Periskop.id - Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyatakan, love, relationship, romance scam menjadi salah satu tren kejahatan finansial digital yang sedang meningkat. Menurutnya, kejahatan ini menjadi tren secara global.
Hingga akhir tahun 2025, Indonesia Anti Scam Center telah menerima 3.494 laporan kerugian masyarakat yang terkena penipuan, melalui modus love scam dengan total kerugian Rp49,19 miliar
“Terbukti juga di Indonesia yang baru saja kejadian adalah di Yogyakarta ditemukan satu sindikat yang beroperasi secara internasional,” katanya dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Desember 2025 di Jakarta, Jumat.
Sekadar informasi, Kepolisian Resor Kota Yogyakarta membongkar dugaan sindikat love scamming atau penipuan berkedok asmara jaringan internasional yang beroperasi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Praktik penipuan itu terbongkar setelah operasi tangkap tangan di kantor PT Altair Trans Service di Jalan Gito Gati, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Senin (5/1), pukul 13.00 WIB. Dalam operasi penipuan itu, dimanfaatkan aplikasi kencan daring, kloningan dari aplikasi asal China bernama WOW.
Para pegawai perusahaan itu dipekerjakan sebagai admin percakapan yang berperan sebagai perempuan menyesuaikan dengan negara asal korban atau pengguna.
Mereka melakukan bujuk rayu agar pengguna aplikasi bersedia membeli koin atau top up guna mengirim gift yang tersedia di dalam aplikasi. Setelan pengguna mengirim gift, mereka kemudian mengirimkan konten secara bertahap berupa foto dan video bermuatan pornografi.
"Penggunaannya adalah warga negara asing dari beberapa negara, antara lain Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia," kata Kepala Polresta Yogyakarta Komisaris Besar Polisi Eva Guna Pandia, Rabu (7/1).
Para scammer-scammer ini menargetkan korban di berbagai negara melalui internet dan aplikasi. “Sehingga kalau kita melihat kejahatan seperti ini adalah risiko lintas batas yang sangat tinggi,” ujar Friderica yang akrab dipanggil Kiki.
Manipulasi Emosi
Ia menyebut, para korban ini dimanipulasi secara emosinya, merasa memiliki hubungan atau memiliki relationship. Mereka kemungkinan juga dipersuasi dan sebagainya, sehingga secara sukarela men-transfer sejumlah uang. “Karena merasa memiliki hubungan yang khusus spesial dengan lawan jenis, sehingga mereka mengalami kehilangan uang dalam jumlah yang sangat besar,” jelasnya.
Kepala Satreskrim Polresta Yogyakarta Komisaris Polisi Riski Adrian sebelumnya menjelaskan, praktik yang terjadi di Yogyakarta tersebut telah berlangsung hampir satu tahun. Dalam setiap shift, para admin ditargetkan mengumpulkan sedikitnya dua juta koin per bulan.
"Kalau dikalkulasikan, per shift bisa menghasilkan lebih dari Rp10 miliar per bulan, dan dalam operasionalnya mereka dibagi ke dalam tiga shift," ujar Adrian.
Selain kehilangan uang, mereka juga mengalami dampak psikologis karena berhasil dimanipulasi secara emosional dan sulit untuk disembuhkan. Di Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI), pihaknya terus menyampaikan imbauan kepada masyarakat, untuk terus waspada atas berbagai bentuk penipuan yang terus juga berevolusi dan berinovasi, termasuk modus love scam
Satgas PASTI, kata Kiki, memanfaatkan berbagai kanal komunikasi untuk menjangkau masyarakat secara luas dengan memberikan pesan-pesan anti-scam yang disebarkan melalui socialmedia, media massa, sarana transportasi massal, podcast, serta berbagai media lainnya.
“Juga ditampilkan secara langsung di kanal lainnya, perbankan seperti di ATM, kemudian aplikasi mobile banking, dan sebagainya,” ujar Kiki.
OJK, lanjutnya, selalu mengajak seluruh masyarakat untuk terus berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan terkait berbagai hal manipulatif, terutama terkait lovescam.
Tinggalkan Komentar
Komentar