periskop.id - Media Survei Nasional (Median) merilis temuan terbaru mengenai tingkat kesadaran (awareness) masyarakat Indonesia terhadap pembentukan Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian terkait konflik Gaza, Palestina. Meskipun mayoritas publik mengaku telah mendengar isu yang digagas Presiden AS Donald Trump tersebut, pemahaman secara mendalam masih tergolong rendah.
“Dalam rentang waktu pengambilan data, survei menemukan ada 78,8% yang tahu adanya Dewan Perdamaian atau Board of Peace dengan berbagai level awareness,” kata Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, saat dikonfirmasi Periskop dalam rilis surveinya, Selasa (24/2).
Rico mengungkapkan, dari 78,8% responden yang mengetahui keberadaan BoP, hampir sebagian besar tidak memahami substansi kebijakan secara detail.
“Namun dari 78,8% yang tahu, ternyata hanya 31,2% yang mengetahui dengan detail, sementara ada 47,6% yang tahu atau pernah mendengar tetapi tidak mengetahui detailnya,” jelas Rico.
Sementara itu, kelompok masyarakat yang benar-benar asing dengan isu ini berada di angka 21,2%.
Hasil survei ini menggambarkan potret persepsi pengguna media sosial di Indonesia yang menjadi target pengambilan data. Secara rinci, berikut adalah persentase tingkat kesadaran publik terhadap bergabungnya Indonesia dengan BoP menurut survei Median:
- Pernah mendengar, tetapi tidak tahu detailnya: 47,6%
- Ya, pernah mendengar dan mengetahui dengan baik: 31,2%
- Tidak pernah mendengar sama sekali: 21,2%
Dalam survei tersebut, Median juga menggali apa yang pertama kali terlintas di benak publik secara spontan saat mendengar nama BoP. Hasilnya, publik memiliki beragam persepsi, mulai dari forum tandingan hingga taktik politik.
Berikut adalah lima hal utama yang terlintas di pikiran publik secara spontan:
- Tandingan PBB: 20,2%
- Menengahi Konflik Palestina dan Israel: 18,0%
- Forum Buatan Amerika/Trump: 17,8%
- Taktik Amerika & Israel Kuasai Gaza: 8,2%
- Forum Perdamaian untuk Dunia: 5,4%
Adapun persepsi publik lainnya saat mendengar nama BoP, yaitu upaya membangun kembali Gaza (4,8%), hingga kritik bahwa forum ini hanya “menghamburkan uang” (3,4%) dan “arahnya tidak jelas” (1,2%).
“Peta opini bisa digunakan oleh para stakeholder untuk melakukan repositioning langkah-langkah yang diperlukan,” jelas Rico, menanggapi dinamika pro-kontra yang masih terjadi di berbagai media.
Adapun survei ini dilakukan pada 10–14 Februari 2026 melalui kuesioner berbasis Google Form yang disebarkan kepada 1.200 sampel pengguna aktif media sosial di seluruh provinsi Indonesia. Median menargetkan pengguna aktif media sosial berusia 17–60 tahun ke atas. Hasil ini dimaksudkan untuk menggali persepsi pengguna media sosial sebagai bahan pertimbangan para pengambil kebijakan.
Tinggalkan Komentar
Komentar