periskop.id - Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Saifullah Yusuf mengungkapkan persiapan perhelatan Muktamar ke-35 terus berjalan lancar. Ia menjamin agenda suksesi kepemimpinan tersebut terbebas dari segala bentuk intervensi pihak penguasa.
"Saya pastikan tidak akan ada (intervensi). Presiden sangat memahami peran strategis Nahdlatul Ulama. Jadi saya percaya Pak Presiden akan menyerahkan sepenuhnya mekanisme pemilihan pimpinan kepada Muktamar," kata Gus Ipul saat ditemui awak media di Gedung KPK, Jumat (8/5).
PBNU menetapkan pelaksanaan puncak Muktamar ke-35 akan bergulir pada tanggal 1 hingga 5 Agustus mendatang.
Organisasi keagamaan ini turut menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) terlebih dahulu pada bulan Juni.
Rangkaian kegiatan pendahuluan ini diharapkan memunculkan berbagai gagasan segar untuk kemajuan organisasi. “Persiapan kita semua menuju ke sana. Kita harapkan wilayah dan cabang benar-benar memiliki usulan-usulan yang bisa dibahas lebih lanjut sebagai bagian dari kemajuan jam'iyah di masa yang akan datang,” ucapnya.
Menteri Sosial ini langsung menepis isu soal rencana pencalonan dirinya memimpin PBNU. Ia merasa belum memenuhi syarat kelayakan mengemban jabatan ketua umum.
Gus Ipul memastikan dirinya konsisten menolak ikut serta dalam bursa pemilihan pucuk pimpinan. "Oh saya enggak (maju sebagai ketua umum), saya sudah sampaikan berulang-ulang ya, saya merasa tidak mencukupi syarat untuk bisa jadi ketua umum," tegasnya.
Ia meyakini organisasi sebesar NU selalu memiliki stok kader pemimpin potensial yang sangat melimpah. Sejumlah nama kini santer beredar seperti Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Yahya Cholil Staquf.
Posisi Katib Aam yang pernah diemban para tokoh tersebut menjadi modal berharga memimpin organisasi. “Salah satu yang berpotensi ya, karena Pak Nasaruddin Umar juga pernah jadi Katib Aam sebelumnya, Gus Yahya dulu juga pernah jadi Katib Aam sebelumnya, Kyai Said kalau nggak salah sebelumnya juga pernah jadi Katib Aam. Jadi semuanya sebenarnya punya potensi ya tinggal berkenan apa nggak,” ujarnya.
PBNU sejauh ini belum mengetuk palu terkait penetapan lokasi resmi penyelenggaraan Muktamar. Sejumlah daerah seperti NTB, Sumatera Barat, hingga Jawa Timur telah menawarkan diri menjadi tuan rumah.
Penetapan lokasi tersebut menanti hasil rapat kepanitiaan menyusul semakin sempitnya waktu persiapan. "Ada beberapa daerah yang mengusulkan untuk menjadi tuan rumah. Tapi semuanya nanti tentu tergantung pada hasil rapat dengan mempertimbangkan berbagai hal termasuk akses, sarana prasarana, dengan pertimbangan waktu yang sangat pendek, sekitar dua bulan," jelasnya.
Agenda utama pertemuan agung ini bakal berfokus pada proses pemilihan Ketua Umum PBNU. Muktamar turut memilih para ulama berpengaruh untuk mengisi jajaran Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) sebagai penentu posisi Rais Aam.
Tinggalkan Komentar
Komentar