Periskop.id – Film keluarga “Istimewa” menempatkan enam anak penyandang disabilitas sebagai tokoh utama yang menggerakkan cerita, bukan sekadar pemeran pendukung. Terinspirasi dari pengalaman nyata, film produksi Kairos Film tersebut mengangkat perjalanan anak-anak mencari sosok ayah sekaligus menemukan arti rumah, keluarga, dan penerimaan.
Trailer dan poster resmi film telah dirilis menjelang penayangannya di bioskop Indonesia mulai 17 September 2026. Materi promosi resmi mencantumkan “Istimewa” sebagai drama keluarga untuk semua umur dengan durasi sekitar 119 menit.
Sutradara Ruben Adrian mengatakan, cerita film dirangkai dari pengalaman nyata anak-anak disabilitas. Pengalaman tersebut kemudian dikembangkan menjadi perjalanan yang tidak hanya berbicara mengenai keterbatasan, tetapi juga harapan dan keberanian.
"Kisah-kisah itu kemudian kami rangkai menjadi sebuah simfoni perjalanan yang penuh harapan, keberanian, dan kasih sayang," kata Ruben.
Mencari Pak Mahendra
“Istimewa” berpusat pada kehidupan anak-anak yang tinggal bersama di Rumah Istimewa. Mereka diasuh dengan penuh kasih oleh Pak Mahendra, sosok ayah sekaligus tempat berlindung bagi seluruh penghuni rumah.
Keadaan berubah ketika Pak Mahendra menghilang. Anak-anak yang selama ini mengandalkannya kemudian memutuskan keluar dari Rumah Istimewa untuk mencari keberadaan sang ayah.
Perjalanan tersebut membawa mereka bertemu dengan orang-orang baru dan menghadapi berbagai tantangan. Di tengah pencarian, mereka belajar tentang persahabatan, keberanian, kasih sayang, serta keluarga yang tidak selalu dibentuk melalui hubungan darah.
"Melalui perjalanan mencari Ayah, kami berharap penonton ikut merasakan bahwa rumah dan keluarga bisa hadir lewat penerimaan, kasih sayang, dan orang-orang yang memilih untuk tetap bersama, dengan berpijak pada nilai saling memaafkan dan saling mengasihi," ujar Ruben.
Trailer film memperlihatkan kehidupan hangat para penghuni Rumah Istimewa sebelum perjalanan dimulai. Adegan persahabatan, humor, konflik, dan petualangan disusun untuk memperlihatkan karakter setiap anak, termasuk keberanian serta cara pandang mereka dalam menghadapi masalah.
Penulis film Abdullah Mansuri menjelaskan “Istimewa” terinspirasi dari kehidupan nyata enam anak disabilitas. Mereka menjadi pusat cerita dan tampil sepanjang perjalanan film, bukan hanya hadir untuk melengkapi narasi karakter lain.
Mathias Muchus Perankan Pak Mahendra
Aktor senior Mathias Muchus dipercaya memerankan Pak Mahendra. Selain Mathias, film ini turut menghadirkan Agus Kuncoro, Ence Bagus, Ajil Ditto, dan Yanni Melwani bersama enam anak penyandang disabilitas.
Mathias menilai kekuatan “Istimewa” terletak pada ketulusan cerita dan makna keluarga yang dibawanya. Keluarga, menurutnya, tidak semata-mata ditentukan oleh hubungan biologis.
"Yang membuat saya jatuh hati pada Istimewa adalah ketulusannya. Film ini mengingatkan kita bahwa keluarga tidak selalu tentang hubungan darah, tetapi tentang siapa yang memilih untuk menerima, menjaga, dan tetap hadir ketika kita saling membutuhkan," tuturnya
Poster resminya menampilkan seluruh penghuni Rumah Istimewa berkumpul di depan rumah tempat mereka dibesarkan. Rumah tersebut menjadi simbol penerimaan dan kebersamaan, bukan sekadar bangunan tempat mereka tinggal.
Salah seorang pemeran anak, Aldi, berharap keterlibatan anak-anak disabilitas dalam film dapat membuka pandangan masyarakat sekaligus memberikan semangat kepada teman-temannya untuk terus berkarya.
"Aku bangga bisa jadi bagian dari Istimewa. Aku senang kisahku diangkat ke dalam film ini. Semoga film ini bisa jadi motivasi untuk anak-anak disabilitas kembali bangkit meraih mimpi masing-masing dan membuktikan bahwa teman-teman Istimewa juga mampu berkarya. Semoga Istimewa ditonton seluruh masyarakat Indonesia dan dunia," ucap Aldi.
Representasi Disabilitas di Film Indonesia
Kehadiran anak-anak disabilitas sebagai penggerak utama cerita dinilai penting karena representasi di layar dapat membantu masyarakat melihat mereka sebagai individu dengan karakter, impian, kemampuan, dan pengalaman yang beragam.
Badan Pusat Statistik mencatat prevalensi disabilitas di Indonesia mencapai 1,43% berdasarkan ukuran yang direkomendasikan secara internasional. Untuk kelompok anak usia 5 sampai 17 tahun, prevalensinya tercatat 1,72%n pada kategori yang mencakup sedikitnya satu kesulitan fungsi dan 0,52% pada kategori kesulitan berat.
Kesenjangan masih terlihat pada bidang pendidikan. Pada kelompok usia 7 sampai 12 tahun, sebanyak 18,95% anak dalam kategori disabilitas tipe 1 tercatat belum atau tidak pernah bersekolah. Angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan anak nondisabilitas sebesar 4,76%.
Upaya menghadirkan penyandang disabilitas secara langsung dalam produksi film sebelumnya juga dilakukan melalui film “Tegar”. Film tersebut menempatkan seorang anak penyandang disabilitas sebagai tokoh sentral serta melibatkan kru dan pemeran disabilitas dalam proses produksinya. Sekuelnya, “Teman Tegar: Maira”, dirilis pada 2026 dengan membawa pesan kemandirian dan inklusivitas ke dalam kisah petualangan di Papua.
Kehadiran “Istimewa” memperpanjang upaya tersebut dengan memberikan ruang utama kepada enam anak disabilitas dalam satu film. Tantangannya bukan hanya menghadirkan representasi di layar, tetapi memastikan mereka memperoleh kesempatan kerja, proses produksi yang aksesibel, serta ruang untuk menceritakan pengalaman dari sudut pandang sendiri.
Film “Istimewa” dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 17 September 2026. Trailer resminya telah tersedia melalui kanal YouTube dan media sosial Kairos Film.
Tinggalkan Komentar
Komentar