periskop.id - Kepala Eksekutif Pengawasan Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi atau Kiki kembali mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap love scam jenis kejahatan finansial yang memanfaatkan hubungan emosional untuk menjerat korban.
Sepanjang tahun 2025, OJK melaporkan Indonesia Anti Scam Centre (IASC) mencatat kerugian mencapai Rp49,19 miliar dari 3.494 kasus, angka yang menunjukkan modus ini semakin marak.
"Hal ini memperlihatkan para pelaku sindikat love scam tidak hanya menargetkan korban di Indonesia, tetapi beroperasi secara internasional," ucap Kiki dalam konferensi pers OJK, dikutip Sabtu (10/1).
Terlihat, baru-baru ini, markas salah satu sindikat di Sleman, Yogyakarta, berhasil digerebek memperlihatkan skala kejahatan yang melintasi batas negara. Menurut Kiki, modus ini tidak sekadar merugikan materi korban, tetapi juga memanipulasi emosi mereka, membuat orang merasa memiliki hubungan spesial sehingga rela mentransfer uang.
"Ini adalah risiko lintas batas yang tinggi dan menuntut kewaspadaan ekstra. Karena itulah, edukasi tentang love scam menjadi salah satu fokus utama OJK dalam melindungi konsumen dari jebakan kejahatan finansial digital yang semakin canggih ini," ucap Kiki.
Sebelumnya Kepolisian Resor Kota Yogyakarta membongkar praktik penipuan berkedok asmara atau love scamming yang dijalankan oleh sindikat internasional di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kepala Polresta Yogyakarta Komisaris Besar Polisi Eva Guna Pandian menjelaskan bahwa pengungkapan kasus ini bermula dari operasi tangkap tangan di kantor PT Altair Trans Service, Jalan Gito Gati, Kecamatan Ngaglik, pada Senin (5/1) pukul 13.00 WIB.
"Kantor itu diduga digunakan sebagai tempat dugaan tindak pidana love scamming,” ujar Pandia beberapa waktu lalu saat konferensi pers di Mapolresta Yogyakarta, Rabu (7/1).
Dari hasil pemeriksaan, enam orang telah ditetapkan sebagai tersangka, masing-masing berinisial R (35) sebagai CEO atau pemilik perusahaan, H (33) selaku HRD, P (28) dan M (28) sebagai project manager, serta V (28) dan G (22) sebagai team leader.
PT Altair Trans Service cabang Yogyakarta diketahui bergerak di bidang penyedia tenaga kerja sesuai permintaan klien atau pemilik aplikasi dari China. Dalam praktiknya, para pegawai perusahaan tersebut berperan sebagai admin percakapan perempuan di aplikasi kencan daring hasil kloningan dari aplikasi China bernama WOW, menyesuaikan dengan negara asal korban.
Para korban warga negara asing dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia, dibujuk agar membeli koin atau melakukan top up untuk mengirim hadiah virtual di aplikasi tersebut.
"Modus operandi ini menunjukkan betapa canggih dan terorganisirnya sindikat internasional yang memanfaatkan hubungan emosional untuk keuntungan finansial, sekaligus memperingatkan masyarakat akan risiko kejahatan digital lintas negara yang semakin marak," ujar Pandia.
Tinggalkan Komentar
Komentar