Gus Ulil Sebut Kasus Miras di Konser Sound Project Sebuah Kekhilafan
Ketua PBNU Gus Ulil menilai tantangan hafal Surah Ad-Dhuha berhadiah miras di konser Sound Project sebagai kekhilafan, bukan kesengajaan melecehkan Alquran.

Periskop.id - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla menilai aksi tantangan menghafal Surah Ad-Dhuha dengan hadiah minuman keras (miras) sebagai tindakan yang tidak pantas. Meski begitu, ia meyakini tindakan tersebut tidak dilakukan dengan niat buruk.
Gus Ulil, sapaan akrabnya, menyebut peristiwa yang terjadi dalam konser Sound Project itu sebagai kekhilafan yang patut disayangkan. Menurutnya, penyelenggara maupun pembawa acara kemungkinan tidak bermaksud melecehkan Alquran.
"Ya, apa namanya itu khilaf ya. Itu khilaf yang memang patut disayangkan," ujar Gus Ulil di Kantor PBNU, Jakarta, Rabu (12/8).
Ia menegaskan, tindakan tersebut tetap perlu diingatkan karena memperlakukan Alquran dengan cara yang tidak semestinya. Namun, Gus Ulil meminta masyarakat tidak buru-buru menuding penyelenggara punya niat buruk.
"Tapi saya percaya penyelenggara, apa namanya itu konser Sound Project ya, saya percaya mereka tidak punya niat jahat, niat buruk, atau niat melakukan kekhilafan seperti ini," ucapnya.
Menurut Gus Ulil, aksi tersebut kemungkinan muncul spontan akibat suasana acara yang sedang ramai dan meriah. Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terulang di masa depan.
"Mungkin itu spontanitas karena apa namanya situasi atau suasana ketika itu lagi gembira begitu, lalu mereka punya inisiatif seperti itu. Tapi ya itu tidak boleh terulang," kata dia.
Gus Ulil juga menegaskan, konsumsi miras memang tidak diperbolehkan dalam Islam. Menjadikannya sebagai hadiah, menurutnya, semakin memperparah ketidakpantasan tindakan tersebut.
"Ya miras kan tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi dalam Islam, apalagi itu dijadikan sebagai hadiah ya. Itu tidak pantas," jelas dia.
Ketidaktepatan itu, lanjut Gus Ulil, makin terasa karena hadiah miras justru diberikan kepada orang yang berhasil menghafalkan Surah Ad-Dhuha. Ia menilai kombinasi antara penghormatan terhadap Alquran dan sesuatu yang dilarang dalam Islam ini jelas tidak sejalan.
"Itu tidak pantas, apalagi hadiah untuk apa namanya menghafalkan surat Ad-Dhuha begitu. Itu tidak pantas," ujarnya.
Meski menilai tindakan tersebut salah, Gus Ulil kembali menekankan tidak ada indikasi kesengajaan untuk melecehkan Alquran di baliknya. Sejauh ini, PBNU pun belum membahas kasus tersebut secara khusus karena masih fokus pada muktamar.
"Belum ada ya. Kita belum punya imbauan atau bahkan karena kita lagi sibuk muktamar jadi nggak punya waktu untuk membahas hal-hal kayak gini," kata Gus Ulil.
"Tapi sekali lagi kami yakin, atau saya secara pribadi yakin itu tidak disengaja. Tapi itu memang salah. Salah dan tidak boleh diulangi lah hal seperti itu," pungkas Gus Ulil.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan mengeklik tautan.




Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.