Periskop.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menambah kuota produksi batu bara, namun penambahan itu hanya diperuntukkan bagi kebutuhan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) PT PLN (Persero). Keputusan ini diambil menyusul pemadaman bergilir di sejumlah wilayah Pulau Jawa yang dipicu keterbatasan pasokan batu bara berkalori menengah hingga tinggi.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menerangkan, langkah tersebut merupakan upaya pemerintah menjaga keandalan pasokan batu bara bagi pembangkit listrik. Pemerintah tidak ingin produksi yang tertahan justru memicu masalah di sektor kelistrikan.
"Untuk yang batu bara, [tambahannya] hanya diperuntukkan untuk yang PLN," ujar Tri Winarno seperti dilansir Antara, Sabtu (11/7).
Di sisi lain, Tri menegaskan pemerintah tetap berhati-hati agar penambahan produksi tidak memicu kelebihan pasokan di pasar internasional. Keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan kondisi pasar global menjadi pertimbangan utama.
"Untuk mengejar yang itu [kebutuhan dalam negeri], tapi jangan sampai ada oversupply. Itu aja," katanya.
Sambil mengelola kuota, Tri juga membuka ruang bagi para pengusaha tambang yang ingin mengajukan revisi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB). Batas waktu pengajuannya adalah 31 Juli.
"Silakan, silakan masukin [revisi RKAB]," ucap Tri.
Penambahan kuota ini berkaitan langsung dengan krisis kelistrikan yang belakangan mengganggu sistem Jawa. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo sebelumnya mengungkapkan, pemadaman bergilir di sejumlah wilayah Pulau Jawa dipicu keterbatasan batu bara dengan spesifikasi kalori 4.500 kcal/kg ke atas untuk PLTU.
Darmawan menyebutkan, masalah itu mulai teratasi setelah pemerintah menambah alokasi batu bara berkalori tinggi. Tambahan tersebut mencakup 1,8 juta ton pada Juli, lalu sekitar 3 juta ton dari pasokan existing sepanjang Agustus hingga Desember.
"Adanya tambahan batu bara dengan spesifikasi [kalori] 4.500 ke atas. Juli ini ada tambahan 1,8 juta ton, kemudian Agustus sampai Desember ada tambahan sekitar 3 juta ton dari existing," ujar Darmawan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (2/7).
Penambahan pasokan itu langsung berdampak pada stabilitas sistem kelistrikan Jawa yang sebelumnya sempat terganggu.
"Ini tentu saja membuat sistem di Jawa ini yang tadinya kami akui ada pemadaman bergilir, ini sistemnya langsung meningkat menjadi jauh lebih andal," kata Darmawan.
Darmawan menguraikan, akar persoalan ini berasal dari pergeseran komposisi produksi batu bara nasional dalam beberapa tahun terakhir. Produksi batu bara kalori rendah terus meningkat, sementara yang berkalori menengah dan tinggi justru semakin menyusut. Padahal, sebagian PLTU di sistem Jawa bergantung pada spesifikasi kalori tertentu agar bisa beroperasi optimal.
"Memang kami mengakui secara volume batu bara produksi nasional untuk yang kalori rendah itu dulu persentasenya lebih kecil daripada kalori tinggi. Tapi sejalan dengan proses waktu, produksi batu bara kalori rendah meningkat, sedangkan yang menengah dan tinggi semakin menurun," jelasnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar