Energi

PLN Siap Serap 223.584 MWh Listrik dari Sampah Bekasi, Setara 55 Ribu Rumah

PLN akan menyerap 223.584 MWh listrik per tahun dari PSEL Bekasi berkapasitas 27,4 MW. Proyek Rp3 triliun ini mampu mengolah 1.500 ton sampah per hari

12 jam yang lalu · 4 mnt baca
PLN Siap Serap 223.584 MWh Listrik dari Sampah Bekasi, Setara 55 Ribu Rumah
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam Peresmian Pembangunan PSEL di Kota Bekasi, Bantargebang, Rabu (26/8). dok. PLN
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - PT PLN (Persero) siap menyerap dan menyalurkan sekitar 223.584 megawatt hour (MWh) listrik per tahun dari fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi. Proyek senilai sekitar Rp3 triliun itu, dirancang mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari dan ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2028.

Komitmen tersebut diperkuat melalui penandatanganan Sponsors Agreement dan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) dalam rangkaian dimulainya pembangunan PSEL di Ciketing Udik, Bantargebang, Kota Bekasi, Rabu (26/8/2026).

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan listrik yang dihasilkan akan dialirkan kembali untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Bekasi.

“Demand listrik di Bekasi cukup tinggi. Maka, kita mendedikasikan listrik dari PSEL Bekasi ini untuk masyarakat Bekasi. Jadi, sampah Kota Bekasi masuk ke sini (PSEL), kemudian listrik yang dihasilkan kita pasok kembali ke Kota Bekasi,” ujar Darmawan.

PSEL Bekasi memiliki kapasitas netto 27,4 MW. Dengan produksi tahunan 223.584 MWh, PLN memperkirakan energi yang dihasilkan setara dengan kebutuhan sekitar 55 ribu rumah tangga berdaya 450 VA.

Fokus Utama Tetap Mengurangi Sampah

Meski menghasilkan listrik dalam jumlah cukup besar, Darmawan menegaskan PSEL tidak semata-mata dibangun sebagai proyek pembangkit energi. “Jadi, produk utamanya bukan listrik, tapi produk utamanya adalah lingkungan yang bersih. Listrik hanyalah by-product dari program ini,” kata Darmawan.

Pernyataan tersebut relevan dengan persoalan sampah yang dihadapi Kota Bekasi. Pemerintah Kota Bekasi mencatat timbulan sampah daerah tersebut saat ini mencapai sekitar 1.800 ton setiap hari, sedangkan TPA Sumur Batu telah menghadapi persoalan keterbatasan kapasitas.

Dengan kapasitas pengolahan 1.500 ton per hari, secara teoritis PSEL dapat menangani sekitar 83% dari timbulan harian 1.800 ton. Namun, fasilitas tersebut belum akan menyelesaikan seluruh persoalan.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto memperkirakan masih ada sekitar 300 ton sampah per hari yang membutuhkan skema penanganan lain. “Tetapi masih ada persoalan sekitar 300 ton sampah yang harus kita selesaikan bersama,” ujar Tri.

Karena itu, Pemkot Bekasi tetap mendorong pemilahan sampah dari rumah, penguatan bank sampah, dan pengurangan sampah dari sumber agar penyelesaian tidak hanya bergantung pada fasilitas pembakaran.

Investasi Rp3 Triliun, Pakai Moving Grate Incinerator

Danantara Indonesia mencatat PSEL Kota Bekasi dibangun dengan investasi sekitar Rp3 triliun dan berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN). Fasilitas menggunakan teknologi moving grate incinerator yang dilengkapi sistem pengendalian polusi udara berlapis atau Air Pollution Control System (APCS). Danantara menyebut standar emisinya akan mengacu pada EU Industrial Emissions Directive (EU IED).

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) proyek telah diterbitkan pada 24 Agustus, dua hari sebelum seremoni pembangunan dimulai. Danantara menyebut AMDAL menjadi salah satu prasyarat penting agar proyek memasuki tahap konstruksi.

Operator yang dipilih untuk fasilitas Bekasi adalah Wangneng Environment Co., Ltd. Danantara mengumumkan perusahaan tersebut sebagai mitra operator pada Maret setelah proses seleksi yang melibatkan sejumlah perusahaan internasional.

Proyek juga diproyeksikan menciptakan hingga 1.000 lapangan kerja selama pengembangan dan operasionalnya. Materi proyek PLN turut memperkirakan pengurangan emisi sekitar 640 ribu ton setara CO₂ per tahun, meski angka tersebut merupakan proyeksi pengembang dan hasil aktual baru dapat diukur setelah fasilitas beroperasi.

PLN Beli Listrik dengan Tarif 20 Sen Dolar AS per kWh

Skema bisnis PSEL berbeda dari pembangkit listrik konvensional. Berdasarkan Perpres Nomor 109 Tahun 2025, PLN mendapat penugasan untuk membeli listrik yang dihasilkan fasilitas PSEL.

Harga pembelian ditetapkan US$0,20 atau 20 sen dolar AS per kWh untuk seluruh kapasitas. Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM menjelaskan tarif tersebut bersifat tunggal, tidak melalui negosiasi maupun eskalasi harga, dengan kontrak jangka panjang hingga 30 tahun.

ESDM juga mencatat tarif tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan biaya produksi listrik PLN sehingga regulasi membuka ruang kompensasi pemerintah. Skema dibuat agar proyek pengolahan sampah tetap memiliki kelayakan ekonomi karena fungsi utamanya merupakan layanan lingkungan, bukan sekadar menjual listrik.

Danantara menegaskan pola yang sama akan diterapkan pada proyek PSEL lain. Setiap Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) akan membuat PJBL dengan PLN berdasarkan ketentuan tersebut.

Ditargetkan Beroperasi Pertengahan 2028

PSEL Kota Bekasi merupakan proyek kedua yang masuk tahap pembangunan dalam gelombang program baru Danantara setelah PSEL Denpasar Raya dimulai pada Juli 2026. Bekasi, Bogor Raya, dan Denpasar Raya sebelumnya ditetapkan sebagai tiga proyek PSEL gelombang pertama yang berstatus PSN.

Ada beberapa target waktu yang sempat muncul dalam pemberitaan. Wali Kota Bekasi menyebut fasilitas diharapkan dapat beroperasi sekitar 18 bulan setelah groundbreaking, sedangkan pemberitaan ANTARA sempat menyebut pembangunan ditargetkan selesai akhir 2027. Namun, jadwal resmi terbaru yang dicantumkan Danantara menetapkan target operasi pada pertengahan 2028.

Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menilai pembangunan PSEL tidak hanya berkaitan dengan produksi energi, tetapi juga upaya mengurangi ketergantungan kota terhadap TPA.

Danantara mencatat Kota Bekasi dipilih karena memiliki pasokan sampah yang memadai, kesiapan lahan, serta kondisi fasilitas pembuangan akhir yang telah melampaui kapasitas.

Jika dapat beroperasi sesuai target, PSEL Bekasi akan menghubungkan dua kebutuhan sekaligus: mengurangi sekitar 1.500 ton sampah setiap hari dan mengubah sebagian energinya menjadi listrik untuk dikembalikan ke jaringan masyarakat Bekasi.

Namun, keberhasilannya nantinya tidak cukup dinilai dari produksi 223.584 MWh listrik per tahun. Ukuran utama juga berada pada seberapa konsisten fasilitas mampu mengurangi sampah yang masuk ke TPA, memenuhi standar emisi, dan beroperasi tanpa menimbulkan persoalan lingkungan baru.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Darmawan Prasodjo, PLN, Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), Bekasi, dan sampah dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.