Periskop.id - Industri hiburan digital di kawasan Asia Tenggara sedang berada dalam masa keemasan. Melansir Variety pada Selasa (10/2), pasar layanan streaming berbayar mencatat momentum signifikan sepanjang tahun 2025.
Fenomena ini dipicu oleh lonjakan pertumbuhan akun, adopsi teknologi connected TV yang semakin masif, hingga kualitas produksi konten lokal yang mulai merajai peringkat tontonan.
Berdasarkan data terbaru dari Media Partners Asia (MPA) melalui platform pengukuran AMPD, jumlah akun streaming berbayar di kawasan ini meningkat tajam sebesar 19% secara tahunan (year-over-year).
Angka ini membawa total pelanggan melampaui 61 juta akun yang tersebar di Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura.
Dalam peta persaingan ini, Indonesia tampil sebagai pemimpin utama. Negara ini tidak hanya mencatat penambahan akun baru terbanyak, tetapi juga menyumbang porsi terbesar dalam total waktu tonton di kawasan.
Sementara Thailand dan Filipina menunjukkan pertumbuhan yang konsisten, pasar di Malaysia dan Singapura mulai mencapai titik jenuh, membuat para operator di sana lebih fokus pada strategi monetisasi dan aktivitas pengguna.
Rekor Waktu Tonton dan Ledakan Konten Lokal
Antusiasme penonton di Asia Tenggara tercermin dari total durasi tontonan yang mencapai 4,2 miliar jam pada kuartal terakhir 2025, yang berarti naik 8% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Tren positif ini diikuti oleh pertumbuhan waktu tonton yang impresif di beberapa platform besar, di mana Netflix mencatat kenaikan sebesar 14%, iQIYI tumbuh 10%, dan layanan asal Indonesia, Vidio, berhasil mencatat lonjakan tertinggi mencapai 24%.
Khusus di pasar domestik, basis pelanggan streaming Indonesia tumbuh pesat hingga mencapai 26,9 juta akun.
Menariknya, kuartal IV 2025 menjadi tonggak sejarah baru saat konten produksi Indonesia berhasil menyamai popularitas tayangan Korea (Drakor) dengan pangsa penonton masing-masing sebesar 30%. Kedua jenis konten ini menjangkau basis pengguna yang hampir setara, yakni di angka 47 hingga 48%.
Dhivya T, analis utama sekaligus kepala riset di MPA dan AMPD, menyoroti pergeseran tren ini. Beliau menyatakan:
“Konten Korea tetap menjadi jangkar jangkauan di Asia Tenggara pada 2025, namun original lokal kini memainkan peran yang jauh lebih sentral dalam mendorong akuisisi dan keterlibatan pengguna,” ujar Dhivya T.
Lebih lanjut, ia menjelaskan posisi tawar konten lokal yang semakin kuat di pasar Asia:
“Indonesia menonjol tahun ini, dengan judul lokal bersaing langsung dengan drama Korea di puncak peringkat VOD premium. Ini merupakan pergeseran yang berarti dan mencerminkan peningkatan kualitas konten, distribusi yang lebih kuat, serta meningkatnya kepercayaan audiens terhadap cerita lokal. Konten Thailand juga menunjukkan daya jelajah lintas negara yang kuat, sementara drama Tiongkok tetap menjadi pendorong utama keterlibatan di platform freemium dan hybrid di berbagai pasar,” ujar Dhivya.
Persaingan Ketat Netflix, Vidio, dan Viu
Netflix tetap mempertahankan takhtanya sebagai pemain paling dominan di kawasan Asia Tenggara berdasarkan metrik jumlah pelanggan, pengguna aktif bulanan (MAU), hingga total waktu tonton.
Kekuatan Netflix terletak pada perpaduan konten global, serial Korea skala besar, serta strategi akuisisi konten lokal dari Indonesia dan Thailand.
Di posisi kedua secara regional, Viu berhasil menarik minat audiens melalui drama Korea dan Tiongkok serta produksi lokal yang tersegmentasi dengan baik. Sementara itu, untuk skala platform lokal, Vidio menjadi penguasa di Indonesia.
Vidio menempati posisi kedua setelah Netflix dalam hal waktu tonton dan pendapatan, serta mencatat jam streaming tertinggi kedua di kawasan pada kuartal IV berkat ekspansi katalog original dan hak siar program olahraga.
iQIYI juga kembali mendapatkan momentum pada paruh kedua 2025, khususnya di Indonesia dan Thailand, berkat beragamnya format konten mulai dari drama Tiongkok tradisional hingga drama pendek dan produksi live-action.
Pergeseran dari Ponsel ke Ruang Keluarga
Salah satu tren paling menarik yang terungkap sejak kuartal II 2025 adalah migrasi pola konsumsi ke connected TV (layar besar).
Meskipun perangkat seluler masih menjadi perangkat utama, connected TV kini mengambil porsi jam tonton yang semakin besar dengan durasi sesi menonton yang lebih panjang.
Konten episodik, film layar lebar, dan siaran olahraga kini lebih banyak dinikmati bersama keluarga di ruang tamu.
Pertumbuhan penggunaan connected TV paling signifikan terjadi di Indonesia dan Filipina, menandakan bahwa pengalaman menonton yang imersif di layar lebar menjadi pusat evolusi industri saat ini.
Industri streaming di Asia kini semakin terkonsolidasi, di mana tiga hingga empat platform utama menguasai sekitar 70% total langganan dan aktivitas menonton.
Hal ini menunjukkan bahwa persaingan semakin mengerucut pada pemain-pemain besar yang mampu menghadirkan kombinasi konten lokal yang kuat dan teknologi distribusi yang andal.
Tinggalkan Komentar
Komentar