iklan periskop
Hukum

Cocokkan Ciri Jempol Kaki dan Bekas Luka Bahu, Tim Forensik Pastikan Jenazah adalah Sutrimo

PDFMI pastikan identitas jenazah Sutrimo lewat ekshumasi di Banyumas. Polda Metro Jaya ambil sampel organ untuk uji laboratorium, tanpa temuan tanda kekerasan fisik pada tubuh korb...

3 jam yang lalu · 3 mnt baca
olah tempat kejadian perkara
Kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) kematian penjaga rumah sekaligus kepala rumah tangga mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, Sutrimo di depan klinik kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (27/7/2026). ANTARA/Luthfia Miranda Putri
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Tim Perhimpunan Dokter Forensik dan Medikolegal Indonesia (PDFMI) berhasil mengonfirmasi kepastian identitas jenazah yang diekshumasi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (12/8). Pengujian medis forensik memastikan jenazah tersebut adalah almarhum Sutrimo melalui pencocokan data fisik antemortem dari pihak keluarga.

Kepala Biro Kedokteran Kepolisian sekaligus Ketua Umum PDFMI, Brigjen Pol. Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, menjelaskan penunjukan tim ahli dilakukan berdasarkan permintaan resmi penyidik untuk memeriksa jenazah atas nama Sutrimo.

“Tadi kami periksa, setelah proses ekshumasi yaitu pembongkaran kubur, lalu pemeriksaan luar, kami bisa identifikasi bahwa ciri jenazah yang diperiksa adalah almarhum Sutrimo,” kata Hastry di Banyumas, Rabu (12/8).

Kepastian identitas tersebut didasarkan pada dua tanda fisik spesifik pada tubuh jenazah yang sesuai dengan data medis keluarga.

“Berdasarkan ciri jari kaki kiri, yaitu jempol yang tidak ada, serta bekas luka di bahu kanan akibat prosedur medis (operasi kecil),” ujar Hastry.

Proses pemeriksaan dalam (otopsi) kemudian dipimpin oleh Ketua Tim Forensik, Prof. Dr. Yudi, bersama deretan ahli forensik hingga selesai. Usai seluruh tahapan medis rampung, jenazah Sutrimo dikembalikan ke liang lahat dan dimakamkan kembali sesuai syariat Islam, disertai doa serta ucapan belasungkawa dari tim PDFMI.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Yudi memaparkan jenazah yang diperiksa merupakan laki-laki berusia sekitar 40 tahun dengan tinggi badan 166 cm. Ia menegaskan tim dokter tidak menemukan indikasi kekerasan fisik pada tubuh jenazah saat pemeriksaan visual.

“Dari hasil pemeriksaan luar dan dalam, secara visual kami tidak mendapatkan tanda-tanda luka akibat kekerasan tumpul maupun tajam,” tegas Yudi.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengungkapkan seluruh rangkaian ekshumasi berlangsung selama lebih kurang tiga setengah jam, mulai pukul 09.30 WIB hingga 13.00 WIB, sebagai bagian dari proses penyidikan Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Penanganan perkara ini juga melibatkan sinergi lintas wilayah bersama Polda Jawa Tengah.

Polda Metro Jaya menekankan pemeriksaan ini mengusung metode ilmiah komprehensif demi memunculkan titik terang atas penyebab kematian almarhum.

“Ekshumasi dilaksanakan sebagai bagian dari Scientific Crime Investigation melalui pendekatan multidisipliner berbasis bukti ilmiah untuk memperoleh keterangan medis dan bukti forensik yang dapat membantu membuat terang penyebab meninggalnya almarhum Sutrimo,” jelas Budi.

Untuk memastikan penyebab utama kematian, tim forensik mengambil sejumlah sampel organ tubuh dalam proses pembedahan untuk diuji di laboratorium spesialis.

“Sampel yang diambil akan menjalani pemeriksaan laboratorium, baik melalui Laboratorium Forensik Polri maupun laboratorium akademik atau universitas sesuai bidang keahlian masing-masing, termasuk pemeriksaan toksikologi, DNA, dan jaringan,” tambah Budi.

Seluruh keterlibatan pakar interdisipliner dari berbagai instansi disiagakan guna menjamin transparansi serta independensi hasil penyidikan akhir.

“Pelibatan berbagai institusi dan disiplin keahlian dilakukan untuk menjaga objektivitas, integritas pemeriksaan, dan akuntabilitas ilmiah, sehingga hasil pemeriksaan dapat diuji dan dipertanggungjawabkan sesuai kaidah keilmuan,” ungkapnya.

Proses ekshumasi dan otopsi ini digelar untuk mengurai teka-teki kematian Sutrimo yang ditemukan tidak sadarkan diri di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis (23/7). Korban dinyatakan meninggal dunia saat tiba di RS Muhammadiyah Taman Puring setelah diantar menggunakan ambulans. Polisi terus mendalami latar belakang sosok yang diduga merupakan Kepala Rumah Tangga (Karumga) Febrie Adriansyah tersebut.

Penyidikan kasus ini juga menyasar spekulasi publik terkait sosok pria bernama Febrio Adiono yang tertulis sebagai pengantar jenazah di dokumen rumah sakit. Pihak keluarga mengaku tidak mengenal sosok yang mengklaim sebagai kerabat korban tersebut.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai sutrimo dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.