Kemenhaj Jamin Pelayanan Calon Jemaah Haji Terdampak Gempa NTT Tetap Berjalan Normal
Kemenhaj memastikan pelayanan administrasi calon jemaah haji terdampak gempa NTT tetap berjalan lewat posko darurat dan layanan daring.

Periskop.id - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia memastikan pelayanan administrasi dan pembinaan bagi calon jemaah haji di wilayah terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap berjalan.
Langkah itu diambil melalui pengaktifan skema pelayanan darurat guna menjamin seluruh kebutuhan jemaah tetap terpenuhi meski sejumlah kantor operasional mengalami kerusakan parah akibat guncangan.
Sekretaris Jenderal Kementerian Haji dan Umrah, Teguh Dwi Nugroho, menegaskan bahwa keselamatan jemaah serta petugas merupakan prioritas utama dalam situasi krisis ini.
Namun demikian, ia menyebutkan bahwa hak pelayanan publik tidak boleh terputus atau terhenti di tengah kondisi bencana.
"Kami mengimbau para calon jemaah haji di wilayah terdampak bencana di NTT untuk tidak perlu khawatir. Kemenhaj menjamin proses administrasi, pendataan, dan konsultasi perhajian tetap beroperasi penuh,” kata Teguh di Jakarta, Jumat (21/8).
“Jika gedung kantor operasional kami dinilai belum aman atau berisiko akibat kerusakan gempa, jajaran kami telah diinstruksikan untuk membuka layanan darurat di titik-titik posko yang aman serta memaksimalkan saluran komunikasi jarak jauh via telepon dan layanan daring," sambungnya.
Menurutnya, pengalihan operasional kantor yang rusak ke tenda darurat atau posko terdekat segera dilakukan untuk menjaga kelancaran layanan di lapangan. Skema ini ditempuh setelah titik posko darurat dinyatakan aman oleh pihak berwenang setempat.
Ia menambahkan, jemaah yang membutuhkan bantuan berkas atau informasi diminta memanfaatkan saluran telepon darurat dan hotline resmi yang disiagakan petugas.
Seluruh basis data jemaah telah tersinkronisasi secara digital di pusat, sehingga keamanan data dijamin tetap terlindungi.
Teguh menjelaskan, koordinasi di lapangan dilaksanakan secara fleksibel agar tidak membebani jemaah yang kehilangan dokumen. Petugas daerah diinstruksikan untuk proaktif melakukan tindakan penjemputan bola langsung ke lokasi pengungsian.
"Prinsip kami jelas, bencana tidak boleh memutus hak pelayanan masyarakat. Kami telah menginstruksikan seluruh jajaran di daerah untuk proaktif menjemput bola, memantau kondisi calon jemaah di pengungsian, dan memastikan setiap kendala administrasi akibat kehilangan atau kerusakan dokumen saat gempa dapat segera kami tangani secara fleksibel dan terpadu tanpa membebani jemaah," pungkas Teguh.
Laporan petugas lapangan mencatat bahwa koordinasi administrasi di wilayah Reo, Kabupaten Manggarai, tetap diupayakan secara maksimal dari lokasi pengungsian bersama petugas di Ruteng. Upaya pelayanan tersebut sempat menghadapi kendala teknis berupa pemadaman listrik berkala dan gangguan jaringan komunikasi.
Meskipun demikian, seluruh berkas penting calon jemaah untuk estimasi keberangkatan 2027 dipastikan aman. Seluruh data pelimpahan porsi tersebut telah berhasil diunggah ke Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) sebelum gempa terjadi.
Sementara itu, pelayanan haji di Kabupaten Nagekeo dialihkan sementara ke rumah warga terdekat seiring proses pembersihan kantor sewa yang terdampak.
Petugas di lokasi menjalankan prosedur pelayanan dengan meningkatkan kewaspadaan serta mematuhi protokol keselamatan ketat guna mengantisipasi gempa susulan.
Bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 sebelumnya mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur dan menyebabkan kerusakan fasilitas publik di beberapa kabupaten.
Atas kejadian ini, Kemenhaj mengimbau seluruh calon jemaah di wilayah Flores dan sekitarnya untuk terus memantau saluran informasi resmi serta mengutamakan keselamatan diri.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), Haji, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.





Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.