iklan periskop
Drama

Dia Bilang Sayang, Tapi Ujungnya Minta Uang? Waspada Love Scam

Kenalan online mengaku sayang lalu mulai meminta uang? Kenali modus love scam agar hati dan rekening tetap aman.

2 jam yang lalu · 4 mnt baca
Dia Bilang Sayang, Tapi Ujungnya Minta Uang? Waspada Love Scam
Ilustrasi - Love scam. Envato/tehcheesiong.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Mencari pasangan melalui aplikasi kencan atau media sosial kini memang menjadi hal yang sangat lumrah. Berkenalan dengan seseorang yang terasa hangat, perhatian, dan selalu ada untuk diajak mengobrol tentu bisa membuat hati siapa pun meleleh. 

Namun, di balik percakapan manis dan perhatian yang melimpah tersebut, ada potensi bahaya yang mengintai jika kita tak bersikap waspada.

Fenomena penipuan berkedok cinta atau yang populer dikenal dengan istilah love scam kini makin marak terjadi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa kejahatan finansial berbasis manipulasi emosional ini merupakan tren yang sedang berkembang pesat di dunia digital, baik secara global maupun di Indonesia.

Data resmi dari Indonesia Anti Scam Center (IASC) mencatat statistik yang cukup mengejutkan. Hingga akhir tahun 2025, lembaga tersebut telah menerima sebanyak 3.494 laporan dari masyarakat yang menjadi korban love scam

Tak main-main, total kerugian materiil akibat modus penipuan manis ini telah menyentuh angka fantastis, yakni mencapai Rp49,19 miliar.

Cara Pelaku Love Scam Membangun Perangkap Emosional

Para pelaku love scam biasanya memulai aksinya dengan membuat profil palsu yang terlihat sangat menarik di aplikasi kencan maupun media sosial seperti Instagram dan Facebook. 

Setelah berhasil menarik perhatian, mereka akan berupaya membangun ikatan emosional dan menumbuhkan rasa percaya calon korban secara intens.

Pelaku tak ragu untuk mengirimkan pesan atau menelepon beberapa kali dalam sehari demi memberikan perhatian yang berlebih. 

Setelah merasa calon korban sudah membalas perasaan cinta mereka dan mulai terikat secara emosional, pelaku akan dengan cepat mengajak berpindah saluran komunikasi ke jalur pribadi seperti WhatsApp, email, atau sambungan telepon langsung.

Setelah rasa percaya dan keterikatan emosional terbangun dengan kuat, cerita manis pun perlahan berubah menjadi deretan masalah mendesak. Pelaku love scam selalu memiliki ribuan alibi yang disesuaikan dengan situasi untuk memancing empati dan rasa kasihan korban.

Secara umum, ada beberapa alibi populer yang sering dipakai ole para pelaku love scam ini untuk melancarkan aksinya. Biasanya, mereka bakal mengaku bekerja di tempat yang jauh atau terisolasi, seperti di anjungan lepas pantai, bertugas sebagai anggota militer di daerah pedalaman, atau bekerja di luar negeri. Alasan profesi keren dan jauh ini sengaja diciptakan supaya mereka punya alibi yang masuk akal saat diajak bertemu secara langsung.

Tak cuma itu, mereka juga hobi mengarang cerita dramatis seperti butuh biaya pengobatan darurat. Pelaku biasanya berpura-pura kalau diri mereka atau anggota keluarga dekatnya sedang sakit kritis dan mendesak butuh biaya operasi atau perawatan medis secepatnya. 

Modus lainnya yang tak kalah membuat luluh hati adalah berpura-pura sangat ingin datang berkunjung untuk menemui kita, tapi mendadak terkendala biaya pembelian tiket pesawat, pengurusan visa, atau biaya administrasi perjalanan lainnya. 

Bahkan, mereka tak ragu pura-pura tersangkut masalah hukum atau administrasi, seperti tertahan di pihak imigrasi atau butuh dana segar agar bisa lepas dari kendala keuangan tertentu. Semua skenario manis dan menyentuh hati ini ujung-ujungnya dibuat cuma untuk memancing empati dan menguras kantong kita.

Cara Transaksi dan Tekanan Instan yang Diterapkan

Ciri khas utama dari penipuan finansial adalah adanya desakan waktu. Pelaku akan menciptakan suasana panik atau darurat agar korban merasa tertekan dan segera mengirimkan uang tanpa sempat berpikir jernih atau berdiskusi dengan orang lain.

Selain itu, cara pembayaran yang diminta juga cenderung menggunakan metode yang sulit dilacak atau dibatalkan. Hal ini dilakukan agar setelah uang dikirimkan, korban tak lagi memiliki akses untuk menarik kembali dana tersebut.

Guna mengantisipasi maraknya fenomena ini, kita dituntut untuk selalu berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai praktik manipulatif di dunia maya. Perasaan cinta dan empati memang hal yang sangat indah, tetapi menjaga rasionalitas serta keamanan finansial tetap harus menjadi prioritas utama.

Jika seseorang yang baru dikenal secara online mulai mengarang cerita dramatis dan meminta bantuan uang dalam bentuk apa pun, kunci utamanya adalah tetap tenang dan jangan pernah mengirimkan dana tersebut.

Selalu lakukan verifikasi identitas dan bagikan cerita tersebut kepada teman atau keluarga dekat agar kita terhindar dari jebakan love scam.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai love scam dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.