Humaniora

Survei: 99% Anak Muda Indonesia Ingin Lebih Banyak Pengalaman Kerja

Survei FedEx-JA menemukan 99% anak muda Indonesia ingin lebih banyak pengalaman dunia kerja meski percaya diri dalam kreativitas, adaptasi, dan AI

22 jam yang lalu · 7 mnt baca
anak muda
Peserta zine making workshop, SHEroes Series Vol.2. dok.Periskop.id/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Anak muda Indonesia menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi dalam kreativitas, inisiatif, dan kemampuan beradaptasi. Namun, 99% dari mereka menginginkan pendidikan memberikan lebih banyak pengalaman dan gambaran nyata mengenai dunia kerja, berdasarkan studi terbaru FedEx dan Junior Achievement (JA).

Temuan itu berasal dari studi Shaping Tomorrow’s Workforce – Asia Pacific Youth Insights yang melibatkan 4.219 anak muda berusia 15 hingga 22 tahun di 10 negara dan wilayah Asia Pasifik, termasuk 552 responden dari Indonesia. Survei daring dilakukan Bolt Insight pada Juni-Juli 2026, diinisiasi FedEx dan JA Asia Pacific, serta diterbitkan JA Institute.

Angka Indonesia bahkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik. Secara regional, sebanyak 97% responden menginginkan lebih banyak paparan terhadap cara dunia kerja beroperasi. Di Indonesia, keterampilan memecahkan masalah dan berpikir kritis juga dinilai sebagai kemampuan paling penting untuk menghadapi 10-15 tahun mendatang.

Temuan tersebut memperlihatkan satu kontras menarik. Anak muda Indonesia cukup yakin dengan kemampuan dirinya, tetapi pada saat yang sama merasa pengalaman di kelas masih perlu lebih dekat dengan situasi kerja sebenarnya.

Managing Director FedEx Indonesia Garrick Thompson menilai kebutuhan tersebut menunjukkan anak muda tidak hanya mencari pengetahuan teoritis. “Anak muda Indonesia memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Mereka tidak hanya ingin mempelajari teori, tetapi juga ingin mendapatkan kesempatan untuk menerapkan kemampuan mereka dalam lingkungan bisnis yang nyata,” ujar Garrick Thompson, Managing Director FedEx Indonesia.

Menurutnya, seiring dengan perkembangan teknologi seperti AI dan perdagangan lintas negara yang membentuk masa depan, para pelajar membutuhkan keterampilan praktis yang tidak hanya diperoleh di dalam kelas. "Melalui kemitraan kami dengan Junior Achievement, FedEx bangga dapat membantu generasi muda Indonesia mendapatkan pengalaman langsung di dunia bisnis. Kami berkomitmen untuk mempersiapkan generasi berikutnya agar dapat sukses dalam perekonomian global," tuturnya. 

Percaya Diri Berinovasi, tapi Kurang Nyaman Tanpa Rutinitas

Survei menunjukkan tingkat kepercayaan diri anak muda Indonesia berada di atas rata-rata kawasan dalam sejumlah kemampuan yang dapat digunakan di berbagai jenis pekerjaan.

Sebanyak 78% responden Indonesia merasa percaya diri menghasilkan ide atau solusi baru, jauh di atas rata-rata Asia Pasifik yang sebesar 61%. Kemudian 72% yakin mampu mengambil inisiatif melakukan sesuatu yang baru tanpa harus menunggu instruksi, dibandingkan 60% di tingkat regional.

Dalam menghadapi perubahan, 73% responden Indonesia mengaku mampu beradaptasi dengan cepat ketika rencana berubah, sedangkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 62%. Sementara 69% merasa mampu bekerja dan mengambil keputusan secara mandiri tanpa banyak arahan, dibandingkan 59% di kawasan.

Namun kepercayaan diri tersebut memiliki batas. Hanya 43% anak muda Indonesia merasa nyaman bekerja dalam situasi tanpa rutinitas tetap, lebih rendah dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 56%.

Perbedaan itu mengindikasikan bahwa kemampuan beradaptasi yang dirasakan responden belum selalu berbanding lurus dengan kenyamanan ketika menghadapi lingkungan kerja yang tidak terstruktur.

Perlu dicatat, hasil studi tersebut berbasis penilaian responden terhadap kemampuan dirinya sendiri, bukan tes kompetensi langsung. Karena itu, tingginya angka kepercayaan diri tidak otomatis berarti kemampuan tersebut telah teruji dalam lingkungan profesional.

anak muda, frugal living
Gaya hidup hemat atau frugal living kini semakin populer di kalangan generasi muda Indonesia. Penampilan yang clean, bersih, simple itu dinilai keren. dok. Periskop.id/ AI generated

95% Nilai Pola Pikir Wirausaha Berguna di Semua Pekerjaan

Cara anak muda Indonesia memandang kewirausahaan juga menonjol. Sebanyak 95% responden menilai pola pikir kewirausahaan dapat membantu seseorang sukses dalam pekerjaan apa pun, sedangkan rata-rata Asia Pasifik hanya 85%.

Hal tersebut tidak berarti seluruh responden ingin menjadi pengusaha. Pola pikir kewirausahaan dalam studi mencakup kemampuan mengambil inisiatif, memecahkan masalah, melihat peluang, mengambil keputusan, dan beradaptasi dengan ketidakpastian.

Menariknya, keinginan memperoleh pengalaman praktis tidak membuat anak muda Indonesia kehilangan kepercayaan terhadap sekolah dan perguruan tinggi.

Mereka memperkirakan pendidikan formal akan memberikan sekitar 81% bekal yang dibutuhkan untuk membangun karier, lebih tinggi dibandingkan penilaian responden Asia Pasifik yang rata-rata sebesar 69%.

Dengan demikian, tuntutan terhadap pengalaman kerja lebih banyak dapat dibaca sebagai keinginan melengkapi pendidikan formal, bukan menggantikannya.

Kondisi tersebut sejalan dengan pandangan pemerintah mengenai perubahan kebutuhan tenaga kerja. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli sebelumnya menilai dunia kerja semakin mengutamakan kemampuan yang relevan dengan perkembangan industri.

“Kepada generasi muda, stay relevant dan terus upgrade skill Anda karena dunia kerja masa depan mencari skill, not school,” kata Yassierli pada Juli 2026.

Kementerian Ketenagakerjaan juga mendorong magang sebagai salah satu sarana menjembatani pengetahuan akademik dengan pengalaman profesional. Pada Mei 2026, Yassierli menyebut dunia kerja membutuhkan bukan hanya pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman, pemahaman budaya kerja, dan kemampuan beradaptasi.

84% Yakin Bakal Bekerja Berdampingan dengan AI

Kesenjangan lain muncul dalam kesiapan menghadapi kecerdasan buatan atau AI.

Sebanyak 84% anak muda Indonesia percaya mereka akan perlu bekerja berdampingan dengan AI dalam karier. Namun, hanya 70% yang merasa pendidikan saat ini telah mempersiapkan mereka menggunakan teknologi tersebut dalam lingkungan kerja nyata.

Responden Indonesia juga lebih banyak menempatkan keterampilan digital dan teknologi sebagai prioritas kurikulum, yakni 18%, dibandingkan rata-rata Asia Pasifik yang sebesar 12%.

Di tingkat kawasan, pembelajaran AI justru paling banyak dilakukan melalui eksperimen secara mandiri, dengan porsi 42%. Kondisi tersebut menunjukkan anak muda tidak sepenuhnya menunggu sekolah atau universitas untuk mengenal teknologi baru.

Perubahan itu relevan dengan proyeksi World Economic Forum (WEF). Dalam Future of Jobs Report 2025, perusahaan yang disurvei untuk profil Indonesia memperkirakan sekitar 36% keterampilan inti pekerja akan berubah hingga 2030. AI, digitalisasi, dan otomatisasi menjadi bagian penting perubahan tersebut.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie juga sebelumnya meminta generasi muda melihat perkembangan AI sebagai peluang, bukan sekadar ancaman terhadap pekerjaan. 

Kemnaker Resmi Luncurkan Program Magang Nasional 20 Oktober 2025
Ilustrasi peserta Program Magang Nasional 2025 diterima perusahaan peserta program. Periskop/Rendi Widodo

Tahu Perdagangan Global Penting, tapi Belum Banyak Dipelajari

Kesenjangan serupa terlihat dalam pengetahuan mengenai perdagangan internasional.

Sebanyak 94% responden Indonesia percaya memahami bagaimana bisnis beroperasi di berbagai negara akan relevan dengan karier mereka. Namun, hanya 69% yang mengatakan sekolah atau universitasnya telah memberikan pemahaman mengenai bagaimana perdagangan lintas negara berlangsung.

Temuan tersebut menjadi salah satu alasan FedEx dan JA mendorong lebih banyak pembelajaran berbasis praktik. Studi diluncurkan bertepatan dengan 20 tahun program FedEx/JA International Trade Challenge (ITC), yang sejak 2007 telah menjangkau lebih dari 54.000 pelajar di Asia Pasifik.

Pada penyelenggaraan 2026, lebih dari 4.000 pelajar dari delapan pasar mengikuti kompetisi, dengan 48 siswa mencapai babak final Asia Pasifik di Singapura. Salah satu tim gabungan siswa Indonesia dan Korea Selatan kemudian keluar sebagai pemenang melalui rancangan solusi pelindung panas berbahan limbah kemasan.

Masuk Dunia Kerja Tetap Penuh Tantangan

Tingginya rasa percaya diri anak muda juga perlu dilihat bersama kondisi pasar tenaga kerja. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah angkatan kerja Indonesia pada Mei 2026 mencapai 155,41 juta orang, sedangkan jumlah penduduk bekerja sebanyak 148,19 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di 4,65%, turun tipis dari 4,68% pada Februari 2026.

Sementara pada tingkat Asia Pasifik, persoalan pengangguran anak muda masih jauh lebih berat dibandingkan populasi dewasa. ILO sebelumnya memperkirakan tingkat pengangguran pemuda kawasan berada di kisaran 13,7% pada 2025.

President and Chief Executive Officer JA Asia Pacific Vivek Kumar menilai, pengalaman langsung menjadi salah satu faktor penting untuk memperkecil kesenjangan antara kemampuan anak muda dan kebutuhan perusahaan.

“Temuan paling menarik dari studi ini adalah bahwa anak muda menginginkan lebih banyak kesempatan untuk mengenal dunia kerja dan mendapatkan pengalaman nyata," serunya. Sekadar informasi, saat ini, tingkat pengangguran anak muda di Asia Pasifik mencapai hampir 14%, jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat pengangguran orang dewasa, sementara kesenjangan dalam adopsi AI juga terus melebar. "Kita tidak bisa berasumsi bahwa bakat saja akan cukup bagi anak muda untuk meraih kesuksesan. Mereka membutuhkan kesempatan untuk membangun keterampilan praktis, meningkatkan kepercayaan diri, dan memahami bagaimana dunia kerja terus berkembang,” ujar Vivek Kumar.

Secara keseluruhan, temuan FedEx-JA menunjukkan anak muda Indonesia bukan kekurangan kepercayaan diri. Tantangannya justru berada pada bagaimana rasa percaya diri tersebut diterjemahkan menjadi pengalaman nyata, mulai dari magang, proyek industri, kewirausahaan, penggunaan AI secara bertanggung jawab hingga pemecahan persoalan yang tidak memiliki jawaban terstruktur.

Dengan dunia kerja yang berubah cepat, pendidikan formal tetap menjadi fondasi. Namun, sekolah, kampus, pemerintah, dan industri menghadapi pekerjaan rumah yang sama: memperpendek jarak antara apa yang dipelajari anak muda dengan apa yang benar-benar akan mereka hadapi ketika mulai bekerja.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai survei, Anak Muda, generasi muda, dan transformasi dunia kerja dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.