Periskop.id - Harga minyak dunia terkoreksi pada perdagangan Kamis (30/7) pagi, setelah sebelumnya melonjak tajam. Brent turun 0,9% ke US$87,30 per barel, sedangkan WTI melemah 0,9% ke US$83,70 per barel.
Reuters melaporkan, pelemahan ini terjadi meski konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah semakin meluas. Kapal-kapal tanker minyak dilaporkan tetap beroperasi keluar dari kawasan tersebut, sehingga menahan lonjakan harga lebih lanjut.
"Semakin lama situasi ini berlangsung, semakin besar kemungkinan jalur dan metode alternatif tersebut mengurangi pengaruh Iran atas Selat Hormuz," ujar analis pasar IG Tony Sycamore dalam catatannya, Kamis (30/7).
Sycamore menerangkan, volume pengiriman minyak dari kawasan konflik memang masih di bawah normal. Namun menurutnya, pasokan tetap bisa keluar lewat berbagai jalur alternatif di luar Selat Hormuz.
Koreksi harga hari ini berbanding terbalik dengan pergerakan sehari sebelumnya. Brent sempat melonjak 7,91%, sementara WTI menguat 6,56%, salah satu lonjakan harian terbesar sepanjang konflik AS-Iran.
Lonjakan tersebut sekaligus membalikkan penurunan sekitar 5% pada Selasa (28/7), saat sempat muncul jeda dalam aksi permusuhan kedua negara.
Data awal pelayaran menunjukkan sebanyak 39 kapal komoditas melintasi Selat Bab el-Mandeb menuju Laut Merah pada Selasa, jumlah tertinggi sejak 19 Juli. Sebaliknya, hanya sedikit kapal yang melintas melalui Selat Hormuz.
Selat Hormuz dikenal sebagai jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewati jalur tersebut, namun sejak perang AS-Iran dimulai pada Februari, lalu lintas di kawasan itu sebagian besar terhambat meski upaya diplomatik terus berlangsung.
Pada Rabu (29/7), seorang pejabat senior Iran menyatakan Teheran menolak usulan Oman soal pengelolaan bersama Selat Hormuz secara regional.
Eskalasi juga meningkat setelah AS dan Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok paramiliter yang didukung Iran di Irak. Serangan ini menjadi kali pertama Arab Saudi secara terbuka bergabung dalam operasi udara bersama AS, sebagai balasan atas serangan pesawat nirawak terhadap fasilitas minyak Saudi yang diluncurkan dari Irak.
Serangan tersebut menandai dimulainya kembali operasi militer AS di Timur Tengah, setelah Presiden Donald Trump pada akhir pekan lalu sempat menghentikan kampanye pengeboman karena menipisnya persediaan amunisi.
Di sisi lain, Iran mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Yordania serta menghantam tiga kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz lewat jalur yang disebut tidak sah. Sejumlah sumber juga menyebut Arab Saudi tengah membentuk koalisi untuk melindungi jalur pelayaran di Laut Merah dari serangan kelompok Houthi.
Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman sebelumnya mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah pada 20 Juli. Langkah itu memperluas serangan terhadap kapal tanker dan mengganggu pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, jalur pengiriman minyak terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz.
Tinggalkan Komentar
Komentar