Periskop.id - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengungkapkan program mandatori biodiesel yang kini telah mencapai campuran B50 memberikan manfaat besar bagi perekonomian nasional.

Salah satunya adalah penghematan devisa negara hingga Rp722,9 triliun karena berkurangnya impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Angka tersebut merupakan akumulasi dalam satu dekade, yakni 2015–2025.

Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP Zaid Burhan Ibrahim mengatakan, penggunaan biodiesel berbasis minyak sawit telah menggantikan sebagian kebutuhan solar sehingga Indonesia tidak perlu mengimpor seluruh kebutuhan bahan bakar tersebut.

"Ada penghematan devisa Indonesia karena program insentif biodiesel. Ada sekitar Rp722,9 triliun devisa Indonesia yang dihemat karena tidak harus membeli bahan bakar solar. Sebagian sudah dipenuhi oleh bahan bakar nabati," kata Zaid dalam media briefing di Kalimantan Tengah, Kamis (30/7).

Menurut Zaid, manfaat industri sawit tidak hanya dirasakan dari sisi penghematan devisa, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi daerah.

Ia menegaskan, pekebun sawit rakyat merupakan aktor utama dalam rantai pasok industri sawit nasional, bukan sekadar pelengkap. Karena itu, keberadaan industri sawit memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap berbagai sektor usaha.

"Fakta ini menunjukkan bahwa pekebun bukan hanya sekadar pelengkap industri sawit, tetapi merupakan aktor utama dalam rantai pasok sawit nasional. Dampaknya kemudian meluas ke berbagai sektor," ungkap dia.

Berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2025, industri kelapa sawit menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja, terdiri atas 9,7 juta tenaga kerja langsung dan 7,8 juta tenaga kerja tidak langsung.

Dari jumlah tenaga kerja langsung tersebut, sekitar 5,2 juta orang bekerja di perkebunan sawit rakyat, sedangkan 4,5 juta orang merupakan pekerja di perusahaan perkebunan milik negara maupun swasta.

Sementara itu, tenaga kerja tidak langsung tersebar di berbagai sektor pendukung, mulai dari jasa pengangkutan tandan buah segar (TBS) dan crude palm oil (CPO), penyedia pupuk dan alat perkebunan, industri pengolahan, logistik, perdagangan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Zaid menambahkan, di berbagai daerah sentra perkebunan sawit, kehadiran industri tersebut turut mendorong pembangunan infrastruktur, melahirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, memperkuat UMKM, serta meningkatkan produk domestik regional bruto (PDRB) dan pendapatan masyarakat.

"Karena itu, ketika kita bicara mengenai sawit, sesungguhnya kita sedang berbicara mengenai kesejahteraan jutaan masyarakat Indonesia," tutupnya.