tidak layak.
Bagi perempuan yang memiliki penghasilan tinggi, bentuk perhatian seperti ini menjadi semakin mudah dilakukan. Ketika melihat pasangan masih mengenakan pakaian lama, misalnya, ia tidak harus menunggu pasangan mengeluh. Ia bisa langsung membeli beberapa potong pakaian baru.
Di sini, uang berfungsi bukan sekadar sebagai alat transaksi, tetapi sebagai alat merawat. Perempuan tersebut mungkin tidak merasa sedang “menanggung” pasangan. Ia justru merasa sedang melakukan sesuatu yang menyenangkan bagi orang yang dicintainya.
Perempuan sebagai pencari nafkah utama semakin terlihat
Fenomena female breadwinner juga bukan lagi sesuatu yang sepenuhnya asing. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Female Breadwinners menyebut fenomena perempuan sebagai pencari nafkah utama keluarga semakin banyak terjadi di Indonesia. BPS juga menyoroti bahwa perempuan pencari nafkah utama tetap menghadapi beban ganda sebagai pekerja sekaligus pengurus rumah tangga.
Artinya, peningkatan kemampuan ekonomi perempuan tidak otomatis menghapus peran domestik dan pengasuhan yang selama ini dilekatkan kepada perempuan.
Justru di sinilah muncul paradoks.
Seorang perempuan bisa menjadi pihak yang menghasilkan uang lebih banyak, tetapi pada saat yang sama tetap menjadi pihak yang paling banyak memikirkan kebutuhan rumah dan pasangan.
Dalam penelitian Pew Research Center terhadap pasangan menikah heteroseksual di Amerika Serikat, perempuan yang menjadi pencari nafkah utama tetap melakukan lebih banyak pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan dibandingkan pasangannya.
Pada tahun 2022, sekitar 16% perkawinan memiliki istri sebagai pencari nafkah utama atau satu-satunya pencari nafkah, meningkat dari 5% di tahun 1972. Jadi, perempuan yang lebih kuat secara finansial belum tentu berhenti menjadi caregiver.
Uang justru bisa memperkuat peran “pengurus”
Ada alasan psikologis yang sederhana. Ketika seseorang memiliki kemampuan lebih besar, ia cenderung lebih mudah mengambil alih kebutuhan yang dianggap bisa diselesaikan dengan sumber daya yang dimilikinya.
“Kalau aku punya uang dan dia membutuhkan, kenapa tidak aku belikan?”
Dari satu pembelian, pola ini bisa berkembang menjadi kebiasaan. Perempuan mulai memilihkan pakaian, membeli kebutuhan pribadi pasangan, mengurus pembayaran tertentu, sampai mengingatkan berbagai kebutuhan yang seharusnya bisa dikelola sendiri oleh pasangan.
Dalam hubungan, ini berkaitan dengan konsep mental load, yakni beban kognitif untuk mengingat, merencanakan, mengorganisasi, dan memastikan berbagai kebutuhan rumah tangga berjalan.
Riset tentang mental load menunjukkan adanya ketimpangan gender dalam tanggung jawab mengorganisasi pekerjaan domestik. Perempuan lebih sering menjadi pihak yang memegang tanggung jawab koordinasi tersebut, bahkan ketika mereka juga aktif bekerja.
Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya siapa yang membeli baju. Pertanyaannya adalah siapa yang pertama kali menyadari bahwa baju itu perlu dibeli?
Pada tahap tertentu, kebiasaan merawat bisa berubah menjadi sesuatu yang kurang sehat. Perempuan mungkin mulai merasa, “Kalau aku tidak mengurusnya, dia tidak akan mengurus dirinya sendiri.”
Pasangan kemudian tidak lagi sekadar menerima hadiah, tetapi mulai bergantung pada pasangannya untuk memenuhi kebutuhan personal. Di sinilah hubungan berisiko bergeser dari partner-partner menjadi caregiver-dependent.
Hubungan yang sehat tetap membutuhkan kontribusi dari kedua pihak. Kontribusi tersebut tidak harus selalu sama dalam bentuk uang. Pria yang penghasilannya lebih rendah tetap dapat mengambil porsi lebih besar dalam pekerjaan rumah, pengasuhan, urusan administratif, dukungan emosional, atau bentuk kontribusi lain yang bernilai bagi keluarga.
Bukan soal siapa yang bayar
Perempuan yang berpenghasilan lebih tinggi tidak perlu merasa bersalah ketika ingin membelikan sesuatu untuk pasangan. Memberi adalah bagian dari kasih sayang. Namun, ada perbedaan antara memberi karena mampu dan mengurus karena pasangan tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Yang pertama dapat mempererat hubungan. Yang kedua berpotensi menciptakan ketergantungan.
Akhirnya, kemampuan finansial perempuan justru bisa menjadi kesempatan untuk mendefinisikan ulang peran dalam hubungan. Bukan lagi soal siapa yang menjadi “pencari nafkah utama”, tetapi bagaimana uang, waktu, perhatian, dan pekerjaan domestik dibagi secara adil.
Sebab dalam hubungan yang sehat, perempuan boleh menjadi pihak yang menghasilkan lebih banyak uang. Ia juga boleh membelikan baju untuk pasangannya. Tetapi ia tidak harus menjadi istri sekaligus ibu bagi suaminya.
Yang dicari bukan kesamaan nominal kontribusi, melainkan rasa bahwa keduanya tetap menjadi orang dewasa yang saling merawat, bukan satu pihak yang terus memberi dan pihak lain yang terus menerima.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai SHEroes dengan mengeklik tautan.




Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.